SuaraBojonegoro.com – Upaya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro menata wajah kota sekaligus meningkatkan kenyamanan masyarakat terus dilakukan. Strategi tersebut dibahas dalam dialog interaktif Sapa Bupati edisi VI yang digelar di Pendopo Malowopati Bojonegoro, Kamis (3/9/2026).
Mengusung tema “Menata Kota, Memudahkan Warga”, forum yang digelar rutin setiap bulan ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi, kritik, maupun masukan secara langsung kepada pemerintah daerah.
Bupati Bojonegoro Setyo Wahono bersama Wakil Bupati Nurul Azizah hadir langsung dalam kegiatan tersebut. Turut mengikuti jajaran Asisten, Staf Ahli Bupati, pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD), media, serta berbagai unsur masyarakat.
Sapa Bupati juga disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Pemkab Bojonegoro dan Radio Malowopati FM sehingga masyarakat yang tidak hadir di Pendopo tetap dapat mengikuti jalannya dialog.
Dalam edisi kali ini, Pemkab menghadirkan Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Cipta Karya (PKP CK) serta Dinas Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Mikro (Dindagkop UM) untuk memaparkan sejumlah program yang berkaitan langsung dengan penataan kota dan penguatan ekonomi masyarakat.
Kepala Dinas PKP CK Bojonegoro Satito Hadi menjelaskan bahwa terdapat sejumlah bidang yang menjadi tanggung jawab dinasnya, mulai dari trotoar, gedung, perumahan, Penerangan Jalan Umum (PJU), hingga pemeliharaan.
Menurutnya, pada 2026 terdapat empat fokus utama penataan ruang publik. Di antaranya revitalisasi Pasar Kota, Alun-Alun Bojonegoro, Masjid Darussalam, dan Taman Rajekwesi.
“Revitalisasi ini bertujuan mengoptimalisasi ruang publik sebagai pusat interaksi sosial, ekonomi, budaya, dan lingkungan bagi masyarakat Bojonegoro,” ujar Satito.
Penataan tersebut diharapkan tidak sekadar mempercantik kawasan perkotaan, tetapi juga menghadirkan ruang publik yang lebih nyaman, aman, dan memiliki fungsi yang lebih optimal bagi aktivitas masyarakat.
Sementara itu, Kepala Dindagkop UM Bojonegoro Mohammad Akhmadi memaparkan strategi penataan pasar sekaligus penguatan ekonomi kerakyatan.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah revitalisasi Pasar Kota. Pemkab ingin mengubah wajah pasar tradisional agar lebih bersih, tertata, nyaman, dan modern tanpa meninggalkan karakter serta kearifan lokal.
“Di tahun 2026 ini ada revitalisasi Pasar Kota agar tampilannya jauh lebih baik, bersih, dan modern tanpa menghilangkan kearifan lokal. Ke depan, Pasar Kota diarahkan menjadi pasar semi modern yang dilengkapi fasilitas seperti eskalator dan area parkir di setiap lantai,” terang Akhmadi.
Penataan Pasar Kota nantinya juga diarahkan memenuhi standar keamanan dan kenyamanan bagi pedagang maupun pengunjung. Konsep tersebut antara lain melalui sistem zonasi pedagang untuk mencegah kontaminasi silang, pengaturan sirkulasi koridor, pemenuhan standar sanitasi, serta pencahayaan dan sirkulasi udara yang memadai.
Selain itu, Pemkab Bojonegoro juga membuka peluang pengembangan pasar tematik sebagai bagian dari agenda penataan pasar dalam jangka panjang.
Persoalan Pedagang Kaki Lima (PKL) turut menjadi perhatian dalam dialog tersebut. Dindagkop UM memastikan Pemkab telah menyiapkan titik-titik area ekonomi kerakyatan yang representatif.
Pemkab menilai keberadaan PKL memiliki peran penting dalam menggerakkan perekonomian masyarakat. Karena itu, penataan tidak semata-mata berorientasi pada ketertiban, tetapi juga harus memberikan ruang bagi masyarakat untuk tetap menjalankan aktivitas ekonominya.
“Kami sangat terbuka terhadap saran dan masukan dari masyarakat demi meningkatkan kenyamanan kota, khususnya pada kawasan pasar di Bojonegoro,” kata Akhmadi.
Melalui Sapa Bupati, Pemkab Bojonegoro berupaya membangun komunikasi dua arah dengan masyarakat. Pemerintah tidak hanya menyampaikan program dan kebijakan, tetapi juga mendengar langsung persoalan yang dihadapi warga.
Forum tersebut sekaligus menjadi sarana bagi Pemkab untuk mendapatkan masukan dari lapangan sehingga kebijakan yang diambil dapat lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Dengan tema “Menata Kota, Memudahkan Warga”, Sapa Bupati edisi VI menegaskan bahwa penataan kota bukan hanya tentang pembangunan fisik. Lebih dari itu, penataan diarahkan untuk menciptakan ruang publik yang nyaman sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Pemkab Bojonegoro berharap kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat terus diperkuat agar proses penataan kota berjalan baik dan memberikan manfaat nyata bagi warga. (Red/Lis)








