SuaraBojonegoro.com — Dosen Prodi Teknik Sipil Universitas Bojonegoro (Unigoro), Ir. Yulia Indriani, ST., MT., ikut ambil bagian dalam 26th ICID International Congres & 77th IEC Meeting The 2nd World Heritage Irrigation Structures Conference di Marseille, Prancis. Konferensi internasional tersebut berlangsung mulai 12 hingga 17 Oktober 2026 menjadi ruang bagi akademisi Unigoro untuk mempresentasikan riset tentang pengelolaan waduk berbasis reinforcement learning.
Yulia menuturkan, dia mendapat kesempatan mempresentasikan hasil risetnya secara langsung 13 Oktober 2026 dalam Parallel Session 17. Sesi ini membahas irigasi, drainase, dan transisi agroekologi. Riset berjudul Reinforcement Learning-Based Reservoir Operational Model Due to Climate Change and Land Use, Case Study in Heritage Solo Valley Development, Indonesia, sukses dipaparkan di forum internasional. “Penelitian yang saya presentasikan berfokus pada pengembangan model pengelolaan waduk yang lebih adaptif dalam menghadapi perubahan iklim dan perubahan penggunaan lahan. Dengan mengambil studi kasus sistem irigasi Solo Valley di wilayah Bengawan Solo, Jawa Timur,” tuturnya, Kamis (15/10/26).
Yulia menjelaskan, ada beberapa poin penting yang menjadi fokus risetnya. Pertama, perubahan iklim memengaruhi ketersediaan air. Perubahan pola curah hujan dapat meningkatkan risiko kekeringan pada musim kemarau dan kelebihan air pada musim hujan. Kondisi tersebut menjadi tantangan dalam menjaga kontinuitas pasokan air irigasi bagi sektor pertanian. “Kedua, pengelolaan waduk perlu mempertimbangkan perubahan penggunaan lahan. Perkembangan kawasan permukiman, berkurangnya vegetasi, dan perubahan karakteristik daerah aliran sungai dapat memengaruhi jumlah serta pola aliran air yang masuk ke waduk,” jelasnya.
Dia melanjutkan, risetnya mengembangkan model pengoperasian waduk berbasis artificial intelligence (AI) menggunakan metode Reinforcement Learning. Teknologi ini memungkinkan sistem mempelajari berbagai kondisi ketersediaan air dan menentukan strategi kapan air perlu disimpan, dilepaskan, atau didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan irigasi. “Hasil simulasi ini menunjukkan potensi peningkatan efisiensi pengelolaan air. Sehingga pengelolaan air bisa lebih adaptif, meskipun penerapannya di lapangan masih memerlukan validasi lebih lanjut,” imbuhnya.
Yulia berharap, penelitian ini dapat mendukung ketahanan pangan dan pengelolaan sumber daya air berkelanjutan. Sekaligus dikembangkan menjadi sistem pendukung pengambilan keputusan bagi pengelola waduk dan jaringan irigasi. Khususnya di kawasan Bengawan Solo dan wilayah lain di Indonesia. (din/lis)








