Mengukir Spirit Bela Negara dari Kemenhan, Untuk Peran Pers Diera Digital Guna Pertahanan NKRI Non Militer 

Oleh: Sasmito Anggoro

 

SuaraBojonegoro.com – Di era di mana informasi bergerak lebih cepat daripada kepastian, peran pers sebagai pilar keempat demokrasi tidak lagi sekadar melaporkan peristiwa. Pers telah bertransformasi menjadi benteng pertahanan non-militer yang krusial. Menyadari hal tersebut, sebuah kolaborasi strategis terajut di kaki perbukitan Bogor. Sebanyak 162 wartawan yang merupakan punggawa pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dari Sabang sampai Merauke, berkumpul di Pusdiklat Kemenhan, Rumpin, pada 28 Januari hingga 1 Februari 2028.

 

Kegiatan retreat ini bukan sekadar seremoni formal, melainkan sebuah kawah candradimuka untuk menyelaraskan frekuensi intelektual antara insan pers dan strategi kedaulatan nasional.

 

Selama lima hari, para pemimpin redaksi dan tokoh pengurus PWI tingkat Provinsi ini menanggalkan sejenak atribut keseharian mereka. Di Rumpin, mereka menjalani rutinitas yang dirancang dengan disiplin militer namun tetap menghargai koridor sipil.

 

 

Resiliensi Mental di Tengah Disrupsi: Di tengah tekanan deadline dan hoaks yang mengepung ruang redaksi, suasana disiplin Rumpin memberikan kesempatan bagi wartawan untuk melakukan mental reset. Mereka dilatih untuk tetap tenang di bawah tekanan, sebuah kualitas yang sangat dibutuhkan saat mengelola isu-isu sensitif nasional.

 

Menanamkan Jiwa Korsa Nasionalis pada Wartawan yang seringkali bekerja secara soliter atau kompetitif. Di sini, melalui kegiatan kelompok yang intens, ego sektoral luruh menjadi semangat kolektif. Jiwa korsa yang terbentuk menjadi jaminan bahwa meski berbeda media, mereka memiliki satu komitmen tunggal dan integritas NKRI.

Baca Juga:  Tanah Longsor Akibat Hujan Deras

 

Pesan dari Menhan terhadap insan Pers Sebagai Senjata Nirmiliter

Momen krusial terjadi saat Menteri Pertahanan RI hadir memberikan orasi ilmiahnya. Di hadapan para peserta, Menhan menegaskan bahwa perang masa depan tidak lagi melulu soal mesiu dan baja, melainkan tentang narasi dan persepsi.

 

dalam paparan dan arahannya kepada peserta Retreat PWI bahwa Pers adalah kekuatan nirmiliter kita. Di tangan saudara-saudara, wajah bangsa ini dibentuk. Pena kita adalah senjata yang mampu membangun kebanggaan nasional sekaligus menangkal infiltrasi ideologi asing yang merusak.

 

Selain Menhan, hadir pula pakar komunikasi dan tokoh keamanan nasional yang membedah isu Ketahanan Siber. Mereka menyoroti bagaimana kecerdasan buatan (AI) dapat digunakan untuk memanipulasi opini publik, dan bagaimana wartawan PWI harus menjadi “filter kebenaran” di tengah tsunami disinformasi tersebut.

Rumpin: Simbol Konsolidasi Pikiran

Pemilihan Pusdiklat Kemenhan Rumpin sebagai lokasi kegiatan memiliki makna simbolis. Lokasi yang terisolasi dari keriuhan ibu kota memaksa para peserta untuk berkonsentrasi penuh pada substansi kebangsaan. Fasilitas ini menjadi ruang inkubasi bagi para pengurus PWI untuk merumuskan kembali arah jurnalisme yang tidak hanya kritis, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial dan edukasi terhadap wawasan nusantara.

Baca Juga:  Refleksi 348 Tahun Kabupaten Bojonegoro Perjalanan dan Kebangkitan Ekonomi di Tengah Geliat Industri

 

Menuju Jurnalisme yang Tangguh dan Bermartabat, sehingga dalam kegiatan Retreat ini memberikan perspektif baru bahwa menjadi kritis tidak harus berarti berseberangan dengan kepentingan negara. Sebaliknya, pers yang sehat adalah pers yang mampu mengoreksi pemerintah demi memperkuat sendi-sendi kebangsaan.

 

Kepulangan 162 pengurus PWI ke daerah masing-masing membawa “oleh-oleh” yang sangat berharga yaitu sebuah kesadaran bahwa di atas setiap berita yang mereka tulis, ada kepentingan nasional yang harus dijaga. Semangat Rumpin diharapkan menjadi virus positif yang menjalar ke seluruh anggota PWI di tingkat kabupaten dan kota di seluruh Indonesia.

 

Warisan dari Badikat Kemenhan di Rumpin, Kabupaten Bogor,

Ketika kegiatan ini berakhir pada 1 Februari 2028, yang tersisa bukan hanya kenangan tentang baris-berbaris atau diskusi senja, melainkan sebuah komitmen baru. Wartawan PWI kini bukan sekadar pencatat sejarah, melainkan penjaga narasi kedaulatan bangsa. (**)

 

*)Penulis Adalah Ketua PWI Kabupaten Bojonegoro dan juga Peserta Retreat Bela Negara dan Wawasan Kebangsaan Badiklat Kemenhan Bogor tahun 2026