Reporter: Sasmito
SuaraBojonegoro.com – Bagi sebagian petani, sisa tanaman setelah panen kerap dianggap sebagai masalah. Batang kacang tanah, jerami, hingga limbah tanaman jagung yang tertinggal di sawah biasanya dibakar agar lahan kembali bersih dan siap ditanami.
Namun, kebiasaan tersebut menyimpan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama saat musim kemarau. Api yang semula digunakan untuk membersihkan lahan bisa merambat ke area sekitarnya. Asap pembakaran pun berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat hingga operasional industri di sekitar lokasi.
Persoalan inilah yang mendorong Pertamina EP Cepu (PEPC) Zona 12 menghadirkan inovasi pemberdayaan masyarakat di sekitar lapangan gas Jambaran-Tiung Biru (JTB), tepatnya di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.
Alih-alih sekadar mengimbau petani agar tidak membakar limbah pertanian, PEPC menawarkan solusi yang memberikan manfaat ekonomi. Melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR), limbah pertanian yang sebelumnya dibakar kini dimanfaatkan sebagai pakan ternak domba dan bahan baku pembuatan kompos.
Program yang dijalankan sejak 2022 tersebut tidak hanya bertujuan mengurangi risiko kebakaran, tetapi juga membuka peluang usaha, meningkatkan produktivitas peternakan, serta menambah penghasilan masyarakat sekitar lapangan gas JTB.
Di wilayah sekitar lapangan gas JTB, sebagian petani sebelumnya terbiasa membakar sisa tanaman setelah panen kacang tanah maupun komoditas pertanian lainnya. Cara tersebut dianggap praktis untuk membersihkan lahan sebelum kembali digunakan.
Namun, pembakaran berpotensi menimbulkan persoalan yang lebih besar. Selain risiko api merambat ke lahan kering, asapnya dapat masuk ke kawasan lapangan gas JTB dan mengganggu aktivitas operasional.
Melihat kondisi tersebut, PEPC Zona 12 mengembangkan program pemberdayaan melalui bantuan ternak domba yang dikelola secara berkelompok oleh masyarakat, dengan melibatkan Koperasi Produsen Rimba Tani Sejahtera.
Petani tidak hanya menerima bantuan ternak, tetapi juga mendapatkan edukasi dan pendampingan mengenai pemeliharaan domba serta pengolahan limbah pertanian menjadi pakan.
Batang dan sisa tanaman kacang tanah yang sebelumnya dianggap tidak berguna mulai dikumpulkan untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak. Limbah tersebut dapat dimanfaatkan secara langsung sesuai kebutuhan ternak maupun diolah melalui proses fermentasi.
Pemanfaatan juga dikembangkan terhadap limbah tanaman lain, seperti jagung dan janggel jagung, sebagai bahan pakan atau konsentrat sesuai formulasi dan kebutuhan ternak.
Dengan cara tersebut, petani memperoleh manfaat ganda. Lahan pertanian dapat dibersihkan tanpa harus membakar sisa panen, sedangkan limbah yang sebelumnya terbuang kini memiliki nilai ekonomi.

Head of Communication Relations and Community Involvement & Development (CID) Zona 12, Agung Yunito Yahya, mengatakan kebiasaan membakar limbah pertanian di sekitar lapangan JTB perlu ditangani melalui pendekatan yang memberikan solusi nyata kepada masyarakat.
Menurutnya, pembakaran tidak hanya berpotensi membahayakan petani dan lingkungan sekitar, tetapi juga dapat menimbulkan gangguan akibat asap yang masuk ke kawasan proyek.
“Pembakaran limbah pertanian, baik sisa tanaman maupun bagian tanaman setelah panen, berpotensi menimbulkan bahaya apabila apinya merambat ke lahan kering lainnya. Asapnya juga bisa masuk ke dalam lapangan gas JTB. Karena itu, kami berupaya memberikan manfaat dengan bantuan domba kepada petani melalui kelompok masyarakat yang dikelola bersama-sama. Limbah pertaniannya kemudian diolah dan dijadikan pakan ternak,” ujar Agung, Kamis (15/10/2026).
