Menanam Jiwa di Tanah Pembangunan

Refleksi Hari Jadi Bojonegoro ke-348

Oleh: Burhanudin Joe*

SuaraBojonegoro.com – Tahun ini Bojonegoro menapaki usia ke-348, sebuah perjalanan panjang yang menyimpan banyak cerita di setiap lekuk tanahnya. Dari masa ke masa, tanah di tepi Bengawan Solo ini tumbuh bersama keringat petani, deru sumur minyak, dan denyut pasar rakyat.

Pembangunan tampak di mana-mana: jalan yang kian lapang, kantor pemerintahan yang berdiri gagah, dan taman kota yang makin rapi menandai geliat baru Bojonegoro. Namun di tengah semarak pembangunan itu, ada satu ruang batin yang masih kosong, ruang yang seharusnya menjadi rumah bagi jiwa: “ruang kesenian”.

Sebagai penggiat budaya, saya menyaksikan sendiri bagaimana seniman-seniman Bojonegoro bertahan dan terus menyalakan api kreativitas di tengah serba terbatasnya ruang. Tak ada gedung kesenian yang dapat menjadi tempat mereka berlatih, berpentas, atau berpameran secara layak.

Kami masih menari di balai desa, menyanyi di panggung seadanya, melukis di dinding pinjaman, dan membaca puisi di ruang pertemuan. Namun dalam kesederhanaan itulah justru nyala semangat terus terpelihara. Dari ruang-ruang kecil itu, seni Bojonegoro tetap hidup, menyala, walau redup.

Baca Juga:  Sound of Record: Ajang Kolaborasi Komunitas Kreatif di Bojonegoro

Kerinduan itu saya tuangkan dalam puisi berikut, sebuah doa bagi lahirnya “paseban rasa” di tepi Bengawan, tempat di mana nada, warna, dan kata dapat bersemayam dalam cahaya yang sama.

…
PASEBAN RASA DI TEPI BENGAWAN
Karya: Burhanudin Joe

Di tanah karas minyak dan padi,
di tepi Bengawan yang setia berlari,
para seniman menabuh mimpi,
tentang rumah jiwa yang belum terlahir di bumi ini.

Kami menari di balai desa,
menyanyi di panggung seadanya,
lukisan tergantung di dinding pinjaman,
puisi bergema di ruang pertemuan.

Namun jiwa kami tak pernah layu,
meski panggung sering berpindah-pindah,
kami masih percaya, suatu waktu
akan terbit paseban rasa,
tempat nada, warna, dan kata
bersemayam dalam cahaya yang sama.

Oh Bojonegoro, dengarlah rintihan gamelan,
getar angklung, denting gitar,
suara wayang dan tembang sinden,
semuanya menunggu rumah
di mana seni tidak lagi singgah,
tapi menetap,
menjadi napas kehidupan kota.

Baca Juga:  Peringati Hari Puisi Nasional, Unusa Luncurkan Buku Puisi Karya Dosen

Mimpi ini kami titipkan pada angin,
kami anyam dalam doa,
semoga kelak lahir tempat suci rasa
yang tak hanya berdiri dari batu,
tapi dari cinta,
cinta pada warisan, pada masa depan,
pada jiwa yang tak ingin mati.

Copitalist – Bojonegoro, 7/10/2025
…
Puisi itu bukan sekadar keluhan, tetapi panggilan jiwa. Sebab membangun Bojonegoro tak cukup dengan beton dan aspal. Kita juga perlu membangun “jiwa dan rasa” tempat kebudayaan berakar dan peradaban bertumbuh.

Mungkin paseban rasa itu masih berupa mimpi. Namun mimpi itulah yang membuat kami tetap menyalakan obor kecil di setiap pentas, pameran, dan pertemuan.

Di momentum Hari Jadi Bojonegoro ke-348 ini, biarlah para seniman menyalakan satu harapan: semoga kelak lahir rumah bagi rasa, tempat seni tak sekadar hidup, melainkan juga menghidupkan banyak jiwa.
…..

*) Penulis adalah penggiat budaya dan pegiat komunitas seni di Bojonegoro.