Syiam Dan Qiyam Wujudkan Qaum Yang Shaum

Oleh : Drs H. Sholikin Jamik, SH. MH.

SuaraBojonegoro.com – Untuk mengungkap hikmah dari dipopulerkannya kata “shaum” dari pada kata “shiyam” yaitu dengan melihat fiil madhi kedua kata tersebut dan perbandingannya dengan kata lain berikut pembentukannya. Dalam hal ini, kata “shaum” dan “shiyam” berasal dari kata kerja lampau (fi’il madhi) yang sama yaitu “shaama”. Karena itu, persamaan dari “shaama” menjadi “shiyam” dan “shaum” juga dapat dibandingkan dengan kata yang lain. Hal ini sebagaimana pada kata “qaum” dan “qiyaam” yang sama-sama dibentuk dari kata “qaama”. Namun, saat kata ini dalam bentuk mashdar maka “qaum” bermakna kaum, sedangkan “qiyam” bermakna berdiri.

Qoum yang juga sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi “kaum” tersebut, menunjukkan kumpulan suatu komunitas manusia yang ajeg dan keberlangsungannya turun temurun hingga stabil sekian lama. Adapun “qiyam” yang artinya berdiri menunjukkan aktivitas setelah tidur atau duduk. Hal ini sebagaimana pada kata “qiyamu Ramadhan” yang dimaknai salat tarawih pada malam Ramadhan.

Dengan demikian, “qiyam” bersifat sementara karena tidak lama. Hal ini sebagaimana juga “shiyam” yang dibatasi sejak terbit fajar hingga terbenamnya mata hari, menahan makan dan minum, dan sebagainya. Adapun “shaum” lebih dari sekedar “shiyam”. Aktivitas puasanya tak hanya oleh indra namun juga disertai dengan puasanya mulut dan hati. Hingga hati selalu merasakan kehadiran Allah Yang Maha Satu yang hakiki, dan melihat selain Allah adanya secara majazi.

Karena itu, “shaum” lebih dipopulerkan dari pada “shiyam” oleh para ulama, juga mungkin dimaksud agar “shiyam” dapat berlanjut kepada “shaum”. Dengan demikian, Ramadan yang di dalamnya terdapat “shiyam” dan “qiyam” juga berbuah dapat mewujudkan “qaum” yang “shaum”. Aamiin. Wallahu a’lam bis showab. (**)