Oleh : Ibnu Khakim, MHI *)
SuaraBojonegoro.com – Pesta demokrasi 2024 sudah di depan mata, hari-hari ini memasuki tahapan kampanye, naiknya tensi sangat dirasakan oleh semua warga dialirkan melalui informasi dunia maya atau sosial media, hampir semua warga terlibat dan merasa perlu ’tanam saham’ terhadap pasangan calon yang didukungnya, entah itu sekedar euforia atau memang punya harapan lebih pasca jagonya menang dan menjadi Kepada Daerah. Fenomena ini menimpa seluruh lapisan masyarakat, tidak terkecuali Pondok Pesantren yang mempunyai dua kekuatan yakni Kyai dan Santri, yang secara fitrah dan thobi’ah kewajiban pokok mereka adalah mengajar dan belajar (ngaji).
Dalam kitab Adab al-Alim wa al-Muta’allim, Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari mengawali pembahasan dengan ulasan tentang keutamaan ilmu, ulama, belajar, dan mengajarkan ilmu. Beliau memaparkan beberapa dalil Al-Qur’an dan al-Hadits serta pernyataan para sahabat Nabi dan ulama yang menjelaskan hal itu. Tentang keutamaan ulama, di antaranya beliau mencantumkan ayat Al-Qur’an: “Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu” (QS Al-Mujadalah ayat 11).
Menurut beliau, alasan Allah mengangkat derajat para ahli ilmu adalah karena mereka dapat mengaplikasikan ilmu mereka dalam kehidupannya. Beliau memberikan tafsir (interpretasi) ayat di atas sebagai berikut: “Maksudnya Allah mengangkat derajat ulama dari kalian sebab mereka mampu menggabungkan ilmu dan amal.” Selanjutnya KH Hasyim Asy’ari menjelaskan selisih derajat ulama dibandingkan orang Muslim pada umumnya dengan mengutip sabda Sahabat Ibnu ‘Abbas: “Para ulama mempunyai derajat yang lebih tinggi daripada orang-orang mukmin pada umumnya dengan selisih 700 derajat dan di antara dua derajat terpaut selisih 500 tahun.” Apa yang disampaikan KH Hasyim Asy’ari ini senada dengan penjelasan al-Habib Zain bin Ibrahim bin Smith dalam kitab al-Manhaj al-Sawi. Habib Zain menjelaskan alasan terpautnya selisih derajat yang sangat jauh antara orang berilmu dan selainnya dalam statemen beliau sebagai berikut:. “Aku berkata. Demikian itu karena ilmu adalah asasnya ibadah-ibadah dan sumber beberapa kebaikan, sebagaimana kebodohan adalah pangkal setiap keburukan dan sumber seluruh musibah” (al-Habib Zain bin Ibrahim bin Smith, al-Manhaj al-Sawi, hal. 77).
