Reporter : Nurhidayah
SuaraBojonegoro.com – Maraknya isu yang viral di media sosial tentang kematian sapi di Desa Dukoh Kidul, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro yang diduga disebabkan oleh Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) ternyata belum jelas kebenarannya. Sabtu (11/01/25)
Hasil himpunan data media suarabojonegoro.com melalui Antok, salah satu Mantri Hewan Kecamatan Ngasem kepada Kepala Desa Dukoh Kidul, Sulibianto mengatakan bahwa sapi milik warga yang mati beberapa hari lalu bukan disebabkan oleh PMK.
“Satu sapi yang mati kemarin disebabkan oleh penyakit Hipokalsemia (kekurangan kalsium pada sapi),” terang Antok saat di hubungi Kades Dukoh Kidul lewat Telepon.
Dijelaskan lebih lanjut oleh Anton bahwa pada satu bulan lalu, kematian sapi juga disebabkan oleh penyakit
BEF (Bovine Ephemeral Fever) atau juga sering disebut dengan istilah Jawa “sambangen”, yang mana sapi mengalami demam 3 hari berturut-turut.
“Kebanyakan pedagang sapi membeli sapi yang sakit dengan harga yang murah, ” Katanya.
Mantri Hewan berharap masyarakat tidak usah risau dengan beredarnya kematian sapi yang belum jelas kebenarannya.
Ditemui terpisah, Kepala Desa Dukoh Kidul Sulibianto menjelaskan bahwa kematiam tiga ekor sapi yang ada di wilayahnya berjarak lebih dari satu bulan.
“Kami pihak Pemerintahan Desa sudah melakukan penyemprotan disinfektan pada kandang sapi yang ada di desa, ” Kata Kades Dukoh Kidul.
Pemerintah Desa juga akan terus memantau perkembangan dan berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk mengantisipasi maraknya isu kematian sapi. (Lin/red)








