Reporter : Lina Nur Hidayah
SuaraBojonegoro.com – Keberadaan Hasil proyek bangunan pelindung tebing sungai yang ambrol di perbatasan Desa Lebaksari, dan Tanggungan Kecamatan Baureno, kabupaten Bojonegoro ini membuat masyarakat setempat dan juga aktivis serta DPRD Bojonegoro harus mencari tahu apa penyebab dan kesalahan siapa sehingga bangunan yang bersumber dari APBD Bojonegoro yang menelan anggaran hampir Rp40 miliar tersebut ambrol dan mengalami kerusakan parah.
Anggota Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bojonegoro, Sukur Priyanto ketika dikonfirmasi belum mengetahui secara detail terkait ambrolnya bangunan pelindung tebing Sungai Bengawan Solo, yang berada di Desa Lebaksari dan Tanggungan, Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro bahwa pihaknya akan segera mengecek ke lokasi dan mencari informasi lebih detail terkait penyebabnya.
“Akan segera cek lokasi
dan mengundang pihak SKPD, konsultan dan lain-lain serta mencari tahu sebabnya karena apa,” Kata Sukur saat dikonfirmasi media SuaraBojonegoro.com melalui via WhatsApp, Senin (10/2/2025).
Sedangkan ketua Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Bojonegoro Imam Solikhin kepada awak media bahwa pihaknya juga akan melakukan klarifikasi terhadap dinas PU SDA Pemkab Bojonegoro terkait hal tersebut.
Dari data yang dihimpun media SuaraBojonegoro.com, bahwa Pembangunan pelindung tebing kali/sungai yang ambrol tersebut merupakan proyek dengan sumber pembiayaan APBD Tahun Anggaran 2024, dan baru selesai dikerjakan pada bulan Januari 2025 lalu.
Dari hasil pemenang Tender Hanya Turun Sekitar 3 Persen dari Pagu 40 M, Proyek Dinas PU SDA, akan tetapi hal itu, baru saja selesai pengerjaanya akan tetapi sudah ambrol dan mengalami kerusakan parah. Belum bisa dipastikan kejelasan apakah ada kekeliruan dalam teknis pembangunan atau kurangnya pengawasan dari pihak Dinas terkait saat proses pembangunan tersebut.
Pemenang tender berkontrak ini adalah PT Indopenta Bumi Permai yang beralamat di jalan Jemursari VII No.19 Surabaya Jawa Timur, dan menang diharga penawaran yang nilainya tidak jauh dari pagu, sesuai perkiraan hanya turun 2,702 persen dari pagu yakni Rp 38.612.395.876,56 setara dengan 97,288 persen.
Berbagai kritik bermunculan baik dari masyarakat setempat maupun dari pihak aktifis di Bojonegoro, baik perencanaan kegiatan dan juga pengawasan serta teknik pembangunannya.
“Jika memang karena alam, seharusnya bisa disesuaikan dan diperkirakan sebelumnya, baik perencanaan teknis seperti kedalaman tiang pancang dan lainnya, sehingga jika perencanaan dilakukan dengan baik maka hasilnya juga akan baik, begitu halnya dengan pengawasan,” Ujar Salah satu Warga DP kepada awak media ini.
Hal ini juga menjadi obrolan serius di Wathsapp Group yang meminta kepada Pemkab Bojonegoro serta Aparat Penegak Hukum di Bojonegoro untuk menindak lanjuti adanya proyek senilai hampir Rp40 Miliar tersebut yang sudah roboh setelah baru saja dibangun.
Melalui akun Tiktoknya Ketua FKMB Edi Susilo yang langsung turun lokasi juga mempertanyakan bagaimana proyek senilai hampir Rp40 miliar bisa ambrol dan kondisinya porak poranda dengan alasan karena alam, “Ini membuat kami sebagai warga Bojonegoro sangat kecewa dengan keberadaan hasil proyek yang seharusnya memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Apakah proyek ini tidak menggunakan analisa dan sebagainya kog bisa hancur seperti ini,” Ujar Edi Susilo dalam Akun Tiktoknya.
Edi Susilo juga menduga ada pekerjaan dalam proyek tersebut yang tidak sesuai spesifikasinya, sehingga dirinya meminta agar APH bisa turun dan menyelidiki ambrolnya proyek ini, ” Karena Saya Menduga proyek ini tidak sesuai speknya,” Tambah Edi.
Tampak dilokasi proyek tersebut masih ada material yang menumpuk dan juga bagian ujung juga tampak juga ada yang rawan ambrol akan ambrol.
Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (PU SDA) Kabupaten Bojonegoro, melalui Kepala Dinas PU SDA Bojonegoro, Heri Widodo memberikan klarifikasi dan membenarkan bahwa kejadian tersebut benar terjadi. Dalam keterangannya, mengatakan bahwa proyek pembangunan pelindung tebing kali lebak telah selesai pengerjaan pada bulan Desember 2024 lalu, namun pada awal tahun bulan Januari 2025, wilayah tersebut terjadi hujan dengan intensitas tinggi secara terus menerus sehingga menyebabkan banjir yang berdampak pada beberapa titik pelindung tebing kali lebak geser.
“Kami telah berupaya melakukan perbaikan dan pengendalian namun banjir kembali terjadi sehingga terjadi pergeseran lagi, kami sudah berusaha dan tetap akan benahi pelindung tebing tersebut secara maksimal,” Katanya. (Lin/Sas)








