MEMBANGUN MENTAL KAYA DIKALANGAN SANTRI

Oleh : Ibnu Khakim, MHI

SuaraBojonegoro.com – Stigma pesantren, masjid, madrasah dan lembaga Islam disekitar kita saat ini, sebagaian masih berkutat pada proposal, bantuan, sumbangan dan kosakata semacamnya yang terkonotasi sebagai sesuatu yang dalam istilah Rasul Saw sebagai “Yadus sufla” tangan di bawah, begitu melaksanakan pembangunan, tidak sedikit yang membuat wali santri atau masyarakat merasa ketar – ketir akan dilibatkan atau di kenai iuran dengan bahasa agama, baik shodaqoh jariyah, infaq, ataupun lainnya, bahkan lebih ekstrim lagi dibumbui janji – janji surga. Hal ini sebenarnya bukan semua salah, karena juga ada edukasi dan syi’ar mengajak kebaikan, namun apakah meminta-minta itu menjadi satu-satunya cara ?

Teringat kejadian di zaman Rasul Saw seperti dikutip dari buku Rasulullah Teladan untuk Semesta Alam (Raghib As-Sirjani, 2011). Suatu ketika ada seorang laki-laki dari kaum Anshar yang mendatangi Rasulullah Saw untuk meminta-minta. Rasulullah Saw tidak membentak dan menyuruhnya pergi. Pun tidak langsung memberinya uang.

Rasulullah Saw malah bertanya kepadanya tentang apa yang dimilikinya. Laki-laki dari kaum Anshar tersebut menjawab bahwa di rumahnya hanya ada sehelai kain kasar untuk selimut dan sebuah gelas untuk minum. Rasulullah Saw menyuruh laki-laki dari Anshar itu untuk mengambil dua benda yang dimilikinya itu. Rasulullah Saw lantas melelang dua benda itu. Salah seorang sahabat bersedia membayar satu dirham. Tidak puas dengan itu, Rasulullah Saw menawarkan kembali kain dan gelas tersebut. Lalu ‘harta’ laki-laki Anshar itu laku dua dirham.

“Belikan lah yang satu dirham makanan, lalu berikan kepada keluargamu. Lalu belikan lah satu dirham yang lain sebuah kapak, lalu bawakan kepadaku,” perintah Rasulullah sambil menyerahkan dua dirham kepada laki-laki peminta dari Anshar itu.
Beberapa hari kemudian, laki-laki Anshar itu datang kepada Rasulullah Saw dengan membawa kapak.

Baca Juga:  Teladan Keberanian dari Bung Hatta

Rasulullah Saw lalu mengikatkan sebatang kayu pada kapak tersebut. Maka jadilah ia kapan utuh. Laki-laki Anshar itu diperintah Rasulullah Saw untuk mencari kayu bakar dengan kapak itu, lalu menjualnya. “Pergilah, carilah kayu bakar dan jual lah. Dan aku tidak ingin melihatmu selama 15 hari,” titah Rasulullah Saw. Laki-laki dari Anshar itu menuruti semua perintah Rasulullah Saw. Ia pergi, mencari kayu bakar, dan menjualnya kepada masyarakat yang membutuhkan. Setelah 15 hari berlalu, ia baru menemui Rasulullah Saw dengan membawa uang 10 dirham dari hasil penjualan kayu bakar. Uang tersebut digunakan untuk membeli pakaian, makanan, dan kebutuhan lainnya. “Ini lebih baik untukmu dari pada engkau datang meminta-minta,” Sabda Rasulullah Saw.

Begitu cerdas cara Rasulullah Saw menghadapi pengemis. Beliau tidak mengusirnya secara langsung. Juga tidak langsung memberinya. Tetapi mendorong dan memotivasi agar pengemis itu menggunakan kemampuan dan keterampilannya untuk bekerja secara halal sehingga ia tidak meminta-minta lagi.

Ada sebuha kisah yang sangat masyhur dikalangan pesantren yakni kisah Abdurrmiman bin Auf salah seorang sahabat Nabi yang populer dalam sejarah Islam. Selain dikenal kaya raya, ia juga dermawan. Padahal waktu mula-mula hijrah ke Madinah dari Makkah, dia tidak mempunyai apa-apa. Siapa yang tidak terharu melihat Abdurrahman saat hijrah ke Madinah tahun 622 M. Dia datang tanpa bekal sedikit pun. Kekayaan yang dimilikinya, hanyalah pakaian yang melekat ditubuhnya. Oleh sebab itu Rasulullah segera mempersaudarakan Abdurrahman dengan Sa’ad bin Rabi, seorang hartawan di Madinah. Ternyata Sa’ad bin Rabi seorang hartawan yang sangat luhur budinya. Bahkan dia bersedia memberikan modal yang besar kepada Abdurrahman bin Auf. Bahkan, ia menawarkan perempuan di antara keluarganya untuk dijadikan istri.

”Terima kasih atas kebaikan Saudara. Semoga Allah membekati harta dan keluargamu,” jawab Abdurrahman sambil menjabat tangan teman tangannya. Lalu katanya lagi, ”Sekarang begini saja, tujukkanlah padaku, di mana letak pasar, biar aku berusaha sendiri‘!” begitu kira-kira jawaban Abdurahman atas tawaran itu.

Baca Juga:  Jaminan Keamanan Pangan Tinjauan Syariah

Di samping giat berdagang, Abdurrahman juga sibuk mengajar. Bahkan di medan perang pun tergolong perwira yang berani. Oleh sebab itu dia termasuk kelonpok al-asymh, yaitu: ”sepuluh orang termasyhur”. Di bidang pemerintahan, termasuk kelompok yang paling sering diajak berunding bersama-sama Rasulullah. Hasil usahanya di pasar, ia kemudian menjadi salah seorang sahabat Nabi yang kaya raya. Sebagaimana disebutkan sebelumnya, ia tidak pelit. Abdurtahman bin Auf menyumbangkan separuh dari kekayaannya. Nah, berapa jumlah sumbangannya? Uang 60.000 dinar, 500 ekor kuda dan 500 ekor unta, dan ”uang saku” sebanyak 400 dinar untuk tiap prajurit. Bukan main!

Itulah Abdurrahman bin Auf, seorang hartawan yang memulai usahanya dengan modal nol. Dia lahir tahun 581 M dan wafat tahun 652 M (tepatnya tahun 30 H) dalam usia 72 tahun.
Ternyata dari dua kisah teladan ini, ketidakmampuan tidak saja bertumpu pada kekurangan harta dan materi, namun lebih dari itu adalah persoalan mental dan paradigma, dengan bekal awal memahami diri sendiri, tidak meremehkan hal apapun, mengembangkan gagasan, menanggalkan gengsi dan pola hidup hemat, menghilangkan rasa malas dan berani mencoba, cerdas membaca peluang serta serius berdoa, kalangan pesantren lambat namun pasti akan bisa mandiri dan bahkan menjadi ”Yadul ulya” tangan di atas, predikat yang sangat dibanggakan oleh Rasul Saw dalam sabdanya : ” Tangan di atas lebih mulia daripada tangan di bawah.” (HR. Bukhari_Muslim). Semoga !

*) Penulis _Ibnu Khakim, MHI, _Intelektual Muda, Instruktur PBNU, Dosen dan Pengasuh Pesantren Salafiyah Raudlatul Muslimin yang berdomisili di Desa Sumberarum Kecamatan Ngraho Kabupaten Bojonegoro.