Unigoro Bersama EMCL Buat Petani Lebih Cerdas Dengan Diseminasi Sekolah Lapang

oleh -

Reporter: Bima Rahmat

SuaraBojonegoro.com – Bersama dengan ExxonMobil Cepu Ltd (EMCL), Universitas Bojonegoro (Unigoro) hari ini menggelar Diseminasi Program Sekolah Lapang Pertanian 2019. Kamis (26/09/19).

Ketua Yayasan Suyitno, menyatakan bahwa tujuan kegiatan Diseminasi Program Sekolah Lapang Pertanian ini adalah untuk membuat para petani lebih cerdas. Selain itu kegiatan tersebut juga bertujuan untuk meningkatkan hubungan harmonis antara perusahaan yang dalam hal ini adalah EMCL dengan masyarakat di Kecamatan Gayam.

“Untuk perguruan tinggi, tujuannya adalah untuk pengabdian kepada masyarakat,” katanya.

Dalam kesempatan ini dirinya menjelaskan jika untuk peserta terdapat 130 peserta yang dibagi menjadi dua yakni petani dan taruna tani. Untuk petani lebih diprioritaskan pada masyarakat kemudian untuk peserta dari SLP 1 hingga SLP 3 tidak pernah sama. Sehingga penerimaan manfaat program EMCL akan semakin banyak yang dilibatkan.

“Harapannya total itu ada 200 sekian,” ujarnya.

Sedangkan pada taruna tani yakni pada anak petani yang usianya tidak lebih dari 32 tahun. Pada SLP 2 taruna tani akan diajarkan bagaimana cara memasarkan produknya di media online termasuk cara pengolahan labu madu.

“Kemarin sudah diajarkan semua,” imbuhnya.

Lebih jauh, Arief Januarso, menjelaskan bahwa pada SLP 2 pihaknya berniatan akan membuat sebuah siklus yang mana saat petani membutuhkan uang, SLP 2 mendatangkan Bank BRI agar para petani tahu bagaimana cara mengajukan kredit dengan bunga yang murah.

“Petani itu susahnya saat sedang panen biasanya diserbu oleh tengkulak. Kita coba untuk membuat resi gudang, jadi hasil pertaniannya kita taruh di resi gudang. Pada saat harga padi itu sudah baik baru dijual,” tambahnya.

Pada saat hasil pertanian tersebut ditaruh di resi gudang para petani akan diberi surat dan surat tersebut dapat diuangkan di Bank Jatim. Pihaknya juga menanamkan asuransi, sehingga setelah itu Unigoro akan menghitung apakah uang yang pinjam di Bank dan juga ditaruh di resi gudang masih menguntungkan atau tidak.

“Ternyata yang beleset di SLP 2 itu adalah kaitannya dengan resi gudangnya. Ternyata resi gudangnya itu tidak siap kalau misalkan di daerah Gayam dan sebagainya itu akan menitipkan padinya,” jelasnya.

Pada SLP 2 dan SLP 3, Unigoro mulai memberikan pendidikan pada para petani bagaimana cara menanam biopori di sawah. Yang mana pada umumnya biopori ditanam di pekarangan tapi Unigoro dalam hal ini mencoba untuk menanam biopori di persawahan.

“Itu sudah dilakukan. Kita lebih ramah lingkungan karena pakai bambu, kalau di SLP 3 kita menggunakan paralon,” ucapnya.

Selain itu di SLP 3 lebih menekankan bagaimana para petani agar lebih menekan biaya produksi dengan mengurangi biaya penyemprotan. Kemudian ditanam lah tanaman yang menarik hama. Yakni agar mengalihkan hama ke tanaman-tanaman yang berwarna cerah untuk pengalihan.

“Unigoro sangat serius untuk mengevaluasi, apakah yang dilakukan selama ini sudah berhasil apa belum,” pungaksnya. (Bim/red).

No More Posts Available.

No more pages to load.