Teknik Sipil Unigoro Raih Juara II Kompetisi Jembatan Balsa Nasional

SuaraBojonegoro.com — Dua mahasiswa Prodi Teknik Sipil Universitas Bojonegoro (Unigoro) yang tergabung dalam Tim Mahardina kembali menorehkan prestasi di kompetisi jembatan balsa tingkat nasional. Yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Sipil (HMS) Prodi S1 Teknik Sipil Universitas Lampung, 13 Oktober 2026. Jembatan balsa seberat 70,1 gram karya Ahmad Dani Setiya Pratama dan Nadhifa Eka Pranida dinobatkan sebagai juara kedua dalam kompetisi tersebut.

Dani menuturkan, timnya membutuhkan waktu tiga minggu untuk riset, trial, sekaligus membuat miniatur jembatan menggunakan kayu balsa. Panitia mewajibkan peserta untuk merancang prototipe jembatan yang mengacu pada efisiensi penggunaan material sekaligus estetika. Di tahap eliminasi, Tim Mahardina berhasil membuat jembatan dengan durasi waktu tiga jam.

Baca Juga:  MAN 5 Bojonegoro Raih Emas pada Kejurnas Atletik ESDM Cup 2020

“Semua tahapan di kompetisi ini berlangsung via daring. Di tahap eliminasi tanggal 11 Oktober 2026, kami mengirimkan video proses pembuatan jembatan. Kemudian dilanjut tahap pembebanan tanggal 12 Oktober 2026,” tuturnya, Jumat (16/10/26).

Efisiensi penggunaan material dihitung dari berat beban yang ditampung dibagi berat jembatan yang dihasilkan. Dani dan Nadhifa berhasil membuat jembatan seberat 70,1 gram yang dapat menaham beban seberat 78,91 kg.

“Jadi sistem penilaian terbagi 30 persen untuk estetika dan 70 persen untuk efisiensi. Secara estetika, desain kami terinspirasi dari jembatan Kaliketek tipe warren. Itu nanti dimodifikasi lagi untuk penggunaan bahan ada beberapa tipe kayu yang digunakan. Soft, medium, sampai hard. Kita kombinasikan untuk capai efisiensi tertinggi,” terang Dani.

Baca Juga:  Teknik Sipil Unigoro Paparkan Riset Pengelolaan Waduk Berbasis Reinforcement Learning 

Nadhifa melanjutkan, penggunaan tipe kayu difokusnya ke beberapa struktur. Yakni struktur tekan dan struktur tarik.

“Nah di struktur tekan inilah kita mengkombinasikan dengan perkuatan berupa perkerasan medium dan hard. Karena untuk menerima beban paling tinggi serta bagian tarik tengah dan gelagar ini menggunakan perkerasan medium dan soft. Sebab sifatnya elastis dan lebih tahan terhadap gaya tarik,” imbuhnya.

Tim Mahardina menerima komentar dari dewan juri agar lebih memperhatikan estetika. Meskipun prototipe-nya sudah sesuai dengan ketentuan. “Aspek penilaian estetika terdiri dari kerapian, visual, dan tingkat presisi tinggi,” pungkas Nadhifa. (din/lis)