Peserta KKN-Tak Kelompok 4 Unigoro, Jelajahi Sendang Pradok, Jejak Leluhur, Mitos, dan Kesakralan di Tengah Hutan Desa

SuaraBojonegoro.com – Di sebuah kawasan yang tenang dan asri di Dusun Pradok Desa Bubulan Kabupaten Bojonegoro, terdapat sebuah sendang yang dipercaya menyimpan nilai sejarah, spiritual, dan mitologi tinggi.

Sendang Pradok, demikian masyarakat menyebutnya, bukan sekadar sumber mata air biasa. Di balik kejernihan airnya dan rindangnya pepohonan yang mengelilinginya, tersimpan kisah-kisah yang diwariskan turun-temurun dari para sesepuh desa. Cerita-cerita itu tidak hanya menjadi legenda, tetapi juga membentuk sistem kepercayaan yang masih hidup hingga hari ini.

Menurut para sesepuh, kawasan sendang ini dulunya merupakan hutan belantara, jauh dari pemukiman manusia. Alkisah, seseorang dari luar desa secara tidak sengaja menjumpai sosok perempuan anggun yang dikelilingi oleh para pengikutnya. Ketika ditanya, “Sinten to panjenengan niku?” yang artinya “Anda ini siapa?”, sosok tersebut menjawab bahwa namanya adalah Siti Sundari, sementara salah satu pengikutnya memperkenalkan diri sebagai Joko Lodang.

Siti Sundari digambarkan sebagai perempuan berparas cantik dengan aura keibuan yang memikat. Adapun Joko Lodang dikenal sebagai pria tinggi, kekar, dan berwibawa, sehingga masyarakat percaya bahwa dia adalah pengawal setia Siti Sundari. Identitas mereka yang sebenarnya masih menjadi teka-teki, karena dalam tradisi Jawa, terutama dalam konteks kerajaan, nama-nama bangsawan kerap berubah saat mereka berada di luar lingkungan istana.

Konon, setelah keruntuhan Kerajaan Majapahit, Siti Sundari melakukan perjalanan pelarian dan singgah di wilayah yang kini dikenal sebagai Dusun Pradok. Dalam keadaan kehausan, ia menemukan mata air di tengah hutan, yang kelak dikenal sebagai Sendang Pradok. Nama “Pradok” sendiri dipercaya berasal dari gabungan kata “Prabu Wedok” dalam bahasa Jawa berarti Raja Perempuan. Hal ini mencerminkan betapa perempuan pada masa itu sangat dihormati, bahkan dianggap memiliki kedudukan spiritual yang tinggi.

Baca Juga:  Sinergi Mahasiswa KKNTK 14 UNIGORO dan Kader Posyandu Dukung Pelayanan Kesehatan di Desa Bareng, Sekar

Kesakralan sendang ini tidak lepas dari peristiwa-peristiwa mistis yang diyakini terjadi di sekitarnya. Salah satu kepercayaan yang sangat dijaga adalah larangan bagi perempuan yang sedang menstruasi untuk memasuki area inti sendang, terutama yang dahulu dipagari sebagai batas suci. Pantangan ini diyakini bukan sekadar tradisi, melainkan aturan spiritual yang jika dilanggar dapat berakibat fatal.
Beberapa peristiwa tragis disebut pernah terjadi akibat pelanggaran tersebut. Tercatat tiga hingga empat orang di antaranya pelajar dari MTs dan SMP Bubulan, serta seorang pengunjung dari daerah Ngumpak Dalem mengalami kejadian yang mengarah pada kematian setelah memasuki kawasan sendang dalam kondisi tidak suci. Salah satu korban bahkan dikabarkan sempat menyampaikan penyesalan mendalam menjelang ajalnya. Meski demikian, masyarakat tetap menyadari bahwa segala sesuatu tetap berada dalam kuasa dan ketetapan Tuhan.
Nilai sejarah Sendang Pradok pun tak kalah menarik.

Pak Win, salah satu tokoh masyarakat setempat, pernah menemukan koin logam bertahun 1854 dalam kondisi utuh di sekitar area sendang. Penemuan ini memperkuat dugaan bahwa kawasan tersebut telah lama menjadi pusat aktivitas spiritual dan sosial.
Selain kisah utama tentang Siti Sundari, masyarakat juga mengenal mitos seputar Pande Besi sebuah tempat yang terletak sekitar 300 meter ke arah timur dari sendang.

Menurut cerita, saat akan turun hujan, besi-besi di tempat itu akan muncul ke permukaan tanah secara misterius. Namun, mitos ini tidak memiliki kaitan langsung dengan Sendang Pradok dan lebih dianggap sebagai bagian dari keunikan lokal desa.
Kebiasaan menarik lainnya adalah tradisi memasukkan koin ke dalam sendang oleh warga desa luar yang mengambil air. Meski tidak wajib, hal ini dimaknai sebagai bentuk penghormatan atau “membayar” air yang diambil, sesuai dengan nilai-nilai lokal yang dijunjung tinggi. Beberapa orang bahkan meyakini bahwa air dari sendang ini memiliki khasiat khusus. Jika diminum langsung, airnya tidak menyebabkan batuk atau pilek, bahkan bagi orang luar desa. Ada dugaan bahwa kandungan mineral alami dari akar pohon beringin yang tumbuh di sekitar sendang menjadikan air ini tetap steril dan menyehatkan.
Sendang Pradok bukan hanya tempat untuk menimba air, melainkan juga ruang spiritual yang menyimpan memori kolektif masyarakat desa. Di antara sisa-sisa dupa, kemenyan, dan batu dakon yang tersembunyi, terdapat jejak-jejak perjalanan leluhur, pelarian tokoh agung seperti Kencono Wungu dan bahkan Patih Gajah Mada, yang menurut Pak Win pernah singgah di sendang ini dalam masa pelarian mereka.
Meski banyak kisah yang sulit diverifikasi secara historis, masyarakat meyakini bahwa seluruh cerita yang beredar tidak pernah ditambahi atau dikurangi dari versi asli yang diwariskan oleh para sesepuh. Kepercayaan ini membentuk jalinan spiritual antara warga dengan alam sekitar mereka sebuah bentuk kearifan lokal yang tetap lestari di tengah arus modernitas.

Baca Juga:  Soroti Keberlanjutan Culture Site Gerabah Malo, Kelompok 15 KKN TK Unigoro Gelar Lomba Mewarnai Gerabah

Pada akhirnya, Sendang Pradok adalah simbol harmoni antara manusia, alam, dan kekuatan tak kasat mata yang diyakini menyertainya. Ia adalah warisan budaya, saksi sejarah, dan ruang sakral yang mengajarkan pentingnya menjaga keselarasan antara kepercayaan, kearifan, dan kebaikan hati dalam menyikapi warisan leluhur.

*) KKN Mahasiswa Universitas Bojonegoro Kelompok 4 Tahun 2025.