Berkorban di Tengah Pandemi

oleh -

Oleh: Said Edy Wibowo *)

SuaraBojonegoro.com  –  Tahun ini seperti halnya tahun lalu, pelaksanaan Idul Adha 1442 Hijriah tahun ini harus dirayakan dalam situasi pandemi covid-19. Konsekuensinya, umat muslim tak bisa menyambut Idul Kurban dengan kemeriahan
, tetapi tidak lantas kehilangan kekhidmatan dan kemuliaan.

Seperti halnya tahun lalu, perayaaan Idul Adha tahun ini juga dibarengi pembatasan-pembatasan. Tidak ada lagi Sholat Idul Adha di masjid-masjid atau di lapangan terbuka seperti biasanya. Tidak ada pula takbir keliling. Semua dilarang.

Salat Idul Adha cukup dilakukan di rumah bersama keluarga. Demikian halnya dengan takbir untuk mengagungkan kebesaran dan kekuasaan Allah, Tuhan Yang Mahabesar dan Mahakuasa. Kegiatan masih bisa dilakukan di masjid atau musala, tetapi dengan peserta sangat terbatas, menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Sama halnya dengan pemotongan hewan kurban yang mesti dilakukan secara sangat terbatas. Larangan pemerintah menggelar salat Idul Adha di masjid, musala, atau di tempat terbuka bukanlah pengekangan beribadah umat Islam. Larangan bagi umat muslim untuk melakukan takbir keliling bukan pula pembatasan dalam menjalankan keyakinan. Pembatasan tersebut semata wujud implementasi dari kewajiban negara untuk melindungi keselamatan rakyatnya.

Itulah keniscayaan di tengah situasi kondisi yang masih sangat mengkhawatirkan lantaran serbuan virus Corona yang kian menggila. Kebijakan itu niscaya diberlakukan pemerintah demi memproteksi seluruh anak bangsa dari paparan covid-19 yang semakin hari semakin melejit. Pembatasan-pembatasan itu juga tak lantas mengurangi kemuliaan Idul Adha. Seluruh umat Islam tetap bisa merayakan Idul Kurban secara sederhana, tetapi tetap khidmat dan khusyuk.

Idul Adha di tengah pandemi justru bisa menjadi ladang yang lebih luas untuk memanen lebih banyak pahala. Dalam situasi seperti sekarang, kewajiban berkorban tak cuma bisa diwujudkan dengan memotong hewan kurban, tetapi juga dalam bentuk yang lain. Banyak sikap, perilaku, dan perbuatan lain yang dapat diambil dan dilakukan sebagai bentuk pengorbanan.

Di tengah ekspansi Covid-19 yang kian merajalela, mematuhi protokol kesehatan adalah bentuk pengorbanan konkret dan nyata. Protokol kesehatan memang membatasi ruang gerak dan kebebasan kita, tetapi ia sangat krusial dilakukan untuk membendung penyebaran Corona. Dengan berbekal semangat Idul Adha, kita perlu mengorbankan kebebasan dengan kemaslahatan sesama anak bangsa. Bentuk pengorbanan yang lain adalah kesediaan untuk menjalani vaksinasi. Dengan bersedia divaksin, kita punya andil dalam upaya membentuk kekebalan tubuh demi mempecundangi Covid-19. Tidak ada alasan untuk meragukan, apalagi menolak, vaksinasi. Yang kita butuhkan hanyalah semangat untuk berkorban.

Berkorban bisa diimplementasikan dengan menanggalkan egoisme, mengerjakan segala sesuatu yang positif dan punya daya guna. Tidak menebar ketakutan, pesimisme, dan hoax juga wujud sebuah pengorbanan yang nyata. Kesampingkan dulu kepentingan pribadi, apalagi kepentingan golongan demi kepentingan yang lebih utama, yakni keselamatan bersama seluruh anak bangsa. Idul Adha memang hari raya umat Islam, tetapi kemuliaan berkorban harus menjadi semangat semua umat. Pemerintah sudah, dan terus berkorban untuk mengatasi pandemi dan keganasan Virus Corona.

Para tenaga kesehatan terus berkorban untuk menangani pasien Corona yang tak ada habisnya. Bahkan, ratusan tenaga kesehatan mengorbankan jiwanya, bahkan ada yang gugur dalam tugasnya. Kita, seluruh anak bangsa, juga harus berkorban. Sikap, perilaku, dan tindakan sekecil apa pun yang bisa mencegah penularan akan sangat berarti bagi bangsa ini untuk memenangi perang melawan Covid-19.

Jika hari-hari ini hasil tampak seperti belum menggembirakan, jangan putus asa. Mari terus berkorban dengan tetap disiplin gigih menerapkan disiplin protokol kesehatan itu perlu ditingkatkan lagi bersama-sama.

Pakai masker, jaga jarak, dan cuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Ini upaya paling murah, paling ampuh, dan berdaya tahan yang bisa kita lakukan sendiri di situasi pandemi.

Tidak perlu menunjuk ke mana-mana. Mulai dari kita. Tidak perlu iri dan meratap untuk mendapat iba kalau mendapati orang sembarangan dan tampak tidak peduli dengan kesehatan bersama. Jika punya energi, ingatkan mereka. Jangan kecewa jika diabaikan atau tampak sia-sia.
Apakah dengan memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir tidak akan terpapar virus? Tidak juga. Banyak hal terjadi juga di luar kendali kita.

Salam sehat

*) Guru MAN 5 Bojonegoro | Ketua Tim Gugus Tugas Covid-19 MAN 5 Bojonegoro

No More Posts Available.

No more pages to load.