Reporter : Waluyo Wahyu Utomo
SuaraBojonegoro.com – Kecintaan terhadap seni dan budaya tradisional mengantarkan Suyanto (63), budayawan asal Desa Mindi, Kecamatan Sugihwaras, Kabupaten Bojonegoro, tampil dalam forum kebudayaan internasional di Belanda. Sosok yang akrab Yanto Munyuk (MYK) itu dipercaya menjadi pemateri dalam 1st International Pencak Silat Cultural Heritage Festival pada 8–12 Oktober 2026, Senin (12/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung di De Bron, Oceaan 6, Kota Amersfoort, Belanda, tersebut diselenggarakan oleh Nederlandse Pencak Silat Federatie (NPSF) bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Den Haag. Festival ini turut dihadiri Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, serta melibatkan praktisi pencak silat dan pelaku budaya dari berbagai negara.
Keikutsertaan Yanto MYK berawal dari undangan Sanggar Satria Krida Manggala dari Madiun. Dalam kegiatan tersebut, ia mendapat kesempatan memperkenalkan pencak silat Jawa bersama pemateri dari perguruan Panglipur Jawa Barat dan Harimau Singgalang dari Sumatera Barat. Yanto MYK yang berasal dari Persaudaraan Setia Hati Winongo Tunas Muda (PSHWTM) Madiun menyampaikan materi mengenai tradisi pencak silat Jawa.
“Alhamdulillah, saya bersyukur dipercaya oleh Sanggar Satria Krida Manggala dari Madiun untuk menjadi salah satu pemateri 1st International Pencak Silat Cultural Heritage Festival bersama perguruan silat Panglipur Jawa Barat dan Harimau Singgalang dari Sumatera Barat. Dari Bojonegoro saya sendiri dari Persaudaraan Setia Hati Winongo Tunas Muda (PSHWTM) Madiun menyampaikan mengenai Pencak Silat Jawa, lainnya Guru Dian Nurdini dan Guru Haji Syofian Nadar,” jelasnya.
Rangkaian festival tersebut tidak hanya berisi pelatihan pencak silat, tetapi juga seminar terbuka, pertunjukan budaya, lokakarya, kolaborasi artistik, serta kegiatan membangun jejaring dan kemitraan antarnegara. Forum ini menjadi ruang untuk memperkenalkan pencak silat sebagai warisan budaya takbenda Indonesia sekaligus memperluas pertukaran pengetahuan dan pengalaman di tingkat internasional.
Menurut Yanto MYK, kegiatan tersebut diikuti 137 perguruan pencak silat dari Belanda dan sejumlah negara Eropa. Ia menilai para peserta menunjukkan ketertarikan terhadap seni bela diri tradisional Indonesia. Dalam kesempatan itu, ia juga membagikan suvenir berupa udeng Obor Sewu kepada peserta sebagai bagian dari pengenalan budaya Jawa.
“Mereka sangat antusias, perhatian dan responnya terhadap Pencak Silat Indonesia,” ujarnya.
Pengabdian Yanto MYK terhadap kebudayaan telah berlangsung selama puluhan tahun. Ia pernah mengabdikan diri sebagai aparatur sipil negara (ASN) selama 17 tahun. Kecintaannya terhadap kesenian bahkan membuatnya rela menjual motor Vespa keluaran 1965 miliknya untuk membeli gamelan yang digunakan sebagai sarana mewariskan kesenian tradisional kepada generasi penerus. Sejak 1987, ia juga mengelola Sanggar Teater Tradisi Abdi Dalem.
Di balik pengalamannya memperkenalkan budaya Indonesia ke luar negeri, Yanto MYK berharap pemerintah daerah memberi perhatian lebih terhadap keberlangsungan hidup para seniman lokal. Menurutnya, dukungan terhadap kelompok seni semestinya tidak berhenti pada penyediaan fasilitas dan kebutuhan produksi pertunjukan, tetapi juga mempertimbangkan kesejahteraan pelakunya.
“Jika ada pementasan kelompok seni, jangan hanya gugur kewajiban saja. Honor seniman yang terdampak pada kesejahteraan seniman itu tolong diperhatikan. Karena akhir-akhir ini hanya dibantu biasa produksi serta fasilitas pentas saja. Seniman tidak diopeni, gak sejahtera. Bisa pentas tapi thekor (merugi) alias menambahi. Itu yang kurasakan,” tutupnya.
Bagi Yanto MYK, kesempatan tampil di Belanda menjadi salah satu jalan untuk memperkenalkan pencak silat Jawa kepada masyarakat internasional. Namun, ia juga mengingatkan bahwa pelestarian budaya perlu dibarengi perhatian nyata terhadap para seniman yang selama ini menjaga tradisi agar tetap hidup di tengah masyarakat. (Why/Red)








