Cara MulyoAtine Melestarikan Sandur

oleh

SUARABOJONEGORO.COM – Minat generasi muda Bojonegoro terhadap kesenian Sandur sekarang ini mengalami peningkatan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Setelah kesenian tradisional ini dikenalkan ke sekolah-sekolah.

Sayangnya tumbuhnya minat ini tidak ditunjang dengan pembinaan, maupun kelengkapan sarana prasarana dari Pemkab setempat. Mereka berjibaku sendiri agar kesenian ini tidak punah.

Kondisi inilah yang ditangkap pasangan Calon Bupati (Cabup) dan Wakil Bupati (Cawabup) Bojonegoro, Soehadi Moeljono dan Mitroatin, untuk menyiapkan program di bidang kesenian dan budaya agar warisan leluhur itu tetap lestari dan berkembang.

Pasangan yang dikenal masyarakat dengan sebutan “Mulyo – Atine” ini akan memberikan pembinaan secara berkelanjutan, dan membangun seribu balai seni dan budaya, sebagai wahana untuk mengembangkan kreatifitasnya.

Pembina Teater Awu, Agus Sihgro Budino, menceritakan, kesenian Sandur mulai dikenal dekat masyarakat sejak lima tahun terakhir. Kesenian ini sempat mati suri pada masa orde baru yang melarang pertunjukan.  Pemerintah kemudian melakukan revitalisasi kebudayaan nasional termasuk Sandur.

“Saat itulah, saya mulai ikut berlatih bersama kawan-kawan lainnya,” ujar pria yang terjun ke dunia Sandur sejak 1989, kepada wartawan, Kamis (19/4/2018).

Bersama pelaku seni lainnya, dia kemudian mengembangkan dengan melatih generasi muda untuk mengenal, dan mempelajari lebih jauh kesenian yang dulu dikenal dengan “magis” nya. Bojonegoro kini telah memiliki seniman-seniman Sandur professional.

“Sekarang kita kemas berbeda dengan mengeksplore yakni menggabungkan teater modern,” jelas Guru Kesenian di SMKN 2 Bojonegoro.

Jika dulu Sandur ditampilkan selama tujuh jam lebih, sekarang ini hanya cukup tiga puluh menit sampai satu jam. Itu sudah mencakup semua pesan, dan kesan yang diberikan.

“Kelompok teater saya, hampir keliling kota dan kabupaten di Jawa Timur untuk menampilkan Sandur ini,” tandas seniman kawakan ini.

Penggabungan Sandur dalam teater modern menjadikan minat generasi muda meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya.

“Saya dan teman-teman seniman di Bojonegoro terus mempopulerkan kesenian Sandur melalui teater modern baik di sekolah-sekolah maupun khalayak,” tandasnya.

Diakui, dukungan Pemkab melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) setempat terhadap kesenian rakyat yang hampir punah ini tidak pernah ada. Baik dalam pembinaan maupun pendampingan pada seniman Sandur.

“Mereka hanya memanfaatkan potensi seniman Sandur untuk pementasan, misalnya saat di TMII di Jakarta tahun lalu. Setelah itu selesai, tidak ada tindak lanjutnya,” tandasnya.

Meskipun kesenian Sandur bukan khas Bojonegoro, namun dengan semangat para seniman mempertahankan kesenian ini seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah.

“Di kabupaten lain itu, Sandur sudah mati. Yang hidup itu hanya di Bojonegoro,” tegasnya.

Dia berharap, Pemkab ke depan memberikan perhatian untuk kesenian Sandur yang merupakan identitas diri sebagai kesenian Bojonegoro.

“Perhatian itu misalnya, menyediakan infrastruktur seperti gedung kesenian atau juga sebuah pembinaan baik dari proses awal sampai menjadi profesional,” pungkasnya.

Senada disampaikan seniman Bojonegoro, Eko Peye. Dia mengaku, sudah mengenal kesenian ini sejak lima tahun terakhir. Awalnya, di Kelurahan Ledok Kulon terdapat sebuah sanggar Sandur yang diikuti oleh beberapa seniman Bojonegoro.

Namun, karena lambat laun peminatnya menurun, dan tokoh-tokohnya banyak yang meninggal, sanggar tersebut kemudian mati suri.

“Waktu itu, saya sama Almarhum Mas Nun menghidupkan kembali seni Sandur dengan versi baru atau dinamakan Sandur pengembangan,” ujarnya.

Perkembangan Sandur sendiri sekarang ini mulai mengalami peningkatan. Upayanya mempromosikan bersama seniman Sayap Jendela di seluruh sekolah menampakkan hasil.

“Kami terus mensosialisasikan sandur ke semua sekolah dari SD sampai Perguruan Tinggi,” tandasnya.

Jika dulu orang melihat Sandur dekat dengan hal-hal mistis, sekarang sudah tidak lagi. Karena bersama seniman Bojonegoro telah mengemas Sandur menjadi sebuah tontonan berupa teater murni yang menarik.

“Kalau sandur yang dulu semalam suntuk, sekarang cukup satu sampai dua jam saja,” lanjutnya.

Alur cerita yang dibuat juga mengikuti perkembangan zaman atau selalu update sehingga lebih mengena di hati masyarakat.

“Minat remaja di Bojonegoro juga sudah lumayan banyak, karena melalui ekstra kurikulernya juga banyak yang ikut kesenian ini,” tandasnya.

Hanya saja belum ada dukungan apapun dari Pemkab. Artinya, ketika ada sanggar yang melatih Sandur, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bojonegoro hanya sekedar mencomot saja.

“Kalau Pemkab punya event besar butuh Sandur, kita ditanggap. Setelah itu tidak ada upaya pengembangannya,” tegasnya.

Pihaknya berharap, Pemkab kedepan bisa memberikan sebuah pengembangan pada kesenian Sandur. Mulai pendampingan baik secara proses, secara finansial, kemudian bagaimana mengembangkannya.

“Artinya, ketika sanggar berdiri itu membutuhkan sesuatu juga. Sanggar bukan wilayah profit, tapi wilayah pengembangan dan edukasi kesenian tradisional,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Disbudpar Bojonegoro, Amir Syahid, menegaskan, telah memberikan pelatihan dan pendampingan kepada semua kelompok seni dan budaya, termasuk Sandur.

“Kami juga, memberikan kartu induk yang memiliki fungsi mempermudah izin saat mereka tampil di suatu tempat,” jelasnya.

Menanggapi hal itu, Cabup Soehadi Moeljono, menyatakan kedepan Bojonegoro memerlukan seniman-seniman yang profesional untuk melestarikan, dan mengembang kesenian tradisional di Bojonegoro. Oleh karena itu kedepan pihaknya akan memberikan pendampingan secara berkelanjutakan. Melalui itu akan memunculkan regenerasi pelaku seni, agar kesenian rakyat ini tidak punah ditelan jaman.

“Kita juga akan membangun seribu balai seni dan budaya di pedesaan, agar menjadi tempat belajar seniman dan budayawan mengembangkan diri meningkatkan kreatifitasnya,” tegas cabup yang berpasangan dengan Kader NU ini. (*/red)