Hadratussyekh selanjutnya mengutip ayat “Allah, para malaikat dan orang-orang yang berilmu bersaksi bahwa tiada tuhan selain-Nya.” (QS Ali Imran ayat 18). Dalam ayat tersebut Allah Swt telah mengawali dengan penyebutan Allah sendiri, selanjutnya menyebutkan para malaikat-Nya dan terakhir menyebutkan para ahli ilmu, penyebutan ini sangat cukup untuk menyimpulkan bahwa ulama memiliki kedudukan yang tinggi di sisi-Nya. KH Hasyim Asy’ari menegaskan bahwa ada dua ayat yang menunjukan bahwa ulama adalah makhluk Allah terbaik. Pertama firman Allah: “Hamba Allah yang takut kepada Allah hanyalah para ulama” (QS Fathir ayat 28). Kedua firman Allah dalam surat al-Bayyinah: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, merekalah makhluk yang terbaik” (QS Al-Bayyinah ayat 7). Setelah mengutip dua ayat di atas, Hadratussyekh memberi kesimpulan: “Dua ayat di atas menuntut bahwa para ulama adalah mereka yang takut kepada Allah, orang-orang yang takut kepada Allah adalah makhluk terbaik. Maka menyimpulkan bahwa para ulama adalah makhluk terbaik.” beliau juga mendasari pendapatnya tentang keutamaan ulama dengan beberapa hadits Nabi, di antaranya: “Barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Allah Swt, maka Allah akan memberikan pemahaman kepadanya dalam permasalahan agama.” (HR al-Bukhari dan Muslim). Dalam hadits lain disebutkan “Para ulama merupakan pewaris para Nabi.” (HR al-Tirmidzi dan lainnya). beliau mengungkapkan bahwa derajat sebagai pewaris para nabi yang disebutkan dalam hadits memberikan indikasi kuat bahwa ulama memiliki kedudukan yang sangat agung dan mulia, bahkan merupakan derajat yang terbaik sepeninggal para Nabi Saw. Beliau menyampaikan kesimpulan tersebut dengan argumentasi sebagai berikut: “Ketika tidak ada derajat yang lebih mulia daripada derajat kenabian, maka tidak ada kemuliaan yang dapat mengalahkan kemuliaan para pewaris derajat kenabian tersebut (yaitu para ulama).” Dalam riwayat lain disebutkan, “Barangsiapa berangkat di pagi hari untuk mencari ilmu, malaikat memintakan ampunan untuknya dan diberkahi hidupnya” (HR Abu Umar al-Qurthubi). Riwayat lain menyebutkan “Barangsiapa yang bergegas pergi ke Masjid dalam keadaan tidak menginginkan kecuali untuk belajar ilmu maka ia akan mendapatkan pahala layaknya pahala orang yang berhaji secara sempurna” (HR al-Thabrani). Kedekatan orang alim dan pembelajar diibaratkan Nabi seperti dua jari telunjuk dan jari tengah, keduanya saling menempel, derajat mereka berdua jauh meninggalkan manusia yang lain. Dalam sebuah riwayat Nabi bersabda “Orang alim dan pembelajar layaknya jari ini dan jari yang ini (beliau mengumpulkan antara jari telunjuk dan jari tengah yang berada di sampingnya), keduanya bersekutu dalam pahala, tiada kebaikan untuk segenap manusia selain kedua orang tersebut” (HR Ibnu Majah, Abu Nu’aim dan lainnya). Nabi berpesan agar umatnya tidak melepaskan diri dari salah satu lima status, yaitu ahli ilmu, pembelajar, pendengar dan pecinta mereka.
Pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah 2024 seharusnya menjadi ajang memberikan pendidikan politik pada warga, tanpa meninggalkan tugas pokok mereka sehari-hari. Sebagaimana kyai terdahulu, selain mengajarkan ilmu agama (tafaqquh fiddin) kepada murid atau santrinya dan memberikan layanan dalam berbagai kepentingan umat (ri’ayatul ummah), juga menanamkan tanggung jawab kebangsaan untuk menciptakan rumah besar yang dihuni oleh anak cucu mereka, yaitu NKRI. Dalam buku Etika Nikomakea oleh Aristoteles disampaikan bahwa “politisi sangat berhati-hati untuk mengambil posisi dalam perenungannya terhadap kebahagiaan, karena ia ingin menjadikan warga baik dan taat hukum”.
Semoga momentum pesta demokrasi tahun ini dan selanjutnya menjadikan para Kyai semakin arif dan bijaksana, tetap berpartisipasi aktif, namun tidak sampai meninggalkan tugas pokoknya sebagai pengajar, pendidik untuk para santri, dan menjadi pengayom dan pelayan untuk masyarakat.
*) Penulis _Ibnu Khakim, MHI, _Intelektual Muda dan Instruktur NU, Dosen dan Pengasuh Pesantren Salafiyah Raudlatul Muslimin yang berdomisili Desa Sumberarum Kecamatan Ngraho Kabupaten Bojonegoro.








