Oleh: Said Edy Wibowo *)
SuaraBojonegoro.com – Pada era modern yang ditandai dengan kemajuan teknologi, globalisasi, dan keterbukaan informasi, semangat nasionalisme menghadapi ujian besar. Generasi Z, yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012, tumbuh dalam lingkungan serba digital dan global. Mereka hidup di tengah dunia tanpa batas, di mana budaya, informasi, dan ide-ide baru datang dari berbagai penjuru dunia hanya dalam hitungan detik. Kondisi ini membawa peluang besar bagi kemajuan bangsa, tetapi juga menghadirkan ancaman terhadap nilai-nilai kebangsaan. Oleh karena itu, pengenalan Bela Negara menjadi sangat penting agar generasi muda tetap memiliki rasa cinta tanah air, tanggung jawab, dan kesadaran akan pentingnya menjaga keutuhan NKRI.
Makna Bela Negara
Secara hakikat, Bela Negara bukan hanya tugas TNI atau aparat pertahanan, melainkan kewajiban seluruh warga negara Indonesia. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2019, Bela Negara adalah tekad, sikap, dan tindakan warga negara yang dijiwai oleh kecintaan kepada tanah air, kesadaran berbangsa dan bernegara, serta keyakinan pada Pancasila sebagai ideologi negara.
Bela Negara dapat diwujudkan dalam banyak bentuk, seperti: Menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, mematuhi hukum dan menjunjung nilai-nilai Pancasila, berperan aktif dalam pembangunan, melawan hoaks dan ujaran kebencian di dunia maya, serta berkontribusi positif dalam bidang pendidikan, ekonomi, maupun sosial. Dengan kata lain, Bela Negara bukan hanya angkat senjata, melainkan juga membangun bangsa sesuai kemampuan dan profesi masing-masing.
Ancaman dan Tantangan bagi Generasi Z
Generasi Z menghadapi berbagai ancaman dan tantangan baru yang berbeda dengan masa sebelumnya. Tantangan ini datang tidak hanya dari aspek militer, tetapi juga dari bidang sosial, budaya, ekonomi, dan digital.
Radikalisme dan Intoleransi
Arus informasi yang begitu cepat membuat penyebaran paham radikal dan intoleran semakin mudah. Tanpa kemampuan berpikir kritis dan filter nilai kebangsaan, generasi muda dapat terpengaruh oleh narasi yang menyesatkan dan memecah belah bangsa.
Disinformasi dan Hoaks Digital
Dunia maya dipenuhi informasi palsu, propaganda, dan ujaran kebencian. Generasi Z yang hidup di media sosial sering menjadi sasaran utama penyebaran hoaks yang dapat menggoyahkan kepercayaan terhadap pemerintah maupun nilai-nilai nasional.
Degradasi Moral dan Budaya Asing
Pengaruh budaya luar yang masuk tanpa penyaringan dapat melemahkan identitas bangsa. Gaya hidup hedonistik, individualisme, dan ketergantungan terhadap media sosial menjadi tantangan serius bagi pembentukan karakter nasionalis.
Ancaman Siber (Cyber Threats)
Di era digital, serangan terhadap sistem informasi negara, penyalahgunaan data pribadi, hingga kejahatan siber menjadi ancaman baru bagi pertahanan nasional. Generasi Z yang aktif di dunia digital harus memahami pentingnya keamanan siber sebagai bagian dari Bela Negara.
Krisis Kepedulian Sosial
Modernisasi sering membuat generasi muda lebih fokus pada diri sendiri. Kurangnya empati, rendahnya semangat gotong royong, dan berkurangnya kepedulian terhadap lingkungan menjadi ancaman terhadap nilai-nilai kebangsaan yang luhur.
Strategi Pengenalan Bela Negara untuk Generasi Z
Untuk menumbuhkan kesadaran Bela Negara pada generasi Z, pendekatan yang dilakukan harus menyentuh cara berpikir dan gaya hidup mereka. Beberapa strategi yang dapat diterapkan antara lain:
Pendidikan Karakter Berbasis Pancasila
Sekolah dan kampus perlu memperkuat pendidikan karakter yang menanamkan nilai-nilai kejujuran, disiplin, tanggung jawab, dan toleransi. Nilai-nilai Pancasila harus dihidupkan dalam keseharian, bukan hanya dihafalkan.
Pemanfaatan Media Digital
Pemerintah dan lembaga pendidikan bisa menggunakan media sosial, konten kreatif, film pendek, hingga game edukatif untuk mengenalkan semangat Bela Negara dengan cara yang menarik dan kekinian.
Keteladanan dan Figur Inspiratif
Generasi muda lebih mudah meneladani tokoh yang menginspirasi. Oleh karena itu, tokoh masyarakat, pendidik, dan influencer perlu menunjukkan contoh nyata sikap nasionalisme dan tanggung jawab sosial.
Kegiatan Sosial dan Kepemudaan
Program seperti Pramuka, Karang Taruna, Palang Merah Remaja, dan kegiatan bakti sosial bisa menjadi sarana pembentukan jiwa Bela Negara melalui kerja sama, kepedulian, dan tanggung jawab.
Peningkatan Literasi Digital dan Keamanan Siber
Generasi Z harus dibekali kemampuan untuk memilah informasi, memahami etika bermedia, dan menjaga keamanan data pribadi. Dengan begitu, mereka tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga penjaga ruang digital bangsa.
Bela Negara bagi Generasi Z bukan sekadar slogan, melainkan panggilan moral dan tanggung jawab kebangsaan di tengah derasnya arus globalisasi. Ancaman tidak lagi datang hanya dari luar negeri atau medan perang, tetapi juga dari dalam diri: kemalasan, ketidakpedulian, dan hilangnya rasa cinta tanah air. Melalui pendidikan, pembiasaan, dan keteladanan, semangat Bela Negara harus terus ditumbuhkan agar Generasi Z menjadi generasi yang cerdas digital, berkarakter nasionalis, dan siap menghadapi tantangan zaman. Dengan begitu, Indonesia tidak hanya bertahan, tetapi juga maju dan berdaulat di tengah dunia yang terus berubah.
*) Peserta Diklat Pembentukan Fasilitator Bela Negara Angkatan III 2025, PUSDIKLAT Bela Negara | BADIKLAT KEMHAN RI








