SuaraBojonegoro.com – Alih-alih membakar jerami yang kerap memicu polusi, kelompok petani Setyo Budi Utomo di Desa Luwihaji, Kecamatan Ngraho, Bojonegoro, memilih jalan yang lebih bijak. Mereka kini mulai memproduksi dekomposer cair secara mandiri sebagai langkah strategis untuk mengembalikan kejayaan kesuburan tanah.
Kegiatan ini bukan sekadar coba-coba. Di bawah bimbingan langsung petugas lapangan dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bojonegoro, para petani belajar memastikan proses fermentasi mikroba berjalan optimal agar menghasilkan pupuk hayati berkualitas tinggi.
Moch. Minan, PPL DKPP Bojonegoro yang mendampingi kelompok tersebut, menjelaskan bahwa dekomposer ini berfungsi sebagai “pasukan mikroba” yang mempercepat penguraian sisa organik.
“Sisa jerami di lahan sering kali menjadi tempat persembunyian hama dan penyakit dari musim sebelumnya. Dengan dekomposer ini, kita tidak hanya mempercepat penguraian menjadi unsur hara, tapi juga memutus siklus hidup organisme pengganggu tanaman secara alami,” jelas Minan.
Tiga Keuntungan Utama bagi Petani
Pemanfaatan teknologi hayati buatan sendiri ini membawa perubahan signifikan bagi pola kerja petani di Desa Luwihaji, diantaranya adalah Hemat Kantong karena Petani tidak lagi bergantung sepenuhnya pada produk kimia pabrikan yang harganya sering melonjak.
Kemudian Populasi mikroba baik dalam dekomposer membantu memperbaiki struktur tanah yang jenuh akibat pemakaian pupuk kimia jangka panjang.
Waktu Tanam Lebih Efisien, dengan Jerami yang biasanya membutuhkan waktu lama untuk membusuk kini terurai lebih cepat. Lahan pun siap ditanami kembali dalam waktu singkat tanpa harus menunggu lama.
Langkah ini juga menjadi solusi konkret bagi kampanye larangan membakar jerami. Dengan mengolah sisa panen kembali menjadi nutrisi, petani sebenarnya sedang berinvestasi pada kualitas lahan mereka untuk jangka panjang.
“Pembuatan dekomposer ini adalah kunci. Kita sedang mengembalikan hak tanah melalui bantuan mikroba. Ini cara kita melestarikan kesuburan untuk anak cucu nanti,” tambah Minan optimis.
Melalui gerakan di tingkat desa ini, Kecamatan Ngraho diharapkan menjadi pionir penerapan teknologi hayati di Bojonegoro. Harapannya, ketahanan pangan nasional dapat terwujud yang dimulai dari pengelolaan lahan yang sehat dan mandiri oleh para petani. (Red/Lis)








