SuaraBojonegoro.com – Puluhan ribu jamaah dari berbagai kecamatan di Kabupaten Bojonegoro hingga sejumlah daerah tetangga memadati kawasan Masjid At-Taqwa Bojonegoro, Minggu (18/10/2026). Kehadiran mereka untuk mengikuti Milad ke-28 Pengajian Ahad Pagi Masyarakat Madani yang mengusung semangat istiqomah dalam menuntut ilmu dan memperkuat persaudaraan.
Sejak pukul 06.00 WIB, arus jamaah yang berdatangan menyebabkan kepadatan lalu lintas di Jalan Teuku Umar, Bojonegoro. Selain dari berbagai wilayah di Bojonegoro, jamaah juga datang dari Kabupaten Blora, Tuban, dan Lamongan.
Antusiasme jamaah membuat sejumlah area di kompleks Masjid At-Taqwa dipenuhi peserta, mulai dari lantai dua masjid, Aula At-Taqwa, halaman timur dan barat masjid, hingga sepanjang jalan, emperan toko, serta rumah warga di sekitar Jalan Teuku Umar.
Pengajian dalam rangka milad tersebut menghadirkan Ustaz Rifky Jafar Muntholib, dai nasional, yang menyampaikan tausiah kepada jamaah.
Ketua Panitia sekaligus Ketua Pengajian Ahad Pagi Masyarakat Madani, Drs. H. Sholikin Jamik, mengatakan bahwa peringatan milad ke-28 bukan sekadar perayaan usia, melainkan momentum untuk meneguhkan nilai istiqomah yang selama ini menjadi fondasi keberlangsungan pengajian.
“Esensi dari milad ini adalah memperingati keistiqomahan. Pengajian ini didirikan pada 20 Oktober 1998 dan selama 28 tahun tetap istiqomah, tidak pernah berhenti atau kosong. Setiap Ahad, pengajian dilaksanakan pukul 06.00 sampai 07.00 WIB,” ujar Sholikin Jamik.
Menurutnya, konsistensi waktu menjadi salah satu alasan pengajian tersebut terus diminati masyarakat. Pengajian yang berlangsung selama satu jam dan berakhir tepat pukul 07.00 WIB memberikan kepastian waktu bagi jamaah yang memiliki kegiatan lain setelahnya.
Ia mengungkapkan, tidak sedikit jamaah yang mengaku senang karena pengajian dimulai dan diakhiri tepat waktu. Dengan demikian, mereka tetap bisa mengikuti kegiatan keagamaan tanpa mengganggu agenda berikutnya.
Sholikin menjelaskan, keberlangsungan pengajian hingga memasuki usia 28 tahun juga tidak lepas dari motto yang dipegang, yakni “Menebar Salam, Memperkokoh Persaudaraan.”
Motto tersebut menjadi pedoman dalam menentukan tema-tema pengajian yang bersifat universal, menyejukkan, dan mendorong kehidupan beragama yang penuh kedamaian.
“Kami menghindari tema-tema yang hanya berkutat pada perbedaan atau khilafiah, kemudian saling menyalahkan dan merasa paling benar sendiri. Pengajian ini ingin mengajak jamaah memahami agama dengan hati yang lapang, memperkuat persaudaraan, serta menghargai sesama,” jelasnya.
Ia menambahkan, tema-tema yang disampaikan selama ini diarahkan untuk membangun ketenangan hati, menumbuhkan sikap rida terhadap takdir Allah SWT, serta melatih kesabaran dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.
Selain itu, pengajian juga mengajak jamaah menjauhi sifat-sifat negatif, seperti sombong, iri hati, dengki, kejengkelan, kemarahan, dan dendam terhadap orang lain.
Melalui pendekatan tersebut, Pengajian Ahad Pagi Masyarakat Madani diharapkan tidak hanya menjadi ruang untuk menambah ilmu agama, tetapi juga membentuk pribadi yang lebih baik serta mempererat hubungan sosial di tengah masyarakat.
Peringatan milad ke-28 ini juga diwarnai berbagai kegiatan sosial. Panitia menyediakan makanan dan bakso gratis bagi jamaah, dengan dukungan Lazismu Bojonegoro serta pihak-pihak lain yang turut berpartisipasi.
Selain itu, Rumah Sakit Aisyiyah Bojonegoro memberikan layanan pemeriksaan kesehatan gratis bagi jamaah yang hadir.
Rangkaian kegiatan tersebut menjadi wujud kepedulian sosial sekaligus memperkuat semangat berbagi yang sejalan dengan nilai-nilai persaudaraan.
Dengan perjalanan selama 28 tahun, Pengajian Ahad Pagi Masyarakat Madani terus berupaya menjaga konsistensi kegiatan, memperluas manfaat bagi masyarakat, dan menanamkan semangat beragama yang menyejukkan.
Momentum milad ini sekaligus menegaskan bahwa istiqomah, ketepatan waktu, dan komitmen menebar salam serta memperkokoh persaudaraan menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan dan antusiasme jamaah dari tahun ke tahun. (Rif/Red)