Untuk mendukung pelaksanaan program, PEPC menggandeng lembaga Alas Institut guna memberikan edukasi dan pendampingan kepada masyarakat.
Pendampingan tersebut mencakup pengelolaan ternak domba, pemanfaatan limbah pertanian, hingga pengolahan bahan pakan. Melalui upaya ini, masyarakat diharapkan tidak hanya mampu menjalankan program, tetapi juga mengembangkan usaha peternakan secara berkelanjutan.
“Hal ini kami lakukan sejak tahun 2022 dan masyarakat sudah bisa mengambil manfaatnya. Mereka juga mulai mampu mengelola ternak dengan lebih baik sehingga menghasilkan ternak yang berkualitas,” tambah Agung.
Manfaat program tersebut dirasakan langsung oleh Lamidi (39), petani asal Desa Bandungrejo yang menggarap lahan pertanian di sekitar area lapangan gas JTB.
Sebelum mengikuti program, Lamidi mengaku kerap kebingungan menghadapi limbah pertanian setelah panen. Sisa tanaman biasanya dibakar agar lahan lebih mudah dibersihkan dan siap ditanami kembali.
Ketika kebiasaan tersebut perlu dihentikan demi mengurangi risiko kebakaran, ia harus mencari cara lain untuk mengelola sisa panen.
Melalui program PEPC, Lamidi bersama petani lainnya mendapatkan pelatihan untuk memanfaatkan limbah pertanian sebagai pakan ternak. Kelompoknya juga menerima bantuan sebanyak 22 ekor domba untuk dikembangkan sebagai usaha peternakan.
“Dari arahan pihak lapangan gas JTB, kami mendapatkan pelatihan untuk memanfaatkan limbah pertanian yang tidak boleh kami bakar tersebut,” kata Lamidi.
Bagi Lamidi, manfaat program semakin terasa ketika musim kemarau tiba. Saat rumput mulai sulit ditemukan, limbah pertanian yang telah dikeringkan dapat dimanfaatkan sebagai alternatif pakan sesuai kebutuhan ternak.
“Dengan pakan ternak dari limbah pertanian, domba-domba kami tumbuh dan berkembang dengan baik. Jadi, saat musim kemarau, kami tidak terlalu resah lagi memikirkan pakan ternak,” tutur pria yang memiliki dua anak tersebut.
Bagi keluarganya, program ini bukan sekadar mengubah cara membersihkan sawah. Pemanfaatan limbah pertanian juga membantu menjaga ketersediaan pakan dan mendukung pengembangan usaha peternakan dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungan sendiri.

Manfaat program tidak berhenti pada pemanfaatan limbah pertanian sebagai pakan. Kotoran domba yang dihasilkan dari aktivitas peternakan juga diolah menjadi pupuk kompos yang memiliki nilai jual.
Petani mengumpulkan kotoran ternak, kemudian mengolahnya melalui proses pengomposan hingga menjadi pupuk yang siap dimanfaatkan. Produk tersebut selanjutnya dikemas dan dipasarkan ke berbagai wilayah di Kabupaten Bojonegoro.
Yoso (43), warga Desa Bandungrejo yang terlibat dalam pengolahan pupuk, mengatakan produk pupuk dari kotoran ternak tersebut telah mendapatkan permintaan dari masyarakat.
“Sudah banyak yang memesan pupuk dari hasil kotoran ternak ini. Karena itu, kami terus melakukan produksi agar bisa memenuhi permintaan masyarakat,” terang Yoso.
Dari proses tersebut, terbentuk siklus pemanfaatan sumber daya yang saling mendukung. Limbah pertanian dimanfaatkan sebagai pakan domba, sedangkan kotoran ternak diolah menjadi pupuk kompos yang dapat dipasarkan.
Pola ini membuka peluang tambahan penghasilan bagi petani sekaligus mendorong pemanfaatan sumber daya lokal secara lebih produktif.
Associate Community Relation & CID Zona 12, Bedhah Adityo Nugroho, menyampaikan bahwa program Petani Hutan JTB telah memberikan manfaat kepada ratusan masyarakat, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Berdasarkan data capaian program, sebanyak 134 orang tercatat sebagai penerima manfaat langsung, sedangkan 837 orang lainnya menerima manfaat tidak langsung. Dengan demikian, total penerima manfaat yang tercatat mencapai 971 orang.
