Kiat Memajukan Kesenian Jaranan Bojonegoro

oleh
FOTO: Calon Bupati Bojonegoro, Soehadi Moeljono.

SUARABOJONEGORO.COM – Kelompok seni jaranan di Bojonegoro belum mendapat perhatian serius dari Pemkab setmpat. Tidak ada pelatihan yang diberikan kepada para pelaku seni tradisional ini. Sekalipun setiap tahun dilaksanakan lomba jaranan untuk memeriahkan Hari Jadi Bojonegoro (HJB).

Kondisi ini tak luput dari perhatian pasangan calon bupati (Cabup) dan wakil bupati (Cawabup) Bojonegoro, Soehadi Moeljono dan Mitroatin. Pasangan yang dikenal masyarakat dengan sebutan “Mulyo – Atine” akan memberdayakan pelaku seni dan kelompok jaranan.

Program yang disiapkan diantaranya akan memberikan pelatihan, pembinaan, dan pendampingan agar kelompok seni tradisional ini maju dan berkembang. Selain itu juga membangunkan sarana prasana seperti seribu balai seni dan budaya di pedesan, agar mereka mudah berlatih dan mengembangkan kreativitasnya.

Seperti yang dilakukan Kelompok Jaranan Putro Ki Depro, asal Desa Klino, Kecamatan Sekar. Kelompok yang pernah menjuarai lomba Kesenian Jaranan tingkat kecamatanabupaten pada tahun 2017 lalu, itu melakukan pelatihan dan pembinaan sendiri kepada 45 anggotanya untuk mempertahankan eksistensi di tengah gerusan zaman.

“Itu pembinaan dan pelatihan kami lakukan sendiri rutin tiap tahun,” kata Ketua Jaranan Putro Ki Derpo, Edi Sumarno, kepada  wartawan, Rabu (18/4/2018).

Minat membentuk kelompok Jaranan ini muncul beberapa tahun lalu. Kemudian mengumpulkan anggota yang akhirnya membuat kelompok secara resmi sekitar tahun 2016.

“Ya lama sekali menggemari kesenian Jaranan, akhirnya bisa terbentuk juga,” ungkapnya.

Selama ini belum ada perhatian dari Pemkab Bojonegoro baik berupa pelatihan maupun pembinaan kepada kelompok Jaranan yang terdiri dari Pawang, tukang gamelan, dan penari.

“Inginnya juga ada pelatihan,” imbuhnya.

Pihaknya berharap kepada Pemkab Bojonegoro kedepan, lebih memperhatikan lagi kesenian Jaranan yang ada di Bojonegoro. Sampai sekarang Jaranan masih dibutuhkan saat ada acara hajatan warga seperti pernikahan, khitanan, dan lain sebagainya.

“Selain menambah keterampilan, juga membantu sarana dan prasarana yang ada,” tukasnya.

Kelompok ini belum memiliki perlengkapan seperti gamelan, dan lain sebagainya. Saat tampil mereka menyewa perlengkapan sehingga dinilai kurang maksimal.

“Kami sangta butuh perhatian, terlebih kesenian ini merupakan warisan budaya bangsa dan bisa menghibur masyarakat,” pungkasnya.

Sementara Ketua Kelompok Jaranan Putra Bhirawa, Desa Jono, Kecamatan Temayang, Priyatin, mengaku, bersama 35 anggotanya telah memberikan pertunjukan Jaranan sejak tahun 1980 silam.

“Dari semua anggota itu, hanya beberapa saja yang seangkatan dengan saya. Lainnya diisi anak-anak muda,” ujar pria 58 tahun ini.

Kelompok ini belum mendapatkan perhatian dari pemerintah selama berkiprah di kesenian tradisional. Baik itu pembinaan, pelatihan, maupun bantuan lainnya.

“Hanya satu kali di tahun 2004 menang lomba. Sejak sepuluh terakhir sudah tidak ada lomba lagi,” kata pria asal Desa Jono, Kecamatan Temayang ini.

Menurutnya, kesenian Jaranan ini telah memberikan warna khas sebagai wajah budaya bangsa yang perlu dilestarikan dan dijaga. Oleh sebab itu, untuk mempertahankan kelestarian seni ini, mereka secara mandiri meningkatkan keterampilan para anggotanya.

“Saya sendiri yang berusaha selama ini, pernah mengajukan bantuan juga belum ada respon dari Pemkab Bojonegoro,” tegasnya.

Dia berharap, Bupati terpilih mendatang memperhatikan keberadaan seni Jaranan terlebih yang sudah ada selama bertahun-tahun lamanya.

“Kami mohon, sebagai pelaku seni di Bojonegoro ini untuk diperhatikan. Karena juga mengangkat nama Bojonegoro,” pungkasnya.

Data di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro, jumlah kelompok kesenian Jaranan kurang lebih 33 kelompok yang tersebar di kecamatan. Semua kelompok ini diberikan pelatihan dan pendampingan baik berupa sertifikasi kepada para penari dari berbagai tingkatan, pengiriman duta di tingkat provinsi, dan lain sebagainya.

“Banyak sekali dukungan kami terhadap seni dan budaya di Bojonegoro termasuk jaranan. Termasuk melibatkan mereka dalam acara-acara tertentu,” sambung Kepala Disbudpar Bojonegoro, Amir Syahid, dikonfirmasi terpisah.

Sementara itu, Cabup Soehadi Moeljono menyatakan, kesenian jaranan memiliki nilai jual jika diberdayakan dengan maksimal. Oleh sebab itu, kedepan pihaknya akan memberikan pelatihan dan pembinaan serta dukungan sarana prasarana agar kesenin ini maju dan berkembang.

“Kita akan siapkan seribu balai beserta peralatannya untuk memudahkan mereka mengembangkan kreatifitasnya, sehingga menjadi pelaku seni yang professional sehingga bisa turut serta membangun seni dan budaya Bojonegoro,” pungkas mantan Sekda Bojonegoro yang sudah 32 tahun mengabdikan diri sebagai PNS di Pemkab ini. (*/red)