Membaca sebagai Ibadah Intelektual: Tafsir Sosial atas Wahyu Pertama

Oleh : Dr. Mukhamad Roni, S.E.,M.E.,Ak.,CA*

SuaraBojonegoro.com – Perintah pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW bukanlah tentang shalat, zakat, atau haji, melainkan sebuah kata yang sederhana namun sarat makna: Iqra bacalah. Kata ini, yang termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5, bukan sekadar instruksi literal untuk membaca teks, melainkan fondasi epistemologis bagi lahirnya peradaban Islam. Dalam konteks kekinian, perintah ini semakin relevan untuk ditafsirkan ulang sebagai panggilan membangun budaya literasi yang kuat sebagai manifestasi keimanan.

Membaca dalam perspektif Islam bukan aktivitas netral, melainkan bagian dari ibadah intelektual. Ia menjadi jembatan antara wahyu (teks ilahi) dan realitas (teks sosial). Dengan membaca, manusia tidak hanya mengakses pengetahuan, tetapi juga meneguhkan posisinya sebagai makhluk yang berpikir (ulul albab) dan bertanggung jawab atas peradaban. Namun, pertanyaannya: apakah budaya membaca telah benar-benar menjadi cerminan keimanan umat hari ini?

Iqra: Lebih dari Sekadar Membaca

Makna Iqra dalam tafsir klasik dan kontemporer menunjukkan dimensi yang luas. Ia tidak hanya berarti membaca tulisan, tetapi juga memahami, menelaah, mengkaji, bahkan “membaca” fenomena alam dan sosial. Dalam ayat lanjutan disebutkan bahwa Allah mengajarkan manusia dengan pena (qalam), simbol peradaban ilmu pengetahuan. Ini menunjukkan bahwa Islam sejak awal menempatkan literasi sebagai pilar utama peradaban. Maka, membaca bukan hanya aktivitas kognitif, tetapi juga spiritual. Ia adalah bentuk ibadah yang mengaktifkan akal sebagai anugerah Tuhan.

Sayangnya, dalam praktik kehidupan umat, semangat Iqra sering kali tereduksi menjadi ritual simbolik tanpa implikasi sosial yang kuat. Membaca belum menjadi budaya, melainkan sekadar aktivitas sesekali. Padahal, dari membaca lahir kesadaran, dari kesadaran lahir perubahan. “Perintah Iqra dalam QS. Al-‘Alaq: 1–5 bukan sekadar instruksi membaca, tetapi juga penegasan bahwa literasi adalah bagian dari ibadah. Bahkan, Allah menegaskan dalam QS. Al-Mujadilah: 11 bahwa derajat orang beriman akan ditinggikan melalui ilmu. Hal ini diperkuat oleh sabda Rasulullah SAW bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim”

Krisis Literasi dan Tantangan Keimanan

Fenomena rendahnya budaya membaca di Indonesia bukan sekadar asumsi, tetapi ditegaskan oleh berbagai data empiris. Laporan UNESCO menunjukkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia hanya sekitar 0,001%, yang berarti dari 1.000 orang, hanya 1 orang yang memiliki kebiasaan membaca serius. Ironisnya, angka ini berbanding terbalik dengan tingkat melek huruf (literacy rate) Indonesia yang tergolong tinggi, yakni sekitar 95,44%. Artinya, mayoritas masyarakat sebenarnya bisa membaca, tetapi belum menjadikan membaca sebagai budaya.

Data terbaru dari Badan Pusat Statistik tahun 2025 juga memperkuat hal ini. Indeks Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) Indonesia hanya berada di angka 54,8 poin, yang masuk kategori rendah.

Baca Juga:  MERDEKA ATAU DI PERBUDAK

Lebih jauh, survei nasional menunjukkan bahwa:

Hanya sekitar 10% masyarakat Indonesia yang benar-benar memiliki minat baca tinggi.

Pada anak usia dini, hanya 17,21% yang dibacakan buku oleh orang tua, dan sekitar 11,12% yang terbiasa membaca bersama keluarga.

Namun demikian, ada sedikit harapan. Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) mengalami peningkatan menjadi 73,52 poin pada 2024, naik dari tahun-tahun sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa kesadaran literasi mulai tumbuh, meski belum signifikan.

Di tingkat global, posisi Indonesia juga masih tertinggal. Dalam survei internasional, Indonesia berada di peringkat ke-100 dari 208 negara dalam hal literasi, masih di bawah beberapa negara ASEAN seperti Singapura dan Brunei.