“Program ini juga berkontribusi terhadap penurunan praktik pembakaran hutan dan lahan sebesar 75 persen selama periode 2021–2025,” papar Bedhah.
Capaian tersebut menjadi salah satu indikator perubahan dalam pengelolaan lahan dan pemanfaatan limbah pertanian di wilayah program. Pendekatan pemberdayaan tidak hanya mendorong masyarakat mengurangi pembakaran, tetapi juga memperkenalkan alternatif pengolahan limbah yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.
Dalam pelaksanaannya, Program Petani Hutan sekitar lapangan gas JTB dikembangkan melalui beberapa kegiatan, meliputi produksi kompos dan media tanam, pertanian hortikultura, peternakan domba, serta pengeringan jagung.
Seluruh kegiatan tersebut diarahkan untuk memperkuat kemampuan masyarakat dalam mengelola potensi lokal sekaligus mengembangkan sumber pendapatan yang lebih beragam.
Pengolahan limbah pertanian menjadi kompos dan media tanam menjadi salah satu kegiatan yang terus dikembangkan dalam program tersebut.
Berdasarkan profil program, pengolahan limbah pertanian tercatat mencapai sekitar tiga ton kompos per bulan. Sementara itu, capaian Koperasi Rimba Tani pada 2026 mencatat produksi sekitar 2,1 ton kompos per bulan.
Dari sisi ekonomi, penjualan kompos dan media tanam menghasilkan pendapatan sekitar Rp52 juta per tahun. Sementara itu, kegiatan hortikultura memberikan pendapatan sekitar Rp6,5 juta per musim.
Angka tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan limbah pertanian dapat dikembangkan menjadi kegiatan usaha yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Selain produksi kompos, program juga mengembangkan pertanian hortikultura organik melalui demplot atau lahan percontohan. Masyarakat diperkenalkan pada alternatif praktik pertanian yang lebih berkelanjutan dan didorong untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia secara berlebihan.
Pendekatan tersebut diharapkan membantu menjaga kesuburan tanah, memperkuat ketahanan usaha tani, serta mengurangi kerentanan petani terhadap fluktuasi harga komoditas ketika musim panen raya.
Koperasi Produsen Rimba Tani juga berperan dalam memperkuat kelembagaan usaha masyarakat, mulai dari pengembangan kegiatan produksi hingga pemasaran hasil. Dengan pengelolaan secara berkelompok, petani diharapkan memiliki kesempatan lebih besar untuk mengembangkan usaha dan memperluas jangkauan pasar.
Program Petani Hutan lapangan gas JTB menunjukkan bahwa upaya mencegah kebakaran hutan dan lahan dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Petani tidak hanya diajak meninggalkan kebiasaan membakar limbah pertanian, tetapi juga diberikan alternatif yang dapat mendukung kegiatan ekonomi mereka. Limbah yang sebelumnya dianggap sebagai beban kini dimanfaatkan sebagai pakan ternak, sementara kotoran domba diolah menjadi pupuk kompos yang dapat dijual.
Pengembangan kompos, media tanam, peternakan, dan hortikultura juga membuka peluang usaha yang saling berkaitan. Di sisi lain, penguatan koperasi dan pendampingan masyarakat menjadi bagian penting untuk menjaga keberlanjutan program.
Bagi petani di sekitar lapangan gas JTB, perubahan tersebut menghadirkan cara baru dalam memandang sisa panen. Tidak semua limbah harus dibakar atau dibuang. Dengan pengolahan yang tepat, bahan yang semula tidak bernilai dapat menjadi sumber daya yang bermanfaat.
Pada akhirnya, upaya mencegah karhutla tidak hanya berbicara tentang menghindari api dan asap. Lebih jauh, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran lingkungan, memperkuat kemandirian petani, dan meningkatkan nilai ekonomi potensi lokal.
Melalui program Petani Hutan JTB, PEPC Zona 12 bersama masyarakat Desa Bandungrejo berupaya membangun keseimbangan antara perlindungan lingkungan, kelancaran aktivitas proyek, dan peningkatan kesejahteraan warga. (Sas/Red)








