Reporter : Bima Rahmat
SuaraBojonegoro.com – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bojonegoro, gelar mediasi terkait dengan keberadaan pengelolaan tembakau di Desa Sokowati, Kecamatan Kapas Kabupaten Bojonegoro oleh PT Sata Tec. Dalam. Mediasi tersebut dihadiri oleh perwakilan PT Sata Tec Indonesia, Kepala Desa, warga Desa Sokowati, sejumlah kepala dinas terkait dan anggota DPRD. Selasa (04/02/25).
Selaku pimpinan rapat dan sekaligus Wakil Pimpinan DPRD, Mitroatin, pada intinya mengapresiasi keberadaan PT Sata Tec di Kabupaten Bojonegoro, akan tetapi PT Sata Tec harus mengindahkan dilingkungan sekitar.
“Kami ingin mendengarkan (semua pihak.red) dari awal berdirinya Sata Tec, perijinannya bagaimana dan SOP nya bagaimana,” ujarnya.
Perempuan yang akrab disapa Bunda Mitroatin ini menuturkan jika dalam investasi dengan nominal yang besar PT Sata Tec seharusnya sudah memperhitungkan segala hal baik kemanan, kenyamanan dan lain sebagainya.
“Bukan berarti kami ingin menutup. Tapi sekali lagi SOP nya bagaimana,” tuturnya.
Sementara itu perwakilan manajemen PT Sata Tec Indonesia, Nur Hidayat, menjelaskan jika PT Sata Tec Indonesia memulai kegiatan perindustrian sejak bulan April 2024. Dalam kesempatan ini, Nur Hidayat menjelaskan jika beberapa perijinan pendirian sudah lengkap.
“Namun pada pertengahan November, ketika mau melakukan trayel kondisi disitu,” katanya.
Dirinya mengaku jika pada bulan November saat perusahaan akan melakukan trayel boiler. Dalam uji coba tersebut mengagetkan warga sekitar, hal ini dikarenakan dampak dari uap yang menyebar kemana-mana. Dari kejadian tersebut pihaknya telah melakukan pendekatan dan permintaan maaf baik kepada pihak sekolah dan warga sekitar yang terdampak.
“Pada saat itu kita sudah mediasi dengan bapak lurah,” jelasnya.
Namun demikian hingga saat ini belum ada kesepakatan atau jalan keluar terkait dengan permasalahan ini. Oleh karenanya pihak Sata Tec memutuskan untuk mengundurkan jam kerja, yangmana perusahaan akan beroperasi disaat jam pulang anak sekolah.
Nur Hidayat mengaku jika yang mengakibatkan bau tidak sedap yang dikeluarkan oleh perusahaan adalah ketika kondisi lembab, tidak ada angin atau ketika setelah hujan. Untuk mengakomodir hal itu, pihak keamanan dari PT Sata Tec, keamanannya untuk selalu mengecek baik di dalam maupun di luar area sekitar.
“Ini kondisi kita saat belum berbenah untuk cerobong. Selanjutnya dari pihak sekolah kita sudah memberikan jembatan untuk memberi solusi. Dari luar kita berikan kipas dan dalam kita berikan AC. Memang dari sekolah tidak meminta tapi kita mencari win win solution,” imbuhnya.
Di forum ini dirinya memohon agar ada solusi terbaik agar, perusahan tetap berjalan tanpa merugikan lingkungan.
“Ini yang sudah berjalan UKL-UPL, kita bersama konsultan dan DLH juga, kita kebut untuk memberikan administrasi dokumen yang baik dan benar. Dan juga kemungkinan di bulan Februari akhir nanti sudah terealisasi semuanya,” pungkasnya. (Bim/red).







