Mahasiswa Ingin Dilibatkan di Industri Manufaktur

oleh

BOJONEGORO, SB.com – Meski mayoritas pemuda Bojonegoro orang tuanya petani, namun jarang yang bercita-cita ingin bekerja di bidang pertanian. Mereka lebih memilih ingin menjadi dokter, atau pegawai yang lebih mapan, dan bisa memberikan jaminan masa depan.

Anggapan inilah yang akan diubah oleh pasangan calon bupati (Cabup) dan wakil bupati (Cawabup), Soehadi Moeljono dan Mitroatin, dalam waktu lima tahun kedepan jika dipercaya memimpin Bojonegoro.

Pasangan yang dikenal masyarakat dengan sebutan “Mulyo Atine” ini, akan memaksimalkan potensi pertanian dengan melakukan percepatan pembangunan industri jasa dan manufaktur. Industri ini diyakini akan mampu meningkatkan nilai ekonomi komoditas pertanian, peternakan, perikanan, dan perkebunan, serta mencipatkan lapangan pekerjaan baru warga di bumi Angling Dharma, Bojonegoro.

Laila Puji Lestari (27), mahasiswi jurusan Keperawatan Universitas Brawijaya, Malang, asal Desa Growok, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mengaku, menjadi seorang anak petani tidak menjadikannya bercita-cita menjadi petani.

“Karena menjadi seorang petani itu sangat berat, dan butuh perjuangan panjang,” katanya kepada wartawan, Jumat (18/5/2018).

Selama ini, kedua orang tuanya meminta agar Laila, sapaan akrabnya, sekolah tinggi dan tidak menjadi petani. Mengingat, setiap panen tiba harga gabah yang dihasilkan cenderung turun.

“Jadi, memang diminta orang tua sekolah yang tinggi agar tidak menjadi petani,” jelasnya.

Menurutnya, kondisi ini akan berbeda jika di Bojonegoro ada industri manufaktur berupa pabrik pengolahan hasil pertanian yang dapat memberikan nilai tambah ekonomi bagi petani.

Industri tersebut perlu pemikiran anak-anak muda untuk mengembangkan usaha di sektor pertanian, agar petani tidak langsung menjual gabah usai panen. Atau paling tidak, ketika mutu atau kualitas gabah menurun, akan tetap terjual dengan mengolahnya menjadi bahan baku tepung atau makanan lainnya.

“Di sinilah peran pemuda dibutuhkan, tidak perlu lulusan pertanian untuk itu. Cukup belajar dari daerah lain yang memiliki industri manufaktur, dan kita jalankan,” tandasnya.

Diharapkan Bupati terpilih mendatang, memberikan pelatihan bagi para pemuda cara mengembangkan industri manufaktur yang sekarang ini belum ada di Bojonegoro.

“Harus dimulai sejak sekarang,” pungkasnya.

Senada disampaikan Mohamad Khamim, pemuda jebolan Universitas Negeri Malang (UM), jurusan Fakultas Ekonomi. Kurang minatnya para pemuda di sektor pertanian harus segera ditangani pemerintah.

“Kalau tidak, pertanian bisa kandas karena tidak ada regenerasi,” sambungnya dikonfirmasi terpisah.

Selama ini pertanian dan petani Indonesia, termasuk Bojonegoro identik dengan kesengsaraan. Dibutuhkan perhatian besar dari pemerintah agar image tersebut berubah, diantaranya memaksimalkan bantuan alat pertanian, bantuan pupuk, bibit, dan sentuhan tekonologi dalam pengelolaan pertanian.

“Sekarang ini kalau kita bicara soal pertanian pasti berkutat pada gagal panen, pupuk mahal, harga jatuh, dan lain sebagainya,” tuturnya.

Oleh karena itu, sistem pengelolaan pertanian di tingkat petani harus diperbaiki lebih dulu, baru kemudian melangkah pada industri manufakturnya yakni pengolahan hasil pertanian yang ada di Bojonegoro baik padi, jagung, bawang merah, tembakau, dan juga tebu.

