Reporter : Sasmito
SuaraBojonegoro.com – Di balik suasana tenang Desa Clebung, Kecamatan Bubulan, Kabupaten Bojonegoro, tersimpan jejak sejarah penyebaran agama Islam yang hingga kini masih dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat. Salah satu peninggalan bersejarah tersebut adalah Makam Raden Bagus Lancing Kusumo, tokoh yang diyakini sebagai pelopor penyebaran Islam di wilayah Desa Clebung dan sekitarnya.
Sejumlah mahasiswa dari Unigoro (Universitas Bojonegoro) melakukan ziarah ke makam tersebut pada Jumat (24/7/2026) sebagai bagian dari upaya mengenal sejarah lokal, menghormati jasa para tokoh penyebar agama Islam, sekaligus mempelajari budaya dan tradisi yang masih hidup di tengah masyarakat.
Juru kunci makam, Mbah Watimo, menuturkan bahwa Raden Bagus Lancing Kusumo merupakan putra keturunan kerajaan yang memiliki peran penting dalam perkembangan Islam di kawasan selatan Kabupaten Bojonegoro.
Menurut cerita yang diwariskan secara turun-temurun, pada masa lampau terjadi peperangan besar antara Kerajaan Mataram dan Kerajaan Pajang. Demi menghindari konflik dan mencari kehidupan yang lebih damai, putra pemimpin Kerajaan Pajang tersebut meninggalkan kerajaannya hingga akhirnya menetap di Desa Clebung. Dari tempat inilah, beliau mulai menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat sekitar.
“Beliau dikenal sebagai tokoh yang menyebarkan agama Islam di Desa Clebung. Masyarakat hingga sekarang masih menghormati jasa-jasanya,” ujar Mbah Watimo.
Ia juga menjelaskan asal-usul nama Raden Bagus Lancing Kusumo. Gelar Raden menunjukkan bahwa beliau merupakan keturunan raja, Bagus menggambarkan parasnya yang tampan, Lancing dalam bahasa Jawa berarti masih perjaka, sedangkan Kusumo merupakan nama asli pemberian orang tuanya yang memiliki makna bunga.
Tak hanya menyimpan kisah penyebaran Islam, makam tersebut juga erat kaitannya dengan asal-usul nama Desa Clebung. Berdasarkan cerita masyarakat, Raden Bagus Lancing Kusumo dikenal gemar menyantap pecel dan rebung. Dari kebiasaan tersebut kemudian muncul penyebutan “Clebung”, yang diyakini berasal dari gabungan kedua makanan tersebut dan terus diwariskan sebagai cerita rakyat hingga sekarang.
Sebagai penjaga makam, Mbah Watimo juga mengingatkan bahwa setiap peziarah wajib menjaga kesopanan dan mematuhi tata tertib selama berada di kawasan pesarean. Peziarah dianjurkan datang dengan niat yang baik, dalam keadaan suci dari hadas kecil maupun besar, laki-laki mengenakan sarung, sementara perempuan yang sedang menstruasi tidak diperkenankan memasuki area makam.
Selain itu, masyarakat juga meyakini adanya gambar harimau di pendopo makam sebagai simbol harimau gaib yang dipercaya menjaga kawasan pesarean. Kepercayaan tersebut menjadi bagian dari tradisi lokal yang masih dihormati hingga kini.
Tradisi ziarah di Makam Raden Bagus Lancing Kusumo masih berlangsung secara rutin. Setiap malam Jumat, warga Desa Clebung maupun peziarah dari berbagai daerah datang untuk memanjatkan doa, mengenang jasa sang tokoh, sekaligus mempererat nilai-nilai spiritual dan kebersamaan.
Keberadaan Makam Raden Bagus Lancing Kusumo menjadi bukti bahwa sejarah penyebaran agama Islam di Kabupaten Bojonegoro tidak hanya tersimpan dalam catatan sejarah, tetapi juga hidup melalui tradisi masyarakat yang terus dilestarikan dari generasi ke generasi. Situs ini menjadi warisan budaya dan religi yang penting untuk dikenalkan kepada generasi muda agar nilai-nilai sejarah, toleransi, serta perjuangan para penyebar Islam tetap terjaga di tengah perkembangan zaman. (Sas*)








