Programnya Menumbuhkan Usaha Baru Sektor Pertanian

oleh
FOTO: Calon Bupati Bojonegoro 2018, Soehadi Moeljono (berkopyah hitam).

SUARABOJONEGORO.COM – Pasangan Calon Bupati (Cabup) dan Calon Wakil (Cawabup) Bojonegoro, Soehadi Moeljono, dan Mitroatin, telah menyiapkan program ekonomi kreatif pengolahan produksi pertanian. Program yang ditawarkan pasangan yang akrab disebut “Mulyo-Atine” ini, selain sektor pertanian di wilayah hulu, juga memaksimalkan bagian hilirnya secara optimal dengan pemberian keterampilan agar muncul kreativitas petani mengolah hasil pertanian.

Selain itu, pasangan Mulyo-Atine juga akan memberikan kemudahan akses permodalan dan pemasaran. Tujuannya agar hasil produksi olahan bisa menumbuhkan usaha produktif yang memberikan nilai tambah secara ekonomi.

Seperti halnya yang dilakukan Hidayati, perajin rempeyek. Dengan bermodalkan Rp500.000 warga Desa Banjarsari, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Bojonegoro, sekarang ini mampu menghasilkan penghasilan sebesar Rp3 juta tiap bulannya dari usaha kecil yang digelutinya.

Usaha pembuatan makanan ringan tersebut dimulai wanita berusia 50 tahun ini sejak tiga tahun terakhir. Dia membuat aneka macam rempeyek mulai rempeyek kedelai, teri, dan kacang. Hasil produksinya untuk melayani pesanan, warung-warung hingga penjual sayur keliling di wilayah Bojonegoro.

“Yang paling laris rempeyek Kacang,” ucapnya kepada wartawan, Sabtu (7/4/2018),

Untuk bahan baku kacang, ibu tiga anak ini membeli dari langgannya di Pasar Banjarjo dengan harga Rp20.000 sampai Rp22.000 per Kg. Setiap hari bisa memproduksi 300 bungkus rempeyek.

“Kalau untuk kacang tanahnya sendiri tiap hari menghabiskan kurang lebih satu kilogram,” jelas Ibu Ida, sapaan akrab Hidayati.

Tiap bungkus rempeyek dia jual seharga Rp1.500 sampai Rp2.000 tergantung ukuran. Dari usaha itu, setiap hari Bu Ida bisa memperoleh keuntungan antara Rp50.000 sampai Rp100.000.

Diakui, selama ini tidak pernah mendapatkan pelatihan dari manapun. Usaha itu dilakukan secara otodidak dikembangkan sendiri baik keterampilan maupun modal.

“Kami berharap, bupati mendatang bisa membantu permodalan dan pelatihan. Siapa tahu bisa memasarkan peyek saya sampai ke luar kota,” pungkasnya.

Berbeda dengan Sholeh, penjual kacang goreng sangan atau kacang kulit yang digoreng menggunakan pasir. Dia mengaku, sudah lima tahun menjalan usahanya, namun belum ada perkembangan.

Pria berusia 40 tahun itu mengaku menghabiskan 50 Kg kacang tanah setiap minggunya. Kacang tersebut kemudian dikemas menggunakan plastik berukuran 1 Kg dengan harga Rp10.000.

“Saya jualnya ke toko-toko di Bojonegoro dan wilayah Kecamatan Dander,” ucapnya.

Selama ini bahan baku yang diperoleh diambil dari luar Bojonegoro diantaranya Solo, Jombang, dan Magetan. Sebab jika hanya mengandalkan produksi dari Bojonegoro tidak akan bisa karena panennya musiman, dan harganya mahal.

Harga yang diperoleh dari luar Bojonegoro berkisar Rp7.000 sampai Rp9.000 per Kg, termasuk ongkos antar.

Menurutnya, selama ini belum ada pelatihan atau pendampingan, dan permodalan dari manapun untuk bisa mengembangkan usahanya.

“Mudah-mudahan bupati mendatang bisa mendata para pengusaha kecil melalui masing-masing desa, dan memberikan pelatihan secara berkala. Syukur-syukur ada bantuan modal,” harapnya.

Dimintai tanggapannya, Cabup Soehadi Moeljono, menyatakan, kedepan akan mendorong usaha pengolahan produk pertanian agar lebih berkembang dengan pemberian pelatihan, kemudahan akses permodalan dan pemasaran, agar mereka lebih berkreativitas mengembangkan usahanya.

“Selain industri hilirnya kita dorong, sektor hulu juga kita garap. Agar produktivitas pertanian meningkat dan bisa diserap oleh home industri. Agar tumbuh usaha produktif untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, dan penyerapan tenaga kerja,” pungkas mantan Sekda Bojonegoro ini. (*/red)