Ironi, Berkah Migas Bojonegoro Dianggap Belum Merata

oleh
Sumber foto www.google.com

SUARABOJONEGORO.COM – Ironi, senantiasa melekat pada Kabupaten Bojonegoro seiring meningkatnya intensitas industrialisasi minyak dan gas bumi (migas) Bojonegoro. Sebagai daerah lumbung migas, Bojonegoro menyumbang produksi siap jual (lifting) minyak bumi Nasional secara signifikan.

Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Bojonegoro, Imam Muhlas menjelaskan, selama lima tahun terakhir, produksi siap jual minyak bumi Bojonegoro mengalami peningkatan rata-rata 9 juta barel per tahun, dari sekitar 21 juta barel pada 2013 mencapai sekitar 57 juta barel. Pada 2017 (Triwulan III), mengiringi kenaikan Dana Bagi Hasil (DBH) dari minyak rata-rata mencapai Rp 620 miliar per tahun.

Berkah minyak pun, lanjut dia, mendongkrak APBD Bojonegoro dari Rp 2,1 triliun pada 2013 mencapai Rp 3,4 triliun pada 2018. “Capaian ini, seolah tidak sebanding dengan tingkat penurunan kemiskinan yang terbilang lamban, rata-rata hanya 0,4% per tahun dalam lima tahun terakhir, dari 15,96% pada 2013 menjadi 14,34% saja pada 2017,” jelasnya.

Pria yang akrab disapa Geka ini menambahkan, mentransformasikan berkah migas untuk pemerataan kesejahteraan rakyat senantiasa menjadi tantangan berat bagi Bojonegoro.

“Kerena itu, kami mengundang warga Bojonegoro untuk menuangkan gagasann tentang Lumbung Migas dan Kemiskinan dalam bentuk esai,” ucap pria berkulit sawo matang ini.

Karangan bebas tertulis yang membahas masalah dari sudut pandang pribadi penulis. Tulislaan esai, dari hasil refleksi dan atau observasi tentang tantangan yang dihadapi Bojonegoro dalam rangka pengentasan kemiskinan di era industri migas.

Dalam rangka menyambut hardiknas, FTBM Bojonegoro mengadakan lomba essay dengan tema lumbung migas dan kemiskinan. Sebab, mengingat pentingnya sebuah tulisan dan pengetahuan terkait pengelolaan SDA yang ada di Bojonegoro. Utamanya di sektor migas yang juga notabene Kabupaten Bojonegoro merupakan penghasil minyak.

Peran penting essay, tambahnya, selain sebagai upaya memberikan pengetahuan bagi masyarakat melalui karya tulis, juga merupakan sebuah kompetensi alias berbasis sumber yang jelas. Sehingga, baik penulis dan atau peserta lomba akan menyuguhkan informasi yang lugas dan transformatif informatif.

“Karena ternyata tidak banyak masyarakat luas tahu dan paham seberapa besar hasil pengelolaan minyak berdampak kepada PAD dan pembangunan daerah, secara kabupaten dan wilayah sekitar pengelolaan. Baik dari dana bagi hasil, sudah berapa barel minyak yang sudah di ambil, dan keseuaian dengan pembangunan SDM dan terkait dampak,” imbuhnya. (ron/yud)

Reporter : Albahris Sya’roni

Editor : M.E Wahyudi