SuaraBojonegoro.com – Kasus kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur kembali menghentak publik Bojonegoro. Menyusul tertangkapnya tujuh pelaku dugaan pencabulan dan persetubuhan terhadap empat orang anak, Kapolres Bojonegoro, AKBP Afrian Setya Permadi, mengeluarkan peringatan keras sekaligus ajakan menyentuh bagi seluruh orang tua di wilayahnya.
Rasa prihatin mendalam tidak dapat disembunyikan oleh orang nomor satu di Kepolisian Resor Bojonegoro tersebut. Mengingat para korban rata-rata masih di bawah umur, ia menegaskan bahwa benteng utama perlindungan anak dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga.
AKBP Afrian mengaku miris melihat tren kejahatan seksual yang menyasar anak-anak. Menurutnya, pola pergaulan yang tidak terpantau seringkali menjadi pintu masuk bagi para pelaku kejahatan untuk melancarkan aksinya.
“Awasi pergaulan anak-anak kita dan selalu berikan edukasi terkait bagaimana mereka berhubungan dengan teman-temannya. Ini sangat krusial agar mereka terhindar dari upaya kejahatan seksual,” ujar AKBP Afrian pada Sabtu (18/4/2026).
Kapolres menekankan bahwa komunikasi dua arah antara orang tua dan anak bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kewajiban di era saat ini.
Kapolres meminta orang tua untuk Membangun keterbukaan dan Pastikan anak merasa nyaman bercerita tentang siapa teman mereka dan apa yang mereka lakukan di luar rumah.
“Memberikan Edukasi Seksual Sejak Dini terhadap anak adalah sangat penting dengan Mengajarkan bagian tubuh mana yang tidak boleh disentuh orang lain dan bagaimana cara menolak ajakan yang mencurigakan,” lanjutnya.
AKBP Afrian juga meminta kepada orang tua agar Waspada Terhadap Lingkungan dengan Memperhatikan perubahan perilaku anak yang mungkin menjadi tanda trauma atau tekanan dari luar.
Polres Bojonegoro sendiri telah bergerak cepat dengan mengamankan 7 orang pelaku. Namun, AKBP Afrian mengingatkan bahwa penegakan hukum hanyalah satu sisi dari solusi.
Ia meminta adanya sinergi total antara pemerintah daerah, masyarakat, dan orang tua. Perlindungan anak adalah tanggung jawab kolektif yang memerlukan edukasi masif mengenai hak-hak anak dan bahaya predator seksual di sekitar kita.
“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Perlu dukungan semua pihak untuk memastikan Bojonegoro menjadi tempat yang aman bagi tumbuh kembang anak-anak kita,” pungkasnya. (Red*)








