Ketika Pendidikan Melahirkan Kepintaran Tanpa Keteladanan

Oleh : Dr. Mukhamad Roni, S.E.,M.E.,Ak.,CA

SuaraBojonegoro.com – Di tengah kemajuan teknologi dan pesatnya perkembangan pendidikan modern, bangsa ini sesungguhnya sedang menghadapi sebuah paradoks besar. Sekolah semakin megah, akses pendidikan semakin luas, gelar akademik semakin mudah diraih, tetapi di saat yang sama krisis moral justru semakin terasa. Kita menyaksikan banyak orang pintar, namun tidak sedikit yang kehilangan kejujuran, kepedulian, bahkan rasa malu terhadap perilaku yang menyimpang.

Fenomena ini terlihat dalam berbagai ruang kehidupan. Kasus korupsi dilakukan oleh orang-orang berpendidikan tinggi. Kekerasan verbal di media sosial dilakukan oleh mereka yang memiliki akses ilmu pengetahuan. Perundungan di sekolah terjadi di tengah slogan pendidikan karakter yang terus digaungkan. Semua ini menunjukkan bahwa pendidikan kita sedang menghadapi persoalan mendasar: berhasil melahirkan kepintaran, tetapi belum sepenuhnya menghadirkan keteladanan.

Padahal, hakikat pendidikan bukan hanya memindahkan pengetahuan dari guru kepada peserta didik. Pendidikan sejatinya adalah proses membentuk manusia seutuhnya—membangun akal, hati, dan perilaku secara bersamaan. Dalam perspektif ini, pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga harus mampu melahirkan manusia yang bermoral, berintegritas, dan memiliki kesadaran spiritual.

Sayangnya, orientasi pendidikan modern perlahan bergerak ke arah yang terlalu materialistik dan pragmatis. Keberhasilan siswa sering diukur dari angka rapor, nilai ujian, ranking, serta kemampuan menembus perguruan tinggi ternama. Sekolah berlomba mencetak prestasi akademik, tetapi kadang melupakan pentingnya membangun karakter dan akhlak. Akibatnya, peserta didik tumbuh menjadi pribadi yang kompetitif secara intelektual, tetapi rapuh secara moral.

Fenomena tersebut sesungguhnya dapat dilihat dari berbagai data pendidikan nasional. Tingkat melek huruf Indonesia memang terus meningkat. Data UNESCO dan World Bank menunjukkan tingkat literasi penduduk dewasa Indonesia berada di atas 96 persen. Namun, tingginya angka literasi dasar belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kualitas pemahaman, daya kritis, dan pembentukan karakter masyarakat.

Bahkan, sejumlah laporan pendidikan menunjukkan bahwa kemampuan membaca dan memahami informasi masih menjadi tantangan besar. Dalam berbagai evaluasi internasional seperti PISA, kualitas literasi pelajar Indonesia masih tertinggal dibanding banyak negara lain. Kondisi ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak cukup hanya mengajarkan kemampuan teknis membaca dan berhitung, tetapi juga harus membangun kemampuan berpikir kritis, etika sosial, dan kesadaran moral.

Baca Juga:  Yayasan Pendidikan Islam Miftahul Huda Padangan Gelar Wisuda Purna Siswa

Ironisnya, di era digital sekarang, kecerdasan intelektual justru sering tidak diimbangi dengan kedewasaan dalam menggunakan teknologi. Media sosial dipenuhi ujaran kebencian, fitnah, hoaks, dan budaya saling menjatuhkan. Banyak generasi muda memiliki akses informasi tanpa batas, tetapi tidak semuanya memiliki kemampuan menyaring nilai dan moralitas. Akibatnya, teknologi yang seharusnya menjadi sarana mencerdaskan kehidupan bangsa justru sering berubah menjadi ruang konflik sosial.

Di sinilah pentingnya menghadirkan kembali dimensi keteladanan dalam pendidikan. Keteladanan adalah ruh pendidikan yang tidak bisa digantikan oleh teori. Anak-anak tidak hanya belajar dari apa yang diajarkan, tetapi juga dari apa yang mereka lihat. Guru yang jujur akan melahirkan murid yang menghargai kejujuran. Orang tua yang santun akan membentuk anak yang beradab. Pemimpin yang bersih akan menjadi contoh bagi masyarakatnya.

Namun, tantangan terbesar bangsa ini justru terletak pada krisis figur teladan di ruang publik. Anak-anak menyaksikan elite yang saling mencaci di media sosial. Mereka melihat praktik korupsi dilakukan oleh orang-orang terdidik. Mereka menyaksikan kekuasaan sering dipertontonkan tanpa etika. Dalam situasi seperti itu, pendidikan karakter menjadi sulit tumbuh karena lingkungan sosial tidak memberikan contoh yang baik.

