Oleh : Waluyo Wahyu Utomo
SuaraBojonegoro – Wacana pembangunan ringroad di Kabupaten Bojonegoro memang masih sebatas rencana jangka panjang, sementara pemerintah kabupaten saat ini baru menyiapkan perencanaan pembangunan flyover di titik rawan kemacetan seperti Jetak dan Proliman Kapas. Namun, jika ditelaah lebih dalam, ringroad justru menawarkan manfaat yang jauh lebih luas bagi masyarakat, bukan hanya soal kelancaran lalu lintas, tetapi juga sebagai penggerak pemerataan ekonomi. Jumat (11/07/2025)
Flyover memang menjadi solusi cepat untuk mengurai kemacetan akut di titik perlintasan kereta api atau simpang padat. Bagi warga kota yang setiap hari melintasi jalur tersebut, kehadiran flyover bisa langsung menurunkan waktu tempuh, biaya transportasi, dan risiko keterlambatan distribusi barang dagangan. Manfaatnya terasa cepat, terutama bagi pedagang kecil, pelaku UMKM, pekerja harian, dan masyarakat yang setiap harinya berpacu dengan waktu.
Namun, berbeda dengan flyover yang dampaknya cenderung lokal, ringroad punya peran strategis yang jauh lebih besar. Dengan membangun jalan lingkar luar kota, kendaraan berat dan arus logistik dapat dialihkan keluar dari pusat kota. Dampaknya bukan hanya kelancaran jalan, tetapi juga tumbuhnya pusat-pusat ekonomi baru di pinggiran.
Membuka Koridor Ekonomi Baru
Pengalaman kota-kota lain seperti Kediri, Gresik, hingga Lamongan membuktikan, pembangunan ringroad selalu memicu munculnya kawasan perdagangan baru, sentra industri kecil, ruko, hingga permukiman modern. Harga tanah naik, peluang usaha bertambah, dan masyarakat lokal ikut menikmati nilai tambah pembangunan.
Bagi Bojonegoro, ringroad akan menciptakan peluang serupa. Lahan yang selama ini sepi dapat berubah menjadi kawasan usaha. Petani dan pemilik lahan pinggir kota akan mendapat peluang lebih besar untuk menjual atau memanfaatkan tanahnya. UMKM lokal dapat membuka warung, bengkel, gudang, hingga rumah makan di jalur ringroad, menciptakan lapangan kerja baru yang lebih merata.
Investasi Jangka Panjang untuk Ekonomi Rakyat
Memang, pembangunan ringroad memerlukan biaya lebih besar dan waktu yang lebih panjang ketimbang flyover. Namun manfaatnya jauh lebih terasa secara luas dan berkelanjutan.
Ringroad bukan hanya memecah kemacetan, tapi juga memindahkan pusat-pusat ekonomi ke pinggiran kota, sehingga pertumbuhan tidak hanya menumpuk di pusat.
Ini juga membantu menjaga pusat kota tetap nyaman, humanis, dan ramah pejalan kaki, yang pada akhirnya mendukung sektor wisata, kuliner, hingga kegiatan sosial budaya.
Pembangunan yang Mendengar Suara Rakyat
Ke depan, pembangunan ringroad harus direncanakan dengan melibatkan masyarakat. Pembebasan lahan harus dilakukan secara transparan dan adil. Pemerintah daerah juga perlu memikirkan bagaimana ringroad dapat disertai fasilitas pendukung seperti pasar induk, kawasan UMKM, hingga terminal logistik, agar manfaat ekonominya tidak hanya dinikmati pemodal besar, tetapi juga warga Bojonegoro sendiri.
Kesimpulan
Flyover tetap penting sebagai solusi cepat yang manfaatnya langsung dirasakan warga perkotaan. Namun, ringroad adalah investasi masa depan yang lebih menjanjikan: membuka kawasan baru, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan nilai tanah milik rakyat, serta mendistribusikan pertumbuhan ekonomi lebih merata ke seluruh Bojonegoro.
Lebih dari sekadar jalan, ringroad adalah jalan menuju ekonomi yang lebih adil dan sejahtera. Sudah saatnya Bojonegoro berani bermimpi besar: membangun ringroad demi kemajuan yang tak hanya tampak, tetapi juga benar-benar dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. (Ed/why/Red)








