Mendung Bukan Berarti Hujan

oleh -

Oleh: Moh. Septa Herlambang

Cuaca panas di bulan oktobe rmasih sangat memakan keluh manusia.“Itulah manusia, mahluk paling lemah dari Tuhan itu selalu mengeluh dan mengeluh.”

Kering melanda di beberapa Desa di Kota Bojonegoro. Banyak warga yang kesulitan untuk mandi, mencuci, bahkan untuk minum. Setelah lama tidak mendapat kiriman hujan di musim kemarau, warga Kota Bojonegoro sangat menantikan akan datangnya hujan di musim penghujan (rendeng). Selain untuk menyejukkan badan, tentunya warga Bojonegoro identik dengan bercocok tanam di sawah, yaitu menanam padi.

Hujan tidak hanya dinantikan para petani, akan tetapi juga para siswa-siswi yang setelah diusut alasannya, tidak lain dan tidak bukan adalah hujan pagi dan sekolahpun bisa libur atau setidaknya banyak (jamkos) jam pelajaran kosong. Begitulah menurut Rokim.

Senin, 29 Oktober 2018 cuaca di Desa Sugihwaras Kota Bojonegoro mencapai 430. “Para manusia seakan-akan diberikan peringatan oleh Tuhan bawasanya dunia memang sudah sangat tua,” ujar pak Bambang kepada para siswa-siswanya setelah melaksanakan solat luhur di mushola. Siang itu seakan-akan kemarau akan berlangsung panjang dan belum nampak tanda-tanda musim penghujan.

“ini jelas kemarau masih sangat panjang, bersiap-siaplah untuk selalu kekeringan dan tidak dapat mandi,”ujar Rokim kepada teman-temannya, seakan-akan dia dapat mengetahui rencana Tuhan ke depan.

“kita ini hanyalah seorang hamba Tuhan yang paling lemah, hina, dan tak mbois. Lalu apa yang kita banggakan sebagai manusia kepada Tuhan, sang pencipta kita?” Siang itu di serambi mushola Pak Bambang yang sejatinya guru mata pelajaran bahasa Indonesia berlagak layaknya imam besar.

Malam, matahari belum lelap mendengkur, gemuruh angin menusuk-nusuk hingga serasa ke tulang. Seuara adzan subuh hingga tak dapat masuk kekamar meskipun cendela kamar sengaja kubuka untuk melihat kondisi hari ini sambil kumerenung sendiri dalam hati, “sempurnalah Tuhanku, Panjenenganlah semesta yang sempurna,”baru saja kemarin cuaca seakan-akan menjauhi musim penghujan dan begitulah prasangka orang, dan hari ini Selasa, 30 Oktober 2018 Tuhan ubah prasangka ciptaannya. “Kun Fayyakun sifat Allah.”

Pagi ini hujan sangat deras, mendung di langgit hampir menutupi semua langit, dan prasangkaku mungkin sekolah untuk hari ini diliburkan secara otomatis. Aku berdiri di depan pintu, sudah membawa mantel dan suadah sangat siap untuk berangkat menransfer ilmu yang barokah dan bermanfaat, yang insyaAllah fidunya wal ahirot. Akan tetapi kuurungkan langkahku sambil membayangkan betapa senangnya manusia yang banyak mengeluh, membayangkan betapa bahagianya para petani yang siap menanam padi dan membayangkan siswa-siswaku saat ini apa yang di lakukan, dan apa yang dirasakan di rumahnya melihat hujan pagi ini. Kurasa mereka saat ini sedang bahagia dan menikmati hangatnya selimut yang dinanti-nanti.

Mungkin musim penghujan telah tiba, setelah hari itu hujan berkelanjutan hingga seminggu terakhir dan langit selalu berwarna biru kehitaman. Sebagai seorang guru hal itu ternyata sedikit melunturkan semangat mengajar, jadi wajar jika dirasakan lebih kuat oleh siswa. Karena manusia adalah rajanya keluh-mengeluh. Panas dibilang panas, hujan dibilang dingin dan malas beraktifitas.