Berbagai survei menunjukkan bahwa tingkat literasi masyarakat Indonesia masih tergolong rendah. Minat baca kalah oleh dominasi budaya visual dan instan, terutama di era digital. Informasi dikonsumsi secara cepat, tetapi tidak selalu dipahami secara mendalam. Akibatnya, muncul fenomena information overload tanpa diimbangi critical thinking.

Dalam konteks keimanan, kondisi ini patut menjadi refleksi serius. Sebab, iman dalam Islam tidak berdiri di atas kebodohan, melainkan pengetahuan. Banyak ayat Al-Qur’an yang menantang manusia untuk berpikir, merenung, dan mengambil pelajaran. Tanpa budaya membaca, proses ini menjadi timpang.

Lebih jauh, rendahnya literasi juga berdampak pada mudahnya masyarakat terpapar hoaks, radikalisme, dan disinformasi keagamaan. Ketika teks agama tidak dibaca secara utuh dan kritis, maka tafsir yang muncul bisa sempit, bahkan menyesatkan. Di sinilah pentingnya membaca sebagai ibadah intelektual bukan sekadar untuk tahu, tetapi untuk memahami secara benar.

Membaca sebagai Jalan Pembebasan

Sejarah Islam menunjukkan bahwa peradaban gemilang lahir dari tradisi membaca dan menulis yang kuat. Pada masa keemasan Islam, para ulama tidak hanya ahli agama, tetapi juga ilmuwan multidisipliner. Mereka membaca dunia dengan perspektif tauhid, sehingga ilmu pengetahuan berkembang tanpa kehilangan arah spiritual.

Tradisi ini melahirkan tokoh-tokoh besar yang karyanya menjadi rujukan dunia. Mereka menjadikan membaca sebagai jalan pembebasan dari kebodohan, keterbelakangan, dan ketergantungan. Dalam bahasa yang lebih kontemporer, membaca adalah bentuk empowerment pemberdayaan diri dan masyarakat.

Maka, ketika budaya membaca melemah, sesungguhnya yang melemah bukan hanya aspek intelektual, tetapi juga daya juang umat. Kita menjadi konsumen pengetahuan, bukan produsen. Kita lebih banyak menerima daripada mencipta.

Tafsir Sosial atas Iqra

Menafsirkan Iqra dalam konteks sosial berarti menjadikan membaca sebagai gerakan kolektif, bukan sekadar aktivitas individu. Ia harus hadir dalam keluarga, sekolah, pesantren, hingga ruang publik. Membaca harus menjadi habitus kebiasaan yang hidup dan mengakar.

Dalam keluarga, orang tua perlu menjadi teladan literasi bagi anak-anaknya. Dalam pendidikan, kurikulum harus mendorong pembelajaran berbasis eksplorasi dan pemahaman, bukan sekadar hafalan. Di ruang publik, akses terhadap bahan bacaan harus diperluas dan dimudahkan.

Baca Juga:  PUASA DAN KESEDERHANAAN SOSIAL

Lebih dari itu, membaca juga harus diarahkan pada pembentukan karakter. Apa yang dibaca akan mempengaruhi cara berpikir dan bersikap. Maka, literasi tidak boleh lepas dari nilai-nilai keislaman yang rahmatan lil ‘alamin.

Membaca di Era Digital: Tantangan dan Peluang

Era digital membawa dua sisi yang berbeda. Di satu sisi, ia mempermudah akses terhadap informasi. Ribuan buku, jurnal, dan artikel dapat diakses hanya dengan satu klik. Namun di sisi lain, ia juga menghadirkan distraksi yang luar biasa.

Budaya scroll menggantikan budaya membaca mendalam. Konten pendek lebih diminati daripada tulisan panjang. Ini menjadi tantangan besar dalam membangun budaya literasi yang berkualitas.

Namun, jika dimanfaatkan dengan bijak, teknologi justru bisa menjadi alat untuk menghidupkan kembali semangat Iqra. Platform digital dapat digunakan untuk menyebarkan pengetahuan, membangun komunitas literasi, dan mendorong diskusi intelektual yang sehat.

Kuncinya adalah pada kesadaran. Bahwa membaca bukan sekadar kebutuhan akademik, tetapi bagian dari ibadah. Dengan kesadaran ini, aktivitas membaca akan memiliki nilai spiritual yang mendorong konsistensi.

Menuju Peradaban Berbasis Literasi

Jika kita sepakat bahwa membaca adalah cerminan keimanan, maka membangun budaya membaca bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Ia menjadi agenda strategis dalam membangun peradaban. Peradaban yang kuