Oleh : Ibnu Khakim, MHI
SuaraBojonegoro.com – Hajatan besar di Bojonegoro dan sejumlah Propinsi, Kabupaten dan Kota di Indonesia usai sudah, secara global bisa disimpulkan berjalan tertib dan lancer, hak – hak rakyat tersalurkan dengan cukup nyaman dan bebas, meskipun tentu tidak ada gading yang tak retak, terdapat riak – riak kecil dan sedang disana – sini masih dalam bingkai kewajaran, hasil secara quick count atau hitung cepat sudah sama – sama bisa diketahui, namun untuk kepastian tetap menunggu perhitungan manual KPU atau real count. Efouria dan luapan kegembiraan masih dalam kekondusifan yang terkendali, bahkan paslon yang kalah pun sudah ber_statement untuk legowo dan menerima dengan jiwa yang besar dan lapang.
Pesantren sebagai salah satu elemen masyarakat, Pasca pilkada, hendaknya kembali ke jati dirinya sebagai wadah untuk melakukan pendidikan agama, dan pencerahan bagi setiap individu muslim. Selain itu pondok pesantren diharapkan, untuk terus memfungsikan sebagai wadah bersemainya kader-kader muslim yang terus mengembangkan semangat amar ma’ruf nahi mungkar.
Dalam musim pilkada, tidak sedikit pesantren yang biasanya mengambil sikap netral dari kehidupan politik menjadi bias. Karena banyaknya tokoh-tokoh yang datang, dan minta dukungan kepada mereka. Malah ada beberapa pimpinan pondok pesantren, yang dengan suka rela mengeluarkan tausiyah untuk mengarahkan santri-santri. Dan umat Islam pada umumnya, untuk memilih salah satu pasangan capres dan cawapres. Bahkan himbauan dan tausiyah itu disebarluaskan, ke perbagai media massa.
Namun yang harus dilakukan pasca pilkada ini, setiap pondok pesantren kembali ke jati dirinya. Kalau pun paslon yang didukungnya menang harus senantiasa tetap menyuarakan kekritisannya sesuai dengan prinsip amar ma’ruf nahi munkar. Sebaliknya, kalau paslon yang didukungnya tidak menang, maka dengan hati bersih menyerahkan semua itu kepada Allah Swt, dan senantiasa siap membantu calon presiden terpilih. Kedewasaan berpolitik itulah yang harus terus menerus dibangun oleh setiap umat Islam dalam menyikapi politik.
Pada bagian lain kita berharap, agar pemerintahan baru nanti memperhatikan betul eksistensi pondok pesantren. Pemerintah juga harus bersikap adil dalam memperhatikan pondok pesantren. Baik pondok pesantren yang mendukungnya, maupun tidak pada saat pilpres kemarin tidak memberikan dukungan kepadanya. Betapa pun pondok pesantren itu, punya peranan yang sangat penting dalam membangun moralitas bangsa Indonesia, dulu, kini dan masa mendatang.
Bagi pemerintahan baru, jangan menganggap bahwa pondok pesantren yang tidak mendukungnya sebagai sarang dari lawan. Tapi semua itu harus disikapi dengan arif, dan menganggap bahwa tidak mendukungnya keluarga besar pondok pesantren itu bukan lantaran tidak suka dengan salah satu calon, melainkan memang itu hasil pengamatan dari pimpinan pondok pesantren terhadap figur tertentu.
Pesantren memberi pesan yang mendalam terhadap hakitat kemenangan dan kekalahan dalam sebuah pertandingan atau kompetisi, Syekh Ibnu Athaillah sebagai berikut: ”Al atho’u minal kholqi hirmanun, wal man’u minallahi ihsanu ”, yang artinya, “Pemberian makhluk hakikatnya terluput. Sedangkan penangguhan dari Allah adalah kebaikan.” yang tidak boleh dilupakan saat menerima pemberian manusia adalah mengingat siapa sejatinya yang melakukan pemberian di balik itu. Hal ini dimaksudkan agar penerima tidak tertutup dari makrifat yang begitu kaya. Orang yang melupakan Allah di balik pemberian manusia–tanpa mengabaikan anjuran berterima kasih terhadap manusia–sama saja menetapkan kepemilikan manusia yang sejatinya tidak memiliki apapun.
Sebaliknya, penangguhan Allah atas permohonan seseorang bisa jadi adalah sebuah kebaikan. Dengan penangguhan itu, seseorang bisa menyadari bahwa segala sesuatu baik itu pemberian maupun penangguhan terletak di tangan Allah. Dari sini dapat dipahami bahwa penangguhan dan pemberian itu hanya gejala saja. Yang paling penting dari semua itu adalah kondisi terjaga bahwa Allah hadir di balik pemberian dan penangguhan Allah. Di sini hakikat Agama di dalam memandang dan hadir dalam realitas.
Keteladanan dan kesukarelaan pihak pesantren dalam merawat kerukunan dengan nilai-nilai keberadaban manusia pada masa dan pasca-pilkada menjadi inspirasi dan penguat bagi kelompok-kelompok masyarakat, atas dasar kebangsaan, keagamaan, kedaerahan dan lainnya, sebagai kekuatan civil society yang berkontribusi pada negara.
Dengan penuh kesantunan politik dan ketundukan pada konstitusi yang berlaku, para kontestan pilkada ini dapat meraih kemenangan dengan cara yang terhormat dan pada saatnya mereka dapat bekerja secara ikhlas untuk kemaslahatan bangsa dan negara kita ini.
Untuk para pemangku pesantren harus dapat menahan diri untuk tidak memberi contoh yang berlebihan dalam mensyukuri dan memaknai sebuah kemenangan, sehingga paslon yang menang tetap terkendali oleh norma agama dan budaya, sehingga kemenangan bisa benar – benar menjadi keberkahan untuk semua, dan pihak yang kalah pun menyadari bahwa dalam keadaan apapun Alloh selalu ada dan menyertai langkah setiap makhluk_Nya. (**)
*) Penulis _Ibnu Khakim, MHI, _Intelektual Muda dan Instruktur PBNU, Dosen dan Pengasuh Pesantren Salafiyah Raudlatul Muslimin yang berdomisili di Desa Sumberarum Kecamatan Ngraho Kabupaten Bojonegoro.








