SuaraBojonegoro.com – Pada 11 Agustus 2025, KKN-TK kelompok 13 lakukan studi ke Desa Tambakmerak mengenai sistem bank sampah. Bank sampah merupakan suatu fasilitas yang memiliki fungsi pengelolaan sampah sebagai sarana edukasi, perubahan perilaku dalam pengelolaan sampah, dan pelaksanaan ekonomi sirkular, yang dibentuk dan dikelola oleh masyarakat, badan usaha, dan/ atau pemerintah daerah.
Desa Tambakmerak memberdayakan Ibu-Ibu PKK sebagai petugas Bank Sampah, mereka berorientasi pada terciptanya lingkungan yang bersih dan mengajak warga untuk mengubah pandangan mengenai sampah yang tidak dapat dimanfaatkan menjadi sebuah sumber pundi-pundi rupiah. Sistem bank sampah yang ada di Desa Tambakmerak menggunakan 2 metode dalam penukarannya, yaitu cash dan tabungan dalam jangka waktu 1 tahun. Karena masih dalam tahap awal merintis, Desa Tambakmerak belum melaksanakan pengolahan sampah menjadi barang bernilai ekonomi secara menyeluruh, namun upaya tersebut saat ini telah dilakukan dengan mengubah sampah bungkus kopi menjadi tas.
“Intinya, apabila ingin menjadikan sebuah kegiatan positif berpengaruh ke masyarakat itu harus ada keinginan kuat dari pengurus atau kadernya. Kalau di Tambakmerak kami akan menerima panggilan dari warga jika sampah sudah terkumpul, nanti akan kami jemput menggunakan kendaraan yang telah disediakan desa, lalu sampahnya kita timbang langsung di rumah warga itu”, jelas Rumi sebagai Ketua Ibu-Ibu PKK Desa Tambakmerak yang juga berperan sebagai kader Bank Sampah.
Kehadiran bank sampah di Desa Tambakmerak menjadikan masyarakat mampu terlibat secara aktif dalam pengelolaan sampah, mulai dari pemilahan, pengumpulan, hingga pengangkutan.
Tahun 2024 yang lalu, Desa Tambakmerak ada yang mencapai tabungan Rp500.000/ orang. Hal ini dikarenakan beberapa barang yang disetorkan warga kepada petugas sangat beragam, mulai dari sandal bekas, plastik bekas, kaleng, hingga besi. Masing-masing barang tersebut juga memiliki pola fluktuatif di kalangan pengepul.
Desa Malo sendiri telah mencoba sistem ini dengan melakukan kerjasama antara BUMDEs dengan salah satu warganya. Namun sayangnya, kerjasama ini tidak berjalan dengan lancar dikarenakan beberapa persiapan administrasi yang belum matang.
“Kalau untuk pemanfaatan sampah menjadi produk bernilai jual memang belum ada mbak, tapi kalau misalkan disediakan ya Alhamdulillah, kalau ngga ya dijual mentahan apa adanya saja.”, ujar Rifai yang menjadi satu-satunya pengepul di Desa Malo.
Warga di Desa Malo yang berada di sekitar rumah Bapak Rifai akan mengantarkan langsung sampah mereka. Melihat kesempatan ini, pabila tercipta suatu sinergi kembali secara maksimal antara pengepul dengan BUMDEs, maka peluang terlaksananya ekonomi sirkular akan terbuka lebar. Melalui studi yang dilakukan KKNTK kelompok 13 di Desa Tambakmerak, diharapkan mampu dikembangkan di Desa Malo dengan mempertimbangkan kebutuhan dan kondisi lokal, sehingga solusi pengelolaan sampah yang dihasilkan dapat disesuaikan dengan karakteristik wilayah dan masyarakat setempat. (Red/Lis)