Hari Sabtu, 3 November 2018 di sekolahan akan dilaksanakan simulasi UNBK. Sebelumnya Kepala Sekolah sudah memberikan wanti-wanti bahwa apapun keadaan dan kondisinya semua siswa kelas dua belas wajib masuk dan mengikuti simulasi tepat waktu dan tertib. Sayangnya sabtu pagi kembali langit di selimuti mendung, yang memungkinkan kembali turun hujan. Meskipun masih rintik gerimis yang turun, gerimis itupun telah melunturkan semangat Rokim dan menggodanya untuk tidak beranjak dari kasurnya.
“le. Rokim. Tangi le, sekolah,” Ibu rokim mencoba membangunkan anaknya untuk bersekolah.”

“la mboten jawah to buk? Menawi teng sekolahan nggeh mboten enten pelajaran, rencang-rencang nggeh sami mbolos,” jawab Rokim.“ogak udan le. Kim. Mendung tok.”

“la nggeh, Ibuk. Mendung ‘kan tanda badene jawah to?
“ya wis le. Sekarepmu. Mendung bukan berarti hujan lo lee, mbuh lo nak ketinggalan pelajaran,” tegas ibu Rokim.

Hari itu rokim benar-benar tidak beranjak dari kasurnya yang hangat dan kembali pada tidurnya. Lelap hingga matahari sedang panas-panasnya. Setelah terbangun, rokim kebingungan mendapatkan beberapa pesan dari teman-temannya dan juga dari bapak/ibu guru. Rokim merasa ketakutan setelah membaca beberapa pesan yang tersimpulkan acaman tidak dapat mengikuti simulasi berikutnya akibat terlambat berangkat ke Yogja untuk study tour sekaligus studi banding di sekolahan kota Yogya.

Setelah kebingungan dan ketakutan, rokim segera melihat kedepan rumah dan memastikan mengapa hanya dirinya yang tidak masuk sekolah sedangkan pagi tadi sangat jelas nampak akan turun hujan. Jika hujan pasti lebih dari hanya dirinya yang tidak masuk sekolah, prasangkanya Setelah di halaman rumah, memandang langit yang sedang terik-teriknya dan tanah yang tak sedikitpun basah, rokim bergegas ke dapur dan menanyakan kepastian cuaca pada ibunya yang sedang masak.

“mendung dan gerimis dek wau mboten sios jawah to buk?” tanya rokim sambil tersenggal-senggal nafasnya setelah berlarian teras ke dapur.

“la kan buke wis ngomong to cung. Mendung bukan berarti hujan. Kun Fayyakun.”
Penyesalah ada dalam muka rokim yang kusut. Rasa bersalah tak mendengarkan nasihat ibunya bercampur dengan rasa ketakutan tidak bisa mengikuti simulasi bercampur menjadi satu. Sejak saat itulah rokim meyakini bahwa mendung bukan berarti hujan. Dan semua jalannya kehidupan sudah diatur oleh Tuhan. Rokim ambil bolpoin dan beberapa kertas untuk sekalimat, dua kalimat ditulisnya dan di tempel di dinding kamarnya.

“:SOLATLAH SEBELUM DISOLATI.”
“SEMANGAT HIDUP SEBELUM KUKUT”
“BELAJAR SEBELUM BUYAR”
~Selesai

*Sinopsis: Rokim. Seorang pelajar yang bermalas-malasaan dan juga salah satu manusia dari ciptaan Tuhan yang suka mengeluh. Kesadaran muncul pada masa belakangan ketika dia merasa bersalah telah mendahului takdir Tuhan serta tidak mendengarkan perkataan orang tuanya yang mengakibatkan dirinya benar-benar jauh ketinggalan pelajaran.
*Pesan:
1. Untuk para pelajar adalah jangan suka bermalas-malasan mencari ilmu untukmu sendiri
2. Untk para pendidik adalah jangan pernah lelah memberikan contoh yang baik
3. Untuk para manusia: jangan suka mengeluh. Tuhan memiliki cara tersendiri

*)Penulis adalah Masta sebut saja nama penanya. Penulis lahir di Desa Temayang Kabupaten Bojonegoro 22 tahun silam, penulis adalah lulusan IKIP PGRI Bojonegoro.

No More Posts Available.

No more pages to load.