Belajar Akuntansi di Kampus dengan “Bestie” AI: Cepat, Berkualitas, tapi Melelahkan?

Oleh: Hermawan Budi P., SE, MSA, Ak.

Dosen Akuntansi STIE Cendekia Bojonegoro

 

SuaraBojonegoro.com – Pada Tahun 2026, AI kian masif digunakan dalam berbagai ruang, mulai dari industri, kantor, media, marketing, dan lain-lain. Anti-AI hanyalah jalan penyangkalan sesaat, tetapi menggunakannya bersama-sama di kehidupan sehari-hari adalah langkah yang terbaik saat ini.

STIE Cendekia adalah salah satu kampus di Bojonegoro yang progam belajarnya telah memanfaatkan AI. Riset yang saya lakukan di kelas selama satu semester menunjukkan hasil yang diluar dugaan. Saya mengkategorikan hasil ke dalam tiga pembahasan di bawah ini:

Metode AI lebih disukai oleh Mahasiswa,

Mahasiswa diharuskan menggunakan Handphone/ Laptop yang tentunya sudah memiliki AI masing-masing. Mahasiswa bebas memilih “bestienya” –sebutan populer AI, untuk membantu belajar di kelas. Mahasiswa tersadar, bahwa apa yang dia lakukan saat ini, selama belum menggunakan AI, mereka belajar secara konvensional. Betapa tidak, mereka masih berfokus “menjurnal” (meski memahamipun masih berat), sedangkan AI dapat mengerjakan pekerjaan “menjurnal” dalam hitungan detik, walaupun jurusan mereka akuntansi. Dari sini tentu dosen harus memberikan sebuah tantangan berfikir kritis bagi mahasiswa: apakah nanti anda akan dibutuhkan untuk membuat jurnal akuntansi di kantor? apakah yang akan anda persiapkan di dunia kerja yang kian sempit dengan jurusan anda, yakni akuntansi? Maka dari situ, proses pembelajaran dengan AI mutlak diperlukan saat ini, bukan untuk menjadi tenaga administrasi bersaing dengan AI, namun memberikan “nilai tambah” bagi individu dalam meningkatkan prestasi akademik dan sukses di dunia kerja ataupun bisnis. Pada riset tersebut, proses perkuliahan dilakukan melalui tiga cara: pertama, rebutan jawaban, kedua, presentasi, dan ketiga tugas quis. Tentu saja ketiga metode tersebut diharuskan menggunakan AI. Mahasiswa dituntut untuk tetap kritis dengan menjawab pertanyaan yang kompleks (bukan definisitif, tujuan dan jenis-jenis misalnya), sehingga mereka harus menggali informasi bersama AI untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kompleks pula. Mahasiswa diberi kesempatan untuk memahami terlebih dahulu hasil dari pencarian di AI, lalu diharuskan menjelaskan tanpa membaca (dari AI, atau AI hanya jadi guide kata-kata sulit yang dibutuhkan untuk menjelaskan dalam menunjang jawaban). Pada metode quiz yang diberikan oleh dosen, mahasiswa diharuskan merangkum dari jawaban yang telah dia cari di AI, hanya menjadi tiga sampai empat kalimat saja sebagai jawaban akhir.

Dosen dituntut untuk lebih aktif dan inovatif,

Saya secara pribadi mendukung wacana tentang aturan bahwa Dosen harus berpendidikan S-3, karena tentu pengetahuan dan tugas-tugas yang mengarah ke kualitas Dosen, serta kompleksitas dan tuntutan beban kerja Dosen berikutnya, berada di level setelah lulus S-3. Terlebih di Era AI sekarang ini dan seterusnya, tantangan Dosen menjadi sangat nyata. Dosen bukan hanya sebagai indivdu yang siap dan perfect untuk menjelaskan di kelas, namun Dosen harus memulai dengan tanggung jawab pertanyaan: bisakah nanti lulusan saya diterima di dunia kerja? apa yang harus saya ajarkan agar mereka bisa bersaing di dunia kerja? dan bagaimana “ilmu” ini akan menjadi jembatan dalam meningkatkan skill, pengetahuan, dan ide untuk terus menudukung perubahaan dunia ke arah yang lebih baik kedepan? Pertanyaan-pertanyaan itu yang sering muncul dibenak saya sebagai tenaga pengajar di Kampus. Pada akhirnya, ini menjadi tantangan kita bersama dalam mencetak generasi yang adaptif dan berkualitas di jaman sekarang.

Proses pembelajaran yang mudah, menyenangkan namun melelahkan,

Sembilan dari sebelas mahasiswa menyatakan bahwa metode pembelajaran full bersama AI di kelas selama satu semester ini sangat menyenangkan, dan dua menjawab menginginkan dosen menjelaskan saja. Tentu sebagai Dosen, jawaban ini semakin menegaskan bahwa sebuah kemutlakan untuk terus mengembangkan metode pembelajaran ini (bersama AI) lebih bervariasi lagi. Dengan tidak meninggalkan capaian-capain pembelajaran, tentu Dosen sedang menata ulan kembali susuna awalnya dalam menentukan capaian setiap pertemuan dengan adanya AI. Ini PR berat bagi Dosen tentunya, namun saya merasakan walau berat, tiba-tiba menjadi sangat ringan dan berbobot saat saya hadir dibantu “bestie” saya juga. Di satu titik, setelah saya observasi, mahasiswa juga mengalami kejenuhan, karena intensitas penggunaan AI yang masih, mereka belum siap beradaptasi dengan metode pembelajaran ini, perlahan tapi pasti, saya akan terus berkomitmen dalam mengembangkan metode pembelajaran berbasis AI yang inovatif, menyenangkan, dan berkualitas.

Pada bagian akhir artikel ini, penulis terus memanfaatkan AI dalam kehidupan sehari-hari, misalnya membuat materi kuliah, berdiskusi tentang riset, belajar bahasa Inggris, dan prompt-prompt lain seperti pembuatan flyer untuk kebutuhan media sosial sekalipun, secara intensif lebih dari enam jam per hari, bahkan dalam penulisan artikel ini pun, penulis menggunakan ide di judul artikel yang didapat dari kolaborasi dengan AI, dan semua isi artikel ini tentu, keinginan penulis, ditulis oleh penulis sendiri sebagai bentuk karya orisinil pemikiran sendiri namun tetap ingin mengikuti substansi terlebih dalam perkembangan jaman.  (**)