Oleh: Aning Wulandari, M.Pd.*)
SuaraBojonegoro.com – Tahun 2024 merupakan tahun pesta demokrasi Indonesia, karena sepanjang tahun 2024 masyarakat Indonesia dihadapkan pada kegiatan Pemilu (Pemilihan Umum), mulai Pemilihan Legislatif (Pileg), Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Jadwal Pileg dan Pilpres telah dilaksanakan pada tanggal 14 Februari 2024, sedangkan jadwal pilkada serentak akan dilaksanakan pada tanggal 27 November 2024.
Provinsi Jawa Timur termasuk daerah yang akan melaksanakan pilkada untuk memilih Gubernur dan Wakil Gubernur, dan Kabupaten Bojonegoro akan melaksanakan pilkada untuk memilih Bupati dan Wakil Bupati Bojonegoro. Berdasarkan data dari KPU Bojonegoro, bahwa jumlah pemilih di Bojonegoro sebanyak lebih dari 1 juta pemilih, dengan jumlah pemilih pemula sekitar 20% atau 200 ribu pemilih. Pemilih pemula adalah pemilih yang berusia di bawah 28 tahun. Sebagian besar pemilih pemula ini adalah siswa SMA/MA/SMK dan para mahasiswa. Dalam tulisan ini, yang dimaksud pemilih pemula adalah siswa SMA/MA/SMK.
Apa keterkaitan antara Pilkada, pemilih pemula dan Penguatan Profil Pelajar Pancasila?
Kita awali pembahasan kita tentang pembelajaran di SMA/MA/SMK yang sudah mengimplementasikan Kurikulum Merdeka (Kumer). Bahwa implementasi kurikulum Merdeka harus selaras dengan visi Pendidikan Indonesia, yaitu mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian melalui terciptanya pelajar Pancasila. Sehubungan dengan visi Pendidikan Indonesia, maka sekolah/madrasah harus melakukan penguatan profil pelajar Pancasila, yaitu pelajar sepanjang hayat yang kompeten, berkarakter dan berperilaku sesuai nilai Pancasila. Ada 6 dimensi profil pelajar Pancasila, yaitu: (1) beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berakhlak mulia; (2) berkebhinekaan global; (3) bergotong royong; (4) mandiri; (5) bernalar kritis dan (6) kreatif.
Penguatan profil pelajar Pancasila dilakukan dalam kegiatan intrakurikuler, kokurikuler maupun ekstrakurikuler. Kegiatan kokurikuler dilaksanakan dalam bentuk Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Khusus di madrasah, selain melaksanakan P5, juga melaksanakan Projek Penguatan Profil Pelajar Rahmatan Lil ‘Alamin (PPRA). Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila merupakan salah satu sarana pencapaian profil pelajar Pancasila, berupa pembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmu yang bertujuan mendekatkan pembelajaran dengan kehidupan nyata, sehingga pelaksanaannya harus kontekstual dengan memperhatikan ketersediaan sumber daya satuan pendidikan dan peserta didik.
Ada 8 tema P5 dalam pembelajaran di SMA/MA/SMK, yaitu: (1) gaya hidup berkelanjutan; (2) kearifan lokal; (3) Bhineka Tunggal Ika; (4) Bangunlah Jiwa dan raganya; (5) Suara demokrasi; (6) kewirausahaan; (7) Rekayasa dan teknologi; dan (8) kebekerjaan (khusus SMK/MAK). Khusus tema Suara Demokrasi, pengembangan P5 dapat berupa kegiatan Pemilihan Ketua OSIS, atau simulasi Pemilu. Dalam pelaksanaannya, siswa akan menyiapkan seluruh perangkat yang dibutuhkan untuk pemilihan ketua OSIS, mengikuti semua tahapan dan mengikuti semua peraturan yang berlaku.
Lalu, apa keterkaitan P5 tema Suara Demokrasi dengan Pilkada?
Jika selama ini para guru mengimplementasikan tema suara demokrasi dalam kegiatan pemilihan Ketua OSIS, sekarang saatnya para guru membekali siswa untuk benar-benar menggunakan hak pilihnya dalam memilih calon kepala daerah. Siswa SMA/MA/SMK adalah para pemilih pemula. Tahun ini merupakan momen pertama kali bagi para pemilih pemula menggunakan hak pilihnya dalam pilkada. Guru, Kepala Sekolah dan Kepala Dinas atau Kepala Kemenag mempunyai peran yang sangat penting dalam membekali peserta didik tentang pesta demokrasi ini.
Ada beberapa hal yang harus lakukan oleh para guru dalam menyiapkan siswanya untuk mengikuti pesta demokrasi Pilkada. Pertama, menanamkan kepada para siswa bahwa mereka harus menggunakan hak pilihnya untuk memilih salah satu calon yang sesuai dengan hati nuraninya alias jangan GolPut. Kedua, para guru tidak boleh melakukan pemaksaan atau pengkondisian untuk memilih calon tertentu. Ketiga, siswa turut berpartisipasi aktif dalam menjaga pilkada damai dengan tidak mudah terprovokasi untuk melakukan kekerasan, baik fisik maupun verbal. Keempat; tidak terpengaruh dengan money politik atau politik uang. Keempat hal tersebut diatas perlu disosialisasikan kepada para pemilih pemula. Kegiatan sosialisasi dapat dilakukan langsung oleh guru, mendatangkan narasumber, maupun berpartisipasi aktif dalam berbagai forum diskusi tentang Pilkada.
Namun dalam pelaksanaannya, guru mempunyai tantangan yang tidak mudah. Para pemilih pemula adalah generasi masa kini, yang biasa disebut gen Z yang notabene adalah pengguna utama ruang digital. Bagi para gen Z, tiada hari tanpa piranti gadget. Dengan kondisi psikologisnya yang masih labil, mereka mudah dipengaruhi, mudah percaya pada berita-berita yang belum dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, bahkan mudah tersulut emosi oleh provokasi. Ini menjadi tantangan bagi kita semua untuk membekali para siswa agar bijak menggunakan ruang digital, bijak dalam menerima informasi, tidak mudah terpengaruh hoax dan bijak dalam menggunakan hak pilihnya.
Mari bapak ibu guru, bersama-sama kita berikan pendampingan kepada para siswa sebagai pemilih pemula agar mereka dapat mengikuti pesta demokrasi dengan damai. Untuk para siswa, jika selama ini kalian melaksanakan P5 dengan tema Suara Demokrasi di sekolah, sekarang saatnya melaksanakan Suara Demokrasi di tingkat daerah (kabupaten dan provinsi). Gunakan hak pilihmu untuk memilih pemimpinmu. Jadilah Pemilih Pemula yang berjiwa Pancasila. Salam Pancasila.
*) Penulis adalah Pengawas Madrasah Aliyah Kemenag Kab. Bojonegoro








