Mantan Bupati Suyoto Ajak Dukung Jokowi-Ma’ruf Dengan Keyakinan

oleh -75 views

Reporter : Bima Rahmat

SuaraBojonegoro.com – Dihadapan para mahasiswa yang tergabung dalam Central Mahasiswa Pro Jokowi, mantan Bupati Bojonegoro, Suyoto, menyatakan bahwa bangsa atau umat itu mempunyai masa-masa kematian dan apabila datang masa kemayian bangsa itu tidak bisa dimajukan atau dimundurkan. Senin (18/02/19).

Selain itu, Suyoto, menegaskan bhawa sebuah fitnah atau musibah dapat menimpa bukan saja kepada orang-orang yang zolim saja akan tetapi orang-orang baik pun bisa ditimpa musibah atas kezoliman orang lain.

“Demokrasi itu dibuat supaya kita semua bisa menyatakan subjek kita hari ini dan pilihan-pilihan kita dengan pasti tanpa ada rasa khawatir,” katanya.

Dirinya menegaskan bahwa mendukung Jokowi-Makruf Amin secara subjektif dengan argumen dan alasan. Namun demikian, Suyoto, menjelaskan jika keyakinan tersebut tidak hanya untuk pribadi saja, karena kebenaran haruslah diperjuangkan dan dipertandingkan dlaam kontek demokrasi dan karena itu kemudian Pilpres dan pileg dibuat.

“Maka sudah betul yang namanya golputitu bukan solusi, diam bukan solusi, kekuasaan itu harus direbut dipertahankan dan ketika menang kekuasaan itu harus dipersembahkan untuk rakyat. Itulah mengapa kita tidak boleh golput, karena kita harus berpihak dan sebap itulah demokrasi dibuat dan yang ketiga tidak ada kekuasaan yang datang sendiri harus direbut dan dipertahankan. Bedanya ada yang merebut untukdiro dan keluarganya, dan Pak Jokowi, merebut mempertahankan untuk rakyat Indonesia,” ujarnya.

Dalam kesempatan ini, mantan Bupati Bojonegoro, dua periode ini menegaskan bahwa Indonesia dapat bubar kapan saja. Menurutnya, ada tiga hal yang menjadikan bangsa Indonesia ini menjadi kuat diantaranya adalah, ada kemauan bersama untuk terus bersatu dan tekat bersatu yang kedua adalah bangsa tersebut punya jalan untuk memenuhi kebutuhannya dan unggul dari bangsa-bangsa yang lain. Dan yang ketiga adalah bangsa tersebut mampu membangun karakter bangsa nya untuk menjadi bangsa yang unggul dan kuat.

“3 inilah yang oleh Bung Karno disebut dengan Trisakti, oleh kalangan NU disebut Islam nusantara khususnya oleh orang muhammadiyah disebut Darul Ahdi wa Syahadah inilah konsensus ke Indonesiaan,” ucapnya.

Pada tahun 45, lanjutnya, saat dideklarasikan semua sepakat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang tegak dengan Kebinikaan dan Pancasila sebagai moral bersama.

“Mangkanya saya mengerti kenapa Pak Basir, yang tadinya mau dikeluarkan tidak jadi, karena tidak mau menandatangani Konsensus ini. Ini adalah perjanjian,” katanya.

Selanjutnya yang kedua adalah cara memenuhi, cara mensejahterakan, cara aman, cara damai dan cara dihormati oleh bangsa lain adalah melalui pilar ekonomi yang dalam priambol kemerdekaan Indonesia yang cerdas, sehat, aman dami dan bermartabat ditengah-tengah bangsa.

“Bagaimana cara membangun ekonomi. Kita belum ada penjelasan, dulu kita punya GBHN, dan tidak ada garis-garis besar idelogi yang menjelaskan bagaimana kita membangun ekonomi. Karena itulah maka politisi kalau background nya agama yang diomongkan agama, kalau dia beground nya seniman yang diomongkan seniman,” ucapnya.