Karena itu, memperbaiki pendidikan tidak cukup hanya dengan mengganti kurikulum atau menambah fasilitas sekolah. Yang lebih penting adalah mengembalikan orientasi pendidikan kepada pembentukan manusia yang utuh. Pendidikan harus mampu menyinergikan kecerdasan intelektual dengan kecerdasan spiritual. Ilmu pengetahuan harus berjalan berdampingan dengan nilai agama dan moralitas.

Dalam tradisi Islam, ilmu dan akhlak tidak pernah dipisahkan. Tujuan utama pendidikan bukan sekadar mencetak manusia pintar, tetapi membentuk manusia beradab. Imam Al-Ghazali pernah menegaskan bahwa ilmu tanpa akhlak dapat menjerumuskan manusia pada kesombongan dan kerusakan. Sebaliknya, akhlak tanpa ilmu akan membuat manusia kehilangan arah dalam menghadapi perkembangan zaman.

Karena itu, pendidikan agama tidak boleh hanya menjadi pelengkap formal di ruang kelas. Pendidikan agama harus menjadi fondasi dalam membangun kesadaran moral peserta didik. Agama mengajarkan kejujuran, tanggung jawab, empati, dan rasa takut kepada Tuhan. Nilai-nilai inilah yang menjadi pengendali agar kecerdasan intelektual tidak berubah menjadi alat keserakahan dan penyalahgunaan kekuasaan.

Keteladanan Rasulullah SAW merupakan contoh paling sempurna dalam dunia pendidikan. Nabi Muhammad SAW tidak hanya mengajarkan ilmu melalui perkataan, tetapi juga melalui perilaku. Kejujuran beliau melahirkan kepercayaan masyarakat. Kesederhanaan beliau menumbuhkan empati sosial. Ketegasan beliau menghadirkan keadilan. Inilah pendidikan berbasis keteladanan yang mampu mengubah masyarakat jahiliyah menjadi peradaban besar.

Baca Juga:  Catatan SMSI Akhir Tahun 2024: Demokrasi Terpimpin Syarat Terwujudnya Indonesia Emas 2045

Pendidikan Indonesia sejatinya memiliki fondasi nilai yang kuat. Dalam tujuan pendidikan nasional disebutkan bahwa pendidikan bertujuan membentuk manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, cerdas, dan bertanggung jawab. Namun dalam praktiknya, orientasi pendidikan sering lebih menekankan capaian akademik dibanding pembentukan karakter. Akibatnya, lahirlah generasi yang cerdas secara teori tetapi lemah dalam integritas.

Padahal, masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh banyaknya orang pintar. Bangsa ini membutuhkan manusia-manusia yang mampu menjaga amanah, menghormati nilai kemanusiaan, dan memiliki kepedulian sosial. Sebab kecerdasan tanpa moral justru dapat menjadi ancaman bagi kehidupan berbangsa.

Kita tentu tidak ingin pendidikan hanya melahirkan generasi yang pandai berbicara tentang etika, tetapi gagal mempraktikkannya dalam kehidupan nyata. Kita juga tidak ingin sekolah hanya menjadi tempat mengejar nilai tanpa menghadirkan makna kehidupan. Pendidikan harus kembali menjadi ruang pembentukan karakter dan peradaban.

Membangun pendidikan yang menghadirkan keteladanan memang bukan pekerjaan mudah. Dibutuhkan sinergi antara sekolah, keluarga, masyarakat, dan negara. Guru harus menjadi figur inspiratif, bukan sekadar pengajar. Orang tua harus menjadi contoh pertama bagi anak-anaknya. Media sosial perlu digunakan secara lebih bijak sebagai sarana edukasi dan penyebaran nilai positif. Sementara negara harus memastikan bahwa sistem pendidikan tidak hanya mengejar statistik kelulusan, tetapi juga kualitas moral generasi bangsa.

Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, bangsa ini membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas berpikir, tetapi juga kuat secara moral dan spiritual. Sebab pada akhirnya, peradaban besar tidak dibangun semata-mata oleh kecanggihan ilmu pengetahuan, melainkan oleh manusia-manusia berintegritas yang mampu menjaga nilai kemanusiaan.

Karena itu, pendidikan harus kembali menemukan ruhnya. Pendidikan harus melahirkan manusia yang memiliki ilmu sekaligus akhlak, kecerdasan sekaligus keteladanan. Sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang berhasil mencetak orang pintar, tetapi bangsa yang mampu menghadirkan generasi beradab.***

*) Penulis Adalah Dosen, Praktisi Ekonomi dan Keuangan Syariah, Pengurus IAEI, Pengurus ICMI.