Menyusuri Keunikan Geosite Kedung Lantung, Jejak Rembesan Minyak Bumi Alami yang Menjadi Warisan Geologi Bojonegoro

SuaraBojonegoro.com – Kabupaten Bojonegoro menyimpan banyak kekayaan geologi yang tak hanya bernilai ilmiah, tetapi juga memiliki cerita sejarah dan budaya yang kuat. Salah satunya adalah Geosite (G-05) Kedung Lantung di Dusun Nglantung, Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras, sebuah lokasi langka yang menghadirkan fenomena rembesan minyak bumi alami di aliran Sungai Borik.

Berjarak sekitar 30 kilometer dari pusat Kota Bojonegoro, perjalanan menuju Geosite Kedung Lantung menawarkan pengalaman tersendiri. Jalanan yang berkelok, hamparan perbukitan, hingga suasana pedesaan yang masih asri menjadi pembuka sebelum pengunjung tiba di kawasan geosite. Setelah berjalan kaki beberapa menit, wisatawan akan disambut papan informasi yang mengisahkan sejarah dan keunikan situs geologi tersebut.

Kedung Lantung merupakan bagian dari kawasan Zona Kendeng, wilayah yang menyimpan jejak proses geologi jutaan tahun lalu. Aktivitas tektonik yang terjadi pada masa lampau membentuk rekahan-rekahan batuan yang kemudian menjadi jalur alami keluarnya minyak bumi dari reservoir di bawah permukaan.

Melalui rekahan tersebut, minyak bumi merembes ke permukaan karena memiliki massa jenis yang lebih ringan dibandingkan air. Fenomena inilah yang hingga kini masih dapat disaksikan secara langsung di aliran Sungai Borik.

Baca Juga:  KKN-TK 04 Unigoro dan Pokdarwis Hijaukan Geosite Kedung Lantung Lewat Program Konservasi Tanaman

Keunikan Kedung Lantung tidak berhenti pada proses geologinya. Saat cahaya matahari menyentuh lapisan minyak di permukaan air, muncul gradasi warna menyerupai pelangi akibat fenomena interferensi cahaya. Pemandangan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan sekaligus bukti nyata proses alam yang masih berlangsung hingga sekarang.

Menariknya, masyarakat sekitar telah memanfaatkan rembesan minyak tersebut sejak zaman dahulu. Minyak yang oleh warga setempat disebut Lintung itu pernah digunakan sebagai bahan bakar penerangan tradisional sebelum listrik menjangkau wilayah pedesaan.

Secara geologi, Kedung Lantung juga memiliki keterkaitan dengan Geosite Kayangan Api, yang berjarak sekitar 35 kilometer. Jika Kedung Lantung dikenal dengan rembesan minyak bumi cair, maka Kayangan Api merupakan lokasi rembesan gas bumi yang terbakar secara alami di permukaan tanah. Kedua geosite tersebut menjadi bagian penting dari narasi besar sistem petroleum Bojonegoro yang kini diangkat sebagai kekayaan dalam pengembangan Geopark Bojonegoro.

Tak hanya menawarkan wisata edukasi geologi, Desa Drenges juga memiliki potensi ekonomi berbasis pertanian. Kondisi tanah dan iklim yang mendukung menjadikan jagung dan singkong sebagai komoditas unggulan masyarakat setempat.

Baca Juga:  KKN-TK 04 Unigoro dan Pokdarwis Hijaukan Geosite Kedung Lantung Lewat Program Konservasi Tanaman

Salah seorang anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kedung Lantung, Nabila, mengatakan hasil pertanian tersebut telah diolah menjadi produk khas desa yang diminati wisatawan.

“Karena hasil pertanian di sini mayoritas jagung dan singkong, jadi olahan marning dan balung kuwuk menjadi produk asli Desa Drenges,” ujarnya.

Perpaduan antara warisan geologi, sejarah, budaya, dan potensi ekonomi lokal menjadikan Geosite Kedung Lantung sebagai destinasi wisata edukatif yang memiliki nilai lebih dibandingkan objek wisata pada umumnya. Keberadaan geosite ini diharapkan terus dijaga dan dilestarikan sebagai bagian dari identitas Kabupaten Bojonegoro sekaligus warisan alam yang dapat dinikmati dan dipelajari oleh generasi mendatang.

Kedung Lantung menjadi bukti bahwa Bojonegoro bukan hanya dikenal sebagai daerah penghasil minyak dan gas bumi, tetapi juga memiliki kekayaan geologi kelas dunia yang menyimpan kisah panjang perjalanan bumi dan layak menjadi kebanggaan masyarakat. (Red)