Cerita Karmuji Saat Mencari Gelam

oleh

SUARABOJONEGORO.COM – Kulit luar kayu jati atau yang dikenal dengan sebutan gelam oleh masyarakat Bojonegoro, merupakan salah satu bahan dinding atau atap rumah supaya terkesan klasik dan artistik. Untuk mencarinya membutuhkan keahlian khusus.

Angin musim kemarau di Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kecamatan Dander terasa sejuk. Meski sinar matahari terasa terik. Batang pohon kayu jati tampak coklat kehitaman, terlihat kering dan ranting pohon tak berdaun.

Dari kejauhan, terlihat pria bertopi diatas pohon jati setinggi 15 meter sedang mengelupas kulit luar pohon hati. Linggis sepanjang setengah meter menancap di pohon jati. Perlahan linggis diayunkan. Sedikit demi sedikit, kulit luar pohon jati itu terkelupas dan jatuh tepat di bawahnya.

Gelam yang di hasilkan itu sepanjang 180 centimeter (cm), lebar 25 centimeter dan tebal 0,5 centimeter. Gelam tersebut berwarna coklat kehitaman (tampak luar). Namun jika dilihat dari dalam (tampak dalam) gelam berwarna coklat muda dan sedikit berserabut.

“Saya mencari gelam sudah 15 tahun,” kata Karmuji, pencari gelam asal Desa Sambirejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro.

Pria berumur 40 tahun itu mengahabiskan waktu dua jam berdiri di dahan pohon jati untuk mengelupas kulit luar kayu jati atau gelam itu. Selama itu, Karmuji hanya mendapat 2 hingga 3 lembar gelam. Setelah itu, pelan-pelan ia turun dari pohon untuk istirahat sejenak.

“Tenaganya memang harus ekstra,” ujarnya sembari mengusap keringat di wajahnya.

Keringat bercucuran keluar dari tubuh dan wajahnya. Sesekali Karmuji mengusap keringat saat istirahat di bawah pohon jati yang teduh. Beberapa botol air putih menjadi teman setia melepas dahaga. Pria berkulit coklat itu seseklai memandangi pohon jati yang gundul.

“Paling setelah 15 menit istirahat, kembali lagi manjat pohon,” kata Karmuji.

Ia mengaku sudah 15 tahun mencari gelam di berbagai hutan di Bojonegoro. Pohon jati yang ia cari bukan pohon jati yang masih hidup. Melainkan pohon jati yang di teres atau pohon jati yang sudah tidak tumbuh.

Pohon jati itu berwarna coklat kehitaman, dahan dan ranting tak berdaun alias gundul. “Pohon jati yang sudah di teres yang boleh di kuliti,” ujarnya sembari menunjuk salah satu pohon yang sudah ditereskan.

Pohon yang diteres terlihat gundul dan di pohon bagian bawah ada bekas kapak sedalam 1 centimeter melingkar mengelilingi pohon jati. Sedangkan pohon yang tidak di teres terlihat berdaun. Daunnya berkerumun berwara hijau muda.

Pria beranak dua itu mengaku mendapat 25 hingga 30 lembar gelam per hari. Alat-alat yang digunakan mencari gelam cukup sederhana. Seperti kapak, linggis dan sabit.

Kapak untuk menandai panjang gelam yang akan diambil. Sementara linggis untuk mencongkel gelam. Sedangkan sabit untuk menghaluskan sisi (tebal) gelam.

“Kebanyakan yang pesan gelam adalah warga Kecamatan Kalitidu dan Kecamatan Ngasem Bojonegoro,” ujar Karmuji.

Mencari gelam membutuhkan skil khusus. Artinya, ketika seseorang baru mencari gelam. Pastilah bakal kebingungan mencari dan memilih kualitas gelam yang bagus.

“Tapi kalau sudah pengalaman. Hanya dengan melihat bisa mengetahui kualitas gelam yang bagus. Jadi tidak semua gelam di ambil,” kata dia.

Harga perlembar gelam hanya Rp 4.000. Per lembar panjangnya 180 centimeter (cm), lebar 25 centimeter dan tebal 0,5 centimeter. Gelam digunakan untuk dinding rumah dan plafon rumah. Sehingga rumah berdinging gelam terlihat kalsik dan mewah.

“Pembeli dari luar daerah belum ada,” katanya.

Sebelum di jual, bagian gelam yang kasar dihaluskan dengan sabit dan amplas. Lalu dikeringkan di bawah panas terik matahari selama dua hari. Tujuannya agar gelam tidak berjamur. Hasilnya gelam tampak berwarna coklat muda. Setelah itu baru di jual.

“Kebanyakan pembeli digunakan untuk dinding rumah,” ucap Karmuji.

Pria berkumis itu mengatakan, gelam tidak mengenal musim. Yang jelas ketika ada pohon jati teresan, dia bakal mengambil gelam. Selain mencari gelam di kawasan hutan Kecamatan Dander Bojonegoro Jawa Timur. Karmuji juga mencari gelam di kawasan hutan di Kecamatan Sekar Bojonegoro Jawa Timur.

“Untuk membawa pulang, di angkut menggunakan sepeda motor,” ujarnya.

Setiap harinya di KPH Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur, tidak banyak yang mengambil gelam. Hanya dua hingga tiga orang. Mencari gelam merupaka mata pencaharian Karmuji. Hasil penjualan gelam digunakan untuk kebutuhan sehari hari.

“Kami berharap kualitas gelam yang kami hasilkan semakin berkualitas dan bertambah banyak pembelinya,” tutup Karmuji. (yud)

 

Reporter : Wahyudi