SuaraBojonegoro.com – Ada pemandangan yang berbeda dalam ritual tahunan Sedekah Bumi (Manganan) di Desa Trenggulunan, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro pada Jumat Pon di bulan Suro ini. Di tengah hiruk-pikuk warga yang membawa jodang dan besek, tampak puluhan mahasiswa yang dengan antusias membaur dan ikut menyukseskan jalannya tradisi turun-temurun tersebut.
Mereka adalah mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik Kolaboratif (KKNTK) Kelompok 10 Universitas Bojonegoro (Unigoro). Kehadiran para akademis muda ini memberikan energi baru dalam ritual wujud syukur masyarakat atas melimpahnya hasil bumi selama setahun terakhir.
Rangkaian kegiatan adat yang sarat nilai religius dan gotong royong ini berlangsung selama dua hari penuh. Dimulai dengan pengajian pembuka di Balai Desa pada Kamis malam, puncak acara kemudian digelar pada Jumat siang pasca-salat Jumat. Warga berbondong-bondong membawa jodang—wadah kayu besar berisi aneka jajanan tradisional seperti krecek, opak, kucur, dan jadah—untuk dinikmati bersama. Seluruh prosesi khidmat ini ditutup dengan pengajian pamungkas pada Jumat malam.
Bagi mahasiswa KKNTK Kelompok 10 Unigoro, momen ini bukan sekadar program kerja visual, melainkan ruang belajar sosiokultural yang sangat berharga. Mereka menilai tradisi Manganan di Desa Trenggulunan memiliki fondasi nilai sosial, budaya, dan religius yang luar biasa kuat.
“Tradisi ini adalah identitas kuat Desa Trenggulunan. Kami melihat ada potensi besar yang bisa terus dikenalkan ke masyarakat luar. Keterlibatan kami di sini adalah bentuk nyata bahwa generasi muda, khususnya mahasiswa, siap menjadi jembatan pelestari budaya di era digital,” ujar salah satu perwakilan mahasiswa KKN Unigoro.
Apresiasi senada juga disampaikan oleh tokoh adat sekaligus perangkat desa setempat, Bapak Modin Yahmin. Beliau mengaku bangga melihat antusiasme para mahasiswa yang mau menyelami budaya lokal di tengah gempuran zaman modern.
“Tradisi Manganan ini sudah ada sejak zaman leluhur dan wajib digelar setiap Jumat Pon bulan Suro. Selain rasa syukur kepada Allah SWT, ini adalah perekat persaudaraan warga. Kehadiran anak-anak KKN Unigoro membawa harapan besar bagi kami agar estafet kelestarian budaya ini tidak putus di generasi muda,” tutur Modin Yahmin hangat.
Melalui sinergi antara kearifan lokal warga Trenggulunan dan semangat pengabdian mahasiswa KKN Unigoro, terselip doa dan harapan besar: semoga hasil pertanian di tahun-tahun mendatang semakin melimpah, kesejahteraan warga meningkat, dan harmoni budaya lokal tetap terjaga melintasi generasi. (Red)








