Reporter : Waluyo Wahyu Utomo
SuaraBojonegoro.com – Nilai Tukar Petani (NTP) di Kabupaten Bojonegoro menunjukkan tren peningkatan setiap tahun sejak 2020 hingga 2023. Berdasarkan data Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Bojonegoro, NTP tercatat sebesar 105,26 pada 2020, 105,92 pada 2021, 106,10 pada 2022, dan 106,78 pada 2023. (Jumat, 31/10/2025)
Meski mengalami kenaikan berturut-turut, pada tahun 2024 Bappeda Bojonegoro tidak melakukan penghitungan NTP. Kepala Bappeda Bojonegoro, Achmad Gunawan Ferdiansyah, S.STP., menjelaskan bahwa hal tersebut disebabkan oleh fokus lembaga yang dialihkan pada penghitungan indikator makro lainnya, yakni kemiskinan ekstrem, indeks Gini, dan indeks Williamson.
“Tahun 2024 kami tidak menghitung NTP karena fokus diarahkan pada indikator makro yang lebih strategis untuk perencanaan pembangunan, terutama dalam konteks kemiskinan ekstrem dan ketimpangan wilayah,” jelas Achmad Gunawan
Achmad menambahkan, ketiga indikator tersebut menjadi prioritas utama Bappeda sebagai bagian dari penyusunan data dan analisis kesejahteraan masyarakat menjelang masa transisi pemerintahan daerah serta pemilihan bupati dan wakil bupati baru tahun 2025.
Meski sempat terhenti, Bappeda Bojonegoro memastikan bahwa penghitungan NTP akan kembali dilakukan pada tahun 2025, dengan dukungan anggaran yang telah disiapkan dalam program kerja tahun berjalan.
Sebagai informasi, Nilai Tukar Petani (NTP) merupakan salah satu indikator kesejahteraan petani yang menggambarkan kemampuan petani dalam menukar hasil produksinya dengan kebutuhan konsumsi dan biaya produksi. Nilai NTP di atas 100 menunjukkan bahwa petani mengalami surplus, yaitu ketika pendapatan lebih tinggi dibandingkan pengeluaran. (Why/red)








