Banyu Kuning, Pesona Mata Air Panas di Tengah Hutan Jati Bojonegoro yang Cocok Jadi Destinasi Liburan Lokal

SuaraBojonegoro.com – Tak perlu bepergian jauh ke luar daerah untuk menikmati wisata alam yang unik. Kabupaten Bojonegoro menyimpan sejumlah destinasi yang menawarkan pengalaman berbeda, salah satunya Mata Air Panas Banyu Kuning di Desa Krondonan, Kecamatan Gondang.

Berada di kawasan perbukitan vulkanik Gunung Pandan, Banyu Kuning menawarkan perpaduan antara keindahan alam, suasana hutan yang masih asri, serta fenomena geologi yang menarik untuk dijelajahi.

Bagi warga Bojonegoro yang ingin mencari referensi liburan lokal dengan suasana berbeda, Banyu Kuning bisa menjadi salah satu pilihan. Lokasinya berjarak sekitar 50 kilometer dari pusat Kota Bojonegoro dan perjalanan menuju lokasi menyuguhkan pemandangan kawasan hutan jati serta perbukitan.

Sesampainya di kawasan Banyu Kuning, pengunjung perlu melanjutkan perjalanan melalui jalan berkelok dan jalur setapak menuju lokasi mata air. Medan tersebut justru menjadi bagian dari pengalaman menikmati wisata alam yang masih relatif alami.

Nama Banyu Kuning sendiri berasal dari bahasa Jawa. “Banyu” berarti air, sedangkan “kuning” merujuk pada warna bebatuan yang berada di sekitar aliran mata air.

Menariknya, meski batu-batu di dasar aliran terlihat berwarna kuning hingga kemerahan, airnya tampak jernih. Warna tersebut terbentuk akibat pengendapan oksida besi (Fe₂O₃) yang terbawa oleh air panas dan kemudian melapisi permukaan bebatuan.

Baca Juga:  Solusi Warga Sibuk, Kantah Bojonegoro Konsisten Buka Layanan 'PELATARAN' Setiap Akhir Pekan

Tak hanya menawarkan pemandangan unik, Banyu Kuning juga memiliki nilai geologi yang menarik. Dilansir dari Geopark Bojonegoro, kawasan tersebut merupakan bagian dari kompleks perbukitan vulkanik Gunung Pandan dan tersusun atas batuan andesit hasil aktivitas vulkanik Gunung Pandan purba.

Batuan andesit tersebut memiliki rekahan yang menjadi jalur sirkulasi air dari bawah permukaan. Secara alami, air tanah bersirkulasi menuju lapisan yang lebih dalam dan bersentuhan dengan batuan yang masih menyimpan panas dari aktivitas magmatisme.

Air yang telah mengalami pemanasan kemudian bergerak kembali menuju permukaan melalui rekahan-rekahan batuan. Dalam proses tersebut, air melarutkan sejumlah mineral, termasuk unsur besi. Ketika mencapai permukaan dan mengalami perubahan suhu maupun tekanan, mineral tersebut mengendap sehingga menghasilkan warna kuning hingga kemerahan pada bebatuan.

Suhu air panas di kawasan Banyu Kuning disebut berkisar antara 40 hingga 60 derajat Celsius. Kandungan belerang yang terdapat pada air juga menjadi salah satu indikator berlangsungnya aktivitas hidrotermal di kawasan tersebut.

Kondisi tersebut menjadikan Banyu Kuning bukan sekadar tempat untuk menikmati suasana alam. Kawasan ini juga dapat menjadi semacam “laboratorium alam” untuk mengenal proses panas bumi, hidrotermal, serta hubungan antara air, batuan, dan aktivitas vulkanik masa lalu.

Baca Juga:  Berkah Lebaran, Baru Dibuka Waduk Pedang, Raup Untung Jutaan Rupiah Perhari

Bagi wisatawan lokal, daya tarik Banyu Kuning justru terletak pada suasananya yang masih alami. Pepohonan hutan jati, perbukitan, jalur menuju mata air, hingga bebatuan berwarna kuning menciptakan latar yang menarik untuk berswafoto maupun sekadar menikmati ketenangan alam.

Namun, karena berada di kawasan alam yang masih asri, pengunjung tetap perlu menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan. Tidak membuang sampah sembarangan, tidak merusak batuan maupun vegetasi, serta menjaga sikap selama berada di kawasan wisata menjadi hal penting agar pesona Banyu Kuning tetap terjaga.

Dengan keunikan alam dan nilai geologinya, Mata Air Panas Banyu Kuning layak masuk daftar referensi liburan lokal warga Bojonegoro. Destinasi ini cocok bagi mereka yang ingin menikmati wisata alam sekaligus mendapatkan pengalaman baru tanpa harus bepergian terlalu jauh ke luar daerah.

Banyu Kuning bukan sekadar mata air panas, tetapi juga jejak aktivitas vulkanik masa lalu yang kini menjadi pesona wisata alam di Kabupaten Bojonegoro. (Red)