SuaraBojonegoro.com — Selama ini, sebuah acara atau event sering kali hanya dilihat sebagai aktivitas seremonial atau hiburan semata. Namun, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Backstagers Indonesia Event Management Association Jawa Timur siap mengubah stigma tersebut. Melalui forum diskusi informal bertajuk “NGOPI” (Ngobrol Penuh Inspirasi) yang digelar di Greenwood Coffeshop, Bojonegoro, Jumat (15/5/2026).
Dalam kegiatan ini, mereka membeberkan data mencengangkan tentang bagaimana industri ini menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang masif.
Mengusung tema besar “Satu Frekuensi, Satu Industri”, forum ini dihadiri langsung oleh jajaran inti pengurus DPD Backstagers Jawa Timur sebagai narasumber, yaitu diantaranya adalah Lukman Sadaya (Ketua DPD Jatim / Allinone Indonesia), Hendra Mardhika (Ketua Harian DPD Jatim / Squad Indonesia), Toufan Widhi H. (Sekretaris DPD Jatim / Kinetic Indonesia), Amir Syaifuddin (Bendahara DPD Jatim / Imagine Promosindo).
Dalam pemaparannya, Backstagers Jatim merujuk pada dokumen Whitepaper Industri Event 2026–2030 yang diterbitkan oleh Aliansi Event Nasional pada April 2026. Data menunjukkan skala dampak ekonomi yang luar biasa, baik di kancah global maupun nasional, yaitu Skala Global dan ASEAN menuju Pada konteks regional ASEAN, Indonesia mencatatkan angka direct spending tertinggi mencapai USD 6,3 miliar, mengungguli Thailand (USD 4,2 miliar) dan Singapura (USD 3,7 miliar).
Realitas Event Besar di Indonesia, seperti KTT G20 Bali 2022, mampu Menghasilkan output ekonomi Rp7,6 triliun dan membuka 57.273 lapangan kerja, Konser Coldplay Jakarta (1 Hari) dapat Menghasilkan output ekonomi Rp843,29 miliar. Angka ini sangat bersaing jika dibandingkan dengan konser Coldplay di Singapura selama 6 hari yang mendatangkan output Rp4,6 triliun bagi ekosistemnya.
Bukti Terukur Alat EEC v1.0, Melalui kalkulator ekonomi khusus milik Backstagers yang kompatibel dengan Tabel Input-Output BPS, terbukti bahwa pergelaran Indonesia Event Management Summit (IVES) 2023 mampu menciptakan dampak ekonomi langsung sebesar Rp6,21 miliar dan total output Rp11,05 miliar.
“NGOPI bukan sekadar ngobrol santai. Ini adalah langkah nyata kami untuk hadir, mendengar, dan bersama-sama membangun ekosistem industri event yang sehat dan berkelanjutan di seluruh Jawa Timur, termasuk di Bojonegoro,” tegas Lukman Sadaya, Ketua DPD Backstagers Jatim.
Menurutnya data telah membuktikan bahwa industri event adalah infrastruktur ekonomi, bukan sekadar pos biaya.
Menjawab Tantangan Regulasi dan Perlindungan Freelancer, Meski potensinya masif, industri ini masih menghadapi tantangan besar terkait regulasi, birokrasi yang kerap mereduksi esensi event, hingga hadirnya event organizer oportunistik pasca-terbitnya Inpres Nomor 1 Tahun 2025 tentang efisiensi anggaran.
Oleh karena itu, Backstagers hadir sebagai infrastruktur verifikasi profesional untuk membantu pihak Kepolisian (Polri) dalam menilai kredibilitas perizinan berbasis risiko (Risk Assessment).
Tidak kalah penting, forum ini juga menyoroti nasib para pekerja lapangan. Berdasarkan data BPS 2024, sebesar 56% struktur kerja Indonesia didominasi sektor informal. Di industri event, pekerja lepas (Freelancer Tier 5) seperti stage crew, MC, dan kru teknis harian menjadi kelompok rentan yang mayoritas belum terlindungi BPJS Ketenagakerjaan maupun kontrak tertulis. Backstagers berkomitmen penuh untuk melakukan edukasi dan advokasi demi melindungi masa depan kelompok ini.
Dipilihnya Bojonegoro sebagai tuan rumah kali ini merupakan bagian dari program aktif DPD Jatim untuk mendekatkan organisasi secara inklusif kepada para pelaku industri di berbagai daerah, tidak hanya berpusat di kota besar saja.
“Kami membawa semangat Satu Frekuensi, Satu Industri ke Bojonegoro karena kami percaya potensi industri event di daerah ini luar biasa. Data menunjukkan satu event saja bisa menciptakan ratusan lapangan kerja dan menggerakkan miliaran rupiah ekonomi lokal. Forum ini adalah jembatan agar pelaku industri di daerah juga memahami dan turut mengawal ekosistem ini bersama kami,” jelas Hendra Mardhika, Ketua Harian DPD Backstagers Jatim.
Ke depan, DPD Backstagers Jawa Timur menegaskan komitmennya untuk terus menggulirkan program NGOPI di berbagai kota dan kabupaten lain di Jawa Timur secara adaptif.
Secara momentum, program ini juga didorong guna memastikan agar seluruh data pelaku industri event di Jawa Timur dapat terekam secara komprehensif dalam Sensus Ekonomi BPS Mei 2026. Langkah ini dinilai sebagai jendela kebijakan krusial sepuluh tahunan yang akan menentukan potret statistik, arah kebijakan, serta masa depan industri event nasional demi mewujudkan visi Indonesia sebagai ASEAN Event.
Untuk diketahui Backstagers Indonesia, adalah Backstagers Indonesia Event Management Association adalah organisasi profesi resmi yang mewadahi para pelaku industri event di seluruh Indonesia. Berdiri sejak tahun 2013, asosiasi ini kini menaungi lebih dari 300 perusahaan event organizer anggota dan aktif bertindak digarda terdepan dalam advokasi kebijakan, formalisasi industri, serta standardisasi profesional skala nasional. (Sas*)