“Itu akan menghasilkan nilai tambah dari pertanian itu sendiri. Dan tentu saja, akan menarik tenaga kerja dari kawula muda,” tandasnya.

Untuk mengembangkan industri manufaktur di Bojonegoro, alangkah baiknya jika bupati terpilih nanti memetakan permasalahan terlebih dahulu, atau melakukan kajian bersama dengan instansi terkait agar industri ini bisa berkembang dan tidak tutup di tengah jalan.

“Besar harapan kami, termasuk saya bisa ikut mengembangkan industri manufaktur jika memang ada. Karena tidak hanya mengandalkan tenaga, tapi juga otak supaya ini berjalan dengan baik dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Bojonegoro,” pungkasnya.

Menanggapi hal itu, Cabup Soehadi Moeljono, telah melakukan kajian awal untuk membangun industri manufaktur dengan memaksimalkan potensi pertanian di Bojonegoro. Selama ini pertanian yang lebih hidup ada di bagian utara Bojonegoro karena mengandalkan pengairan Sungai Bengawan Solo.

“Karena itu, kedepan kita akan mempercepat pembangunan Waduk Gongseng, beserta jaringan sarana irigasi persawahan, dan pemberian jaminan ketersediaan pupuk bagi petani, agar pertanian di wilayah selatan juga bisa lebih maksimal dan bisa menjadi pendukung industry ini,” jelas Pak Mul.

Ditambahkan, pembangunan industri manufaktur ini akan mempercepat pengurangan jumlah pengangguran karena jumlah lapangan pekerjaan yang tersedi cukup banyak, dan dalam jangka waktu panjang. Bukan seperti migas yang hanya membutuhkan tenaga kerja banyak di awal konstruksi, setelah kembali terjadi penumpukan pengangguran.

“Ini juga akan mempercepat mengurangi kemiskinan di Bojonegoro, nilai ekonomi komoditas pertanian akan meningkat, warga usia produktif mendapat jaminan pekerjaan dari adanya industri ini,” pungkas cabup yang berpsangan dengan Kader NU ini.(*)
[18/5 18.41] Dwi Suko: Pemdes Berharap BUMDes Dilibatkan Industri Manufaktur

Bojonegoro – Masih tingginya angka pengangguran di Bojonegoro disebabkan belum adanya industri yang mampu membuka lapangan pekerjaan dalam jumlah banyak dengan jangka waktu panjang. Industri migas yang ada hanya membutuhkan tenaga kerja besar di awal konstruksi, setelah itu kembali terjadi penumpukan pengangguran.

Berdasarkan data di Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Bojonegoro, jumlah pengangguran tahun 2017 lalu, sebanyak 23.329. Jumlah ini meningkat disbanding 2016, sebanyak 23.320 orang. Banyak juga warga yang merantau, atau bekerja di luar daerah karena tidak adanya jaminan pekerjaan di tanah kelahiran mereka.

Problema inilah yang akan dicarikan solusinya oleh calon bupati (Cabup) dan wakil bupati (Cawabup), Soehadi Moeljono dan Mitroatin, untuk menekan jumlah pengangguran, sekaligus mempercepat menangani kemiskinan.

Pasangan yang memiliki slogan “Semua Bekerja Semua Sejahtera” ini, akan mengoptimalkan bidang pertanian dengan mempercepat pembangunan industri manufaktur untuk meningkatkan nilai ekonomi komoditas pertanian, peternakan, perikanan, dan perkebunan, serta mencipatkan lapangan pekerjaan baru warga.

Kepala Desa Sambiroto, Kecamatan Kapas, Sudjono, menjelaskan, desanya merupakan wilayah pertanian dengan lahan persawahan seluas 300 hektar (Ha). Namun demikian, belum ada satupun regenerasi petani hingga sekarang ini.

“Tidak ada sama sekali generasi muda yang bekerja di sektor pertanian,” katanya kepada Wartawan, Jumat (18/5/2018).

Mayoritas pemuda memilih menjadi pekerja proyek maupun pabrik, atau tidak bekerja daripada harus turun ke sawah.

“Mereka cari pendapatannya yang jelas atau tiap bulan,” ucapnya.

Selama ini belum ada inovasi dari pemerintah setempat guna menarik pemuda agar bisa terlibat di sektor pertanian. Oleh karena itu, pihaknya sangat setuju jika kedepan ada industri manufaktur berupa pengolahan hasil pertanian.

“Kita bisa libatkan BUMDes jika memang ada industri manufaktur di sektor pertanian,” tandasnya.

Adanya pabrik pengolahan hasil pertanian ini, menurut dia, akan bisa menekan angka pengangguran dan meningkatkan pendapatan masyarakat.

“Di sini ada 300 pemuda, 10 persennya bekerja di luar daerah sisanya tidak bekerja,” ungkapnya.

Pihaknya berharap, Pemkab kedepan bisa memberikan pelatihan dan pendampingan agar para pemuda bisa terlibat dan mengembangkan industri manufaktur seperti yang diwacanakan.

“Harapannya bisa terwujud dan menyerap tenaga kerja,” pungkasnya.

Senada disampaikan Kepala Desa Campurejo, Kecamatan Bojonegoro, Edi Sampurno. Keterlibatan para pemuda di sektor pertanian di wilayahnya masih kurang maksimal.

“Harus ditingkatkan lagi, karena sekarang sudah mulai ada rintisan re generasi petani di Campurejo,” tandasnya.

Kecanggihan tekhnologi pertanian sekarang ini, seperti traktor, drone, dan lain sebagainya, para pemuda tidak lagi berkotor-kotoran membajak tanah menggunakan kerbau.

“Sekarang alat pertanian sudah canggih dan itu membutuhkan tenaga anak-anak muda,” tandasnya.

Di desa ini sebelumnya telah ada pengolahan hasil pertanian, namun sekarang kondisinya mati suri. Penyebabnya terkendala sumber daya manusia (SDM), dan tidak mampu bersaing dalam pemasaran.

“Saya sangat setuju, jika ada industri manufaktur berupa pengolahan hasil pertanian. Karena di sini sudah ada contohnya,” tegas Edi.

Pengolahan hasil pertanian di desa ring 1 Lapangan Migas Sukowati, Blok Tuban, ini masih berupa home industri, belum berskala besar. Kedepan pihaknya akan memanfaatkan BUMDes untuk melakukan pengolahan akan banyak tenaga kerja yang terserap.

Pihaknya berharap, Pemkab kedepan bisa memberikan pelatihan dan pemberdayaan untuk menunjang pembangunan industri manufaktur agar produk yang dihasilkan mendatangkan keuntungan. Dengan begitu, pemuda Campurejo tidak selalu bergantung pekerjaan pada industri migas.

“Ada sekitar 500 pemuda di Desa Campurejo, hampir semuanya belum mendapatkan pekerjaan,” pungkasnya.

Dimintai tanggapannya, salah satu Cabup Bojonegoro, Soehadi Moeljono, menyatakan, pihaknya akan mempercepat pembangunan pembangunan industri manufaktur untuk meningkatkan nilai ekonomi komoditas pertanian, peternakan, perikanan, dan perkebunan, serta mencipatkan lapangan pekerjaan baru warga usai produktif.

“Kedepan kita akan bersinergi dengan pemerintah desa, tentang peluang-peluang apa saja yang bisa diambil melalui BUMDes dari keberadaan industri tersebut,” tegas Pak Mul, sapaan akrabnya.

Disamping mencipatakan peluang kerja, lanjut dia, dengan pembangunan industri manufaktur ini akan memunculkan usaha ikutan yang dapat ditangkap masyarakat untuk meningkatkan ekonominya.

“Goal dari industri ini adalah mengurangi angka pengangguran dan kemiskinan, sehingga masyarakat Bojonegoro menjadi mandiri dan tangguh,” pungkas mantan Sekda yang sudah 32 tahun mengabdikan diri sebagai PNS di Pemkab Bojonegoro ini. [lis]