Reporter : Waluyo Wahyu Utomo
SuaraBojonegoro.com – Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Bojonegoro mengalokasikan anggaran sebesar Rp73.335.238.608 untuk pelaksanaan Program Gerakan Beternak Ayam Petelur Mandiri (GAYATRI) Tahun 2026. Pengadaan perlengkapan dalam program tersebut melibatkan 14 penyedia melalui sistem e-katalog. Kamis (20/08/2026).
Program GAYATRI ditujukan bagi keluarga prasejahtera sebagai salah satu upaya pemerintah daerah dalam mendukung pengentasan kemiskinan, ketahanan pangan, serta pencegahan stunting.
Kepala Bidang Peternakan Disnakkan Bojonegoro, drh. Indra Firmansyah, membenarkan adanya 14 penyedia yang terlibat dalam pengadaan Program GAYATRI. Ke-14 penyedia tersebut yakni Baladhika Karya Wisesa, Berlian Muda Sejahtera, Djadi Djaya, Bojonegoro Raya, Insan Utama, Tofan Wijaya, Lima Putra, He Vindo Abadi Mulya, Jaya Karya, Adem Baswara Group, Tugas Langit, Pitaloka, Luasan Raya, dan Djava Wira Perkasa.
“Ya mas. Proses pengadaan melalui e-katalog,” ujar Indra Firmansyah kepada media ini.
Menurutnya, pembagian pengadaan tersebut dilakukan oleh sejumlah penyedia dengan rincian enam penyedia untuk pengadaan 8.800 unit kandang, lima penyedia untuk 237.600 ekor ayam petelur, dan tiga penyedia untuk pengadaan 1.760.000 kilogram pakan ayam petelur.
“Enam penyedia untuk pengadaan 8.800 unit kandang, lima penyedia untuk pengadaan 237.600 ekor ayam petelur, dan tiga penyedia untuk pengadaan 1.760.000 kilogram pakan ayam petelur,” jelasnya.
Sementara itu, proses distribusi bantuan kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM) telah berjalan. Kandang telah didistribusikan kepada KPM yang sebelumnya mengikuti bimbingan teknis (bimtek). Hingga saat ini, distribusi kandang disebut telah mencapai 65 persen dari total KPM dan telah dikirim hingga ke rumah masing-masing penerima bantuan.
“Kandang sudah terdistribusi sampai dengan rumah masing-masing KPM sejumlah 65 persen dari total KPM,” kata Indra.
Indra berharap pelaksanaan Program GAYATRI pada tahun kedua dapat memberikan tambahan penghasilan bagi masyarakat penerima manfaat. Menurutnya, ayam petelur yang diberikan dalam program tersebut merupakan aset produktif yang dapat menghasilkan pendapatan secara berkelanjutan.
“Harapan program GAYATRI di tahun kedua ini bisa menambah penghasilan masyarakat, dimana bantuan yang diberikan berupa ayam petelur merupakan aset produktif,” ujarnya.
Produk turunan dari usaha ayam petelur memiliki tingkat likuiditas yang tinggi karena relatif mudah dipasarkan dan memiliki perputaran hasil yang cepat. Bahkan, usaha tersebut memungkinkan KPM memperoleh penghasilan setiap hari.
“Produk hasil turunannya mempunyai likuiditas tinggi dalam arti pemasaran mudah, perputaran hasil cepat. Bahkan untuk ayam petelur bisa mendapatkan penghasilan harian, serta perawatan mudah dan bisa sebagai sampingan,” jelasnya.
Meski demikian, Indra mengingatkan KPM agar mampu mengelola hasil penjualan dari usaha tersebut. Pengelolaan hasil penjualan, khususnya telur, dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan sekaligus mengembangkan usaha ternak.
“Yang perlu diperhatikan oleh KPM untuk bisa memanajemen hasil penjualan produk turunan, terutama telur, untuk memastikan keberlanjutan dan pengembangan usaha ternak, khususnya untuk pembelian pakan dan penggantian ayam ketika sudah memasuki masa afkir,” pungkasnya. (Why/Red)








