SuaraBojonegoro.com – Kelompok 09 Kuliah Kerja Nyata Tematik Kolaboratif (KKNTK) Universitas Bojonegoro (Unigoro) berhasil mengungkap potensi sejarah yang tersembunyi di pedalaman Kabupaten Bojonegoro. Dalam survei lokasi perdana yang digelar pada Jumat (29/05/2026), tim mahasiswa menemukan Situs Jubung, sebuah infrastruktur kuno era kolonial Hindia Belanda yang berada di tengah kawasan hutan Desa Clebung, Kecamatan Bubulan.
Penemuan ini menjadi titik terang bagi pemetaan potensi desa yang dilakukan oleh mahasiswa. Jubung merupakan tungku pembakaran batu kapur raksasa berbentuk silinder vertikal. Berdasarkan pelacakan literatur dan dokumen sejarah Koloniaal Verslag tahun 1897, bangunan monumental ini diperkirakan resmi beroperasi sejak tahun 1895.
Ketua Kelompok 09 KKNTK Unigoro, Muchammad Irfan Kurniawan, mengungkapkan bahwa penelusuran ini berawal dari komitmen seluruh anggota tim untuk memetakan kondisi riil Desa Clebung, mulai dari infrastruktur, sosial-ekonomi, hingga kekayaan alamnya. Tak disangka, langkah kaki mereka membawa tim hingga ke pedalaman hutan dan menemukan jejak sejarah yang bernilai tinggi.
“Kami menyusuri kawasan pemukiman warga hingga masuk cukup jauh ke dalam hutan desa. Di sana, kami menemukan Situs Jubung ini. Menakjubkan melihat bangunan dari tahun 1895 masih berdiri, meskipun kondisinya membutuhkan perhatian khusus,” ujar Ketua Kelompok KKN-TK 09 saat memberikan keterangan, Jumat (05/06/2026).
Muchammad Irfan Kurniawan menjelaskan, berdasarkan data sejarah yang dihimpun timnya, Jubung di Desa Clebung ini dahulu memegang peranan vital dalam pembangunan infrastruktur skala besar di Jawa Timur. Sektor ini sengaja dibangun oleh pemerintah kolonial karena wilayah Bubulan, khususnya Clebung, memiliki kandungan mineral dan batu gamping (kapur) yang sangat melimpah.
“Tungku pembakaran ini dulunya difungsikan untuk memasok bahan perekat—yang fungsinya mirip semen pada masa itu—untuk mega proyek irigasi Bengawan Solo pada akhir abad ke-19. Jadi, Desa Clebung punya kontribusi besar dalam sejarah tata air di hilir Bengawan Solo,” tambahnya.
Meski memiliki nilai historis dan potensi edukasi yang luar biasa, Para Peserta KKN-TK Unigoro menyayangkan kondisi aksesibilitas menuju situs yang saat ini masih memprihatinkan. Infrastruktur jalan yang ada belum layak dan sama sekali tidak dapat dijangkau oleh kendaraan roda empat.
Selain masalah akses, tim mahasiswa juga mencatat adanya tantangan lingkungan di sekitar kawasan tersebut. Terjadi pergeseran fungsi lahan hutan yang kini mulai beralih menjadi area pertanian atau ladang garapan warga. Kendati demikian, vegetasi di titik utama berdirinya Jubung terpantau masih relatif asri dan alami.
Menutup keterangannya, [Nama Ketua Kelompok] menegaskan bahwa temuan survei perdana ini akan menjadi fondasi penting bagi program kerja Kelompok 09 KKNTK Unigoro selama mengabdi di Desa Clebung.
“Situs ini adalah aset berharga. Kami berharap program penelusuran ini bisa menjadi langkah awal untuk membuka mata banyak pihak, agar potensi sejarah Desa Clebung ini bisa dirawat, dikembangkan sebagai cagar budaya, dan ke depan mampu membawa dampak positif bagi ekonomi serta pariwisata masyarakat setempat,” pungkasnya. (Red*)








