SuaraBojonegoro.com – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik Kolaboratif (KKNTK) Kelompok 04 Universitas Bojonegoro (Unigoro) turut ambil bagian dalam Serasehan Budaya Volume VI yang digelar di Objek Wisata Kedung Lantung, Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras, Kabupaten Bojonegoro, Senin (10/8/2026).
Mengusung tema “Kedung Lantung: Menuju Desa Wisata Berbasis Edukasi Sejarah, Geologi, dan Budaya”, kegiatan tersebut menjadi bagian dari Serial Literasi Geopark – Ekspedisi Naga Api. Serasehan berlangsung mulai pukul 13.30 WIB dan menjadi ruang diskusi untuk menggali sekaligus memperkuat potensi Kedung Lantung sebagai destinasi wisata edukatif.
Keterlibatan mahasiswa KKNTK 04 Unigoro menjadi bagian dari upaya mendorong peran generasi muda dalam pengembangan potensi desa. Bersama mahasiswa KKN Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri), mereka turut mendukung kegiatan literasi, edukasi, serta pengenalan potensi sejarah, geologi, lingkungan, dan budaya yang dimiliki Desa Drenges.
Serasehan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Dr. Laily Agustina Rahmawati, S.Si., M.Sc., Ketua LPPM Unigoro sekaligus Dosen Program Studi Ilmu Lingkungan dan ahli Biologi Geopark Bojonegoro; Burhanudin Arriza, S.T., alumni Geologi UPN “Veteran” Yogyakarta; serta Subianto, Kepala Dusun Nglantung, Desa Drenges.
Dalam pemaparannya, Dr. Laily menjelaskan bahwa konsep geopark tidak sebatas berbicara mengenai kekayaan geologi. Di dalamnya juga terdapat keanekaragaman hayati dan budaya masyarakat yang menjadi satu kesatuan dalam pengembangan kawasan.
“Bojonegoro memiliki 21 geosite, 3 biosite, dan 8 culture site. Jadi, geopark ini tidak hanya berbicara tentang geologi, tetapi juga tentang kehidupan, keanekaragaman hayati, serta budaya yang ada di masyarakat,” jelasnya.
Menurutnya, Kedung Lantung merupakan salah satu bagian penting dari kekayaan Geopark Bojonegoro yang perlu diperkenalkan sekaligus dijaga bersama. Kawasan tersebut memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata yang tidak hanya menawarkan pemandangan, tetapi juga memberikan pengalaman belajar kepada pengunjung.
Dr. Laily juga menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda. Mahasiswa, termasuk peserta KKNTK Unigoro, dinilai memiliki ruang besar untuk berkontribusi melalui kegiatan edukasi, pendampingan masyarakat, dokumentasi potensi lokal, hingga menciptakan inovasi dalam pengembangan desa wisata.
Sementara itu, Burhanudin Arriza memberikan pemahaman mengenai Kedung Lantung dari perspektif geologi. Ia menyebut potensi geologi di kawasan tersebut dapat dikemas menjadi bagian dari wisata edukasi yang menarik dan mudah dipahami masyarakat.
“Kedung Lantung tidak hanya memiliki nilai sebagai tempat wisata, tetapi juga mempunyai nilai geologi yang dapat menjadi bahan pembelajaran,” ungkapnya.
Menurut Burhanudin, pemahaman tentang geologi perlu dikemas menggunakan bahasa yang sederhana sehingga wisatawan tidak hanya menikmati keindahan kawasan, tetapi juga memahami proses alam dan karakteristik lingkungan yang membentuk kawasan tersebut.
Bagi mahasiswa KKNTK 04 Unigoro, keterlibatan dalam Serasehan Budaya Volume VI menjadi pengalaman sekaligus kesempatan untuk belajar langsung dari akademisi, praktisi, dan masyarakat mengenai pengelolaan potensi lokal.
Sinergi antara mahasiswa, masyarakat, pemerintah desa, akademisi, dan komunitas diharapkan dapat menjadi modal penting dalam mengembangkan Kedung Lantung secara berkelanjutan. Mahasiswa juga dapat berperan sebagai penghubung antara pengetahuan akademik dengan kebutuhan masyarakat di lapangan.
Sementara itu, Subianto selaku Kepala Dusun Nglantung menyampaikan perspektif masyarakat lokal mengenai kondisi dan potensi Kedung Lantung. Pengetahuan masyarakat tentang lingkungan, sejarah, serta kehidupan di sekitar kawasan dinilai menjadi bagian penting dalam membangun identitas desa wisata.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa KKNTK Unigoro diajak melihat bahwa pengembangan desa wisata bukan sekadar membangun fasilitas wisata. Lebih dari itu, diperlukan upaya menjaga lingkungan, menggali sejarah, mengenalkan geologi, serta mempertahankan budaya dan kearifan lokal.
Kedung Lantung diharapkan mampu berkembang menjadi destinasi wisata edukatif yang memadukan kekayaan alam, sejarah, geologi, keanekaragaman hayati, dan budaya masyarakat Desa Drenges.
Kehadiran mahasiswa KKNTK Unigoro dalam proses tersebut menjadi salah satu bentuk nyata kontribusi perguruan tinggi kepada masyarakat. Dengan kolaborasi yang berkelanjutan, Kedung Lantung diharapkan semakin dikenal luas sekaligus mampu memberikan manfaat ekonomi, sosial, pendidikan, dan lingkungan bagi masyarakat Desa Drenges. (Red)








