Mekarnya Anggrek Langka Dendrobium capra Sambut Kedatangan Asesor UNESCO Global Geopark di Hutan Jati Gondang

SuaraBojonegoro.com – Momen istimewa mewarnai kunjungan tim asesor UNESCO Global Geopark (UGGp), Andreas J. Schuller dari Jerman dan Li Yue dari Tiongkok, ke Biosite Hutan Jati Gondang, Kabupaten Bojonegoro. Di tengah rimbunnya tegakan jati, anggrek endemik Pulau Jawa Dendrobium capra atau Larat Hijau tampak bermekaran, sebuah fenomena langka karena spesies tersebut hanya berbunga sekali dalam setahun.

Kemunculan bunga langka itu tepat saat proses asesmen lapangan berlangsung menjadi daya tarik tersendiri. Bagi para pegiat konservasi, mekarnya Dendrobium capra bukan sekadar keindahan alam, tetapi juga menjadi simbol terjaganya keseimbangan ekosistem. Alam seolah menunjukkan sendiri kualitas lingkungan yang selama ini dijaga melalui pengelolaan Geopark Bojonegoro.

Biosite Hutan Jati Gondang merupakan satu dari dua biosite yang masuk dalam agenda kunjungan lapangan asesor UNESCO Global Geopark. Kawasan ini dipilih karena merepresentasikan karakter vegetasi khas Zona Kendeng di bagian selatan Geopark Bojonegoro, sekaligus menggambarkan keterkaitan erat antara geologi, keanekaragaman hayati, dan kehidupan masyarakat sebagai tiga pilar utama UNESCO Global Geopark.

Keunggulan Hutan Jati Gondang tidak hanya terlihat dari hamparan tegakan jatinya yang luas, tetapi juga dari kualitas kayu jati Bojonegoro yang telah lama dikenal sebagai salah satu yang terbaik di Indonesia. Keistimewaan tersebut merupakan hasil perpaduan proses geologi dan kondisi iklim yang berlangsung selama jutaan tahun.

Hutan ini tumbuh di atas Formasi Klitik yang tersusun dari material vulkanik gunung api purba bercampur batuan pasir karbonatan. Kombinasi kedua material tersebut menghasilkan tanah kaya mineral, terutama kalsium, yang mendukung pertumbuhan batang jati menjadi lebih kuat dan padat. Sementara itu, iklim Bojonegoro yang relatif kering membuat pertumbuhan pohon berlangsung lebih lambat sehingga membentuk lingkaran tahun yang rapat. Perpaduan kedua faktor tersebut menghasilkan kayu jati berkualitas tinggi yang telah diakui sejak lama.

Baca Juga:  Kembangkan Geopark, Asisten II Pemkab Bojonegoro Ajak Mahasiswa Unigoro Transfer Knowledge

Selain memiliki nilai ekonomi, Hutan Jati Gondang juga menyimpan fungsi ekologis yang sangat penting. Setiap pohon jati mampu menyerap sekitar 10–40 kilogram karbon per tahun sehingga berkontribusi dalam mitigasi perubahan iklim. Di bawah permukaan tanah, Formasi Klitik yang berpori berfungsi sebagai akuifer alami yang mampu menyimpan dan mengalirkan air tanah.

Sistem alami tersebut menopang sedikitnya 69 mata air dengan total debit tahunan mencapai sekitar 21 juta liter. Hubungan antara batuan, tanah, vegetasi, dan sumber air menjadi bukti nyata bahwa warisan geologi memberikan manfaat langsung bagi kehidupan masyarakat.

Nilai konservasi kawasan ini semakin tinggi karena menjadi habitat Dendrobium capra, anggrek endemik Pulau Jawa yang berstatus Endangered (Terancam Punah) dalam Daftar Merah IUCN. Kehadiran spesies langka tersebut menjadi indikator bahwa kualitas habitat Hutan Jati Gondang masih sangat baik sekaligus menegaskan pentingnya menjaga kelestarian ekosistem hutan jati Bojonegoro.

Atas nilai geologi, keanekaragaman hayati, dan fungsi ekologinya, Hutan Jati Gondang ditetapkan sebagai salah satu Biosite Geopark Bojonegoro. Penetapan itu menjadi pijakan untuk memperkuat upaya konservasi melalui pendekatan ilmiah, pendidikan, penelitian, dan kolaborasi lintas sektor.

Baca Juga:  LPPM Unigoro Evaluasi Program KKN-TK Kelompok 02 di Desa Tondomulo, Dorong Inovasi dan Konservasi Lingkungan

Melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), Universitas Bojonegoro berperan aktif dalam mengembangkan biosite tersebut. Berbagai penelitian, inventarisasi biodiversitas, pemetaan potensi kawasan, penyusunan interpretasi ilmiah, hingga program edukasi konservasi terus dilakukan secara berkelanjutan guna memperkuat fungsi kawasan sebagai laboratorium alam.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui kolaborasi Universitas Bojonegoro, Perhutani KPH Bojonegoro, dan Badan Pengelola Geopark Bojonegoro dalam mengembangkan kawasan seluas sekitar tujuh hektare sebagai Hutan Pendidikan dan Laboratorium Alam Universitas Bojonegoro. Kawasan ini menjadi ruang pembelajaran, penelitian, konservasi biodiversitas, pendidikan lingkungan, sekaligus pengembangan inovasi berbasis potensi lokal.

Kolaborasi antara perguruan tinggi, Perhutani, dan Badan Pengelola Geopark menjadi contoh nyata implementasi konsep UNESCO Global Geopark yang mengintegrasikan konservasi, pendidikan, penelitian, dan pembangunan berkelanjutan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.

Kunjungan tim asesor UNESCO Global Geopark ke Biosite Hutan Jati Gondang menjadi momentum penting untuk menunjukkan bahwa Bojonegoro tidak hanya memiliki bentang alam yang bernilai tinggi, tetapi juga ekosistem yang dikelola secara kolaboratif berbasis riset dan komitmen jangka panjang. Mekarnya Dendrobium capra di hari kunjungan asesor pun menjadi penanda indah bahwa alam akan selalu memberi apresiasi kepada mereka yang menjaganya. (Red/Lis)