Air Hujan Disulap Jadi Air Minum dan Sayuran Segar, Inovasi Dosen Unigoro Dukung Kemandirian Pangan Pesantren

SuaraBojonegoro.com (Tuban) –Siapa sangka air hujan yang biasanya terbuang bisa berubah jadi air minum sehat sekaligus menumbuhkan sayuran segar?. Itulah inovasi terbaru yang dibawa dosen Universitas Bojonegoro (Unigoro) bersama mahasiswa melalui hibah (Kemenristekdikti) 2025 di Pondok Pesantren Syaid Abdullah Sajjad, Bancar, Tuban.

Program ini mendukung Pemerintah Kabupaten Tuban  yang telah menetapkan program ketahanan pangan menjadi salah satu prioritas pembangunan daerah.

Sosialisasi Manajemen dan Keterampilan Alat Pemanen Air Hujan bersama Santri dan Pengurus Pondok Pesantren (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Krisis pangan kian nyata seiring menyusutnya lahan pertanian, perubahan iklim yang membuat musim tak menentu, dan keterbatasan akses air bersih di banyak wilayah. Kondisi ini tidak hanya mengancam ketersediaan pangan, tetapi juga kualitas hidup masyarakat. Menjawab tantangan tersebut, dosen Universitas Bojonegoro (Unigoro) bersama mahasiswa menghadirkan inovasi pemanenan air hujan yang dilengkapi proses elektrolisis agar aman diminum. Menariknya, air yang diolah ini juga digunakan untuk mengalirkan nutrisi di greenhouse hidroponik NFT, yang menghasilkan sayuran segar cepat panen.

Baca Juga:  UKM P2J Unigoro Gelar Pengabdian Masyarakat di Lima Kecamatan

Testimoni Pengasuh Pondok Pesantren Tentang Manfaat Air Olahan Hasil Pemanenan Hujan (Sumber: Dokumentasi Pribadi )
Kegiatan sosialisasi dan pelatihan mengenai penggunaan serta pemeliharaan setiap konstruksi telah diselenggarakan pada hari Rabu, 17 September 2025.

Pemaparan materi dipimpin oleh Ketua Pelaksana Dyah Setyaningrum,S.Si. M.Sc dosen Program Studi Kimia Unigoro bersama dua dosen dari Program Studi Teknik Sipil, yakni Mushthofa, S.T., M.T dan Ir. Ichwan Hadi Saputra, S.T., M.T.

Acara ini diikuti oleh 20 santri dari pondok pesantren serta sejumlah pengurus yang turut berpartisipasi.
“Dari proses ini akan menghasilkan 2 jenis air, yaitu air yang sifatnya basa untuk air minum. Sedangkan air yang sifatnya asam dapat dimanfaatkan untuk penyiraman greenhouse” terang Dyah Setyaningrum selaku ketua pelaksana.

Baca Juga:  Tim Pencak Silat Unigoro Dapat Penghargaan Beasiswa Atas Medali Yang Diraih

“Kami ingin teknologi ini bukan hanya berhenti sebagai proyek, tapi benar-benar bisa dikelola dan dimanfaatkan pesantren secara mandiri” imbuhnya.

Program pengabdian ini di harapkan dapat menambahkan pengetahuan bahwa kimia sangat dekat dengan kehidupan. Dari proses sederhana seperti elektrolisis air hujan hingga pemanfaatannya untuk ketahanan pangan, kimia hadir memberi solusi nyata. Bukan hanya teori di kelas, tetapi ilmu yang bisa diterapkan langsute ng untuk kesehatan, lingkungan, dan kemandirian masyarakat. (Red/Lis)