Dalam membangun bidang ekonomi ini, Suyoto, memberikan contoh di negara Inggris yang emmpunyai dua partai besar yakni partai republik dan konservatif yang sama dengan di negara Amerika yang punya dua partai yakni Demokrat dan Republik. Yamgmana negara tersebut punya satu pandangan yang sama yaitu kapitalisme sebagai cara untuk membangun ekonomi.

Dalam revormasi ini Indonesia mempunyai penggalan-penggalan dan dibuatlah RPJP 25 tahun. Dan diera Presiden Jokowi, melihat bangsa yang produktif harus mempunyai infrastruktur yang cukup yang kedua adalah SDM nya haruslah produktif dan bukan SDM yang konsumtif.

“Maka PakJokowi di mana-mana mengatakan, kita sudah terlalu lama menggunakan pendekatan konsumtif dan saatnya kita memperkuat pendekatan produktif di dalam membangun ekonomi. Maka infrastruktur tol dan lain-lain itu hanya prasyarat kecil, tapi orang sering melihat Pak Jokowi, itu mengeluarkan berbagai deregulasi dan regulasi pembangunan ekonomi supaya ada kompetitif bagi bangsa Indonesia ini. Supaya kita bisa Ekspor, kita bisa impor tapi revenue bangsa ini akan naik. Karena kalau ekonominya tumbuh, insya allah kesejahteraan kita bisa naik dan isu politik nya bukan hanya isu distribusi,” jelasnya.

Menurutnya, Pancasila, sila ke lima bukan hanya diteriakkan keadilan sosial mana bagian saya. Akan tetapi keadilan sosial menurutnya adalah bagaimana peran kita.

“Yang sekarang diteriakkan ini mana bagian saya. Kenapa, karena kita terlalu lama ekonomi kita berpaku, bertumpu pada sumber daya alam. Sudah terlalu lama kita mendengungkan Indonesia kaya raya, alamnya banyak. Maka setiap politisi datang kemudian mereproduksi sakit hati dengan yang lain,” katanya.

Dalam ekonomo produktif, harus saling menguatkan dan saling mendukung satu dengan yang lain. Maka dari itu, Suyoto, menegaskan bahwa bangsa Indonesia ini haru menjadi bangsa yang produktif dan bukan menjadi bangsa yang konsuntif.

“Pak Jokowi menurut saya adalah fokusnya produktif. Dan oleh karena itu lah jalan kedua bangsa kita,” tambahnya.

Selain itu adalah karakter bangsa atau yang disebut revolusi mental. Yakni revolusi mental dengan karakter, dengan keteladanan. Akan tetapi dalam membangun karakter mental ini tidak dapat diwujudkan secara instan.

“Kalau kita mau ngomong kenapa Indonesia masih seperti ini. Enggak fair kalau cuma untuk Pak Jokowi. Kalau kita mau jujur, semua politisi, karena ini demokrasi maka eksekutif, legeslatif dan yudikatif harus ikut bagian. Dan kalau mau jujur rakyat Indonesia harus ikut bagian. Karena demokrasi itu memberikan hak dan kewajiban pada semua,” tegasnya.

Menurutnya, negara yang maju adalah negara yang dihasilkan dari pajak rakyatnya. Dan pajak rakyat tercipta dari produktifitas ekonomi yang difasilitasi oleh pemerintah bersama-sama dengan yang lain.

“Dan inilah yang sedang berjalan dan sedang dirancang oleh Pak Jokowi,” katanya.

Dalam kesempatan ini, dirinya mengajak para mahasiswa untuk bergerak dan bekerja untuk memenagkan calon presiden Jokowi-Makruf Amin, dengan cara yang baik dan menghindari cara-cara hoax. Serta tidak saling menyakiti dan saling menghormati jika ada perbedaan. (Bim/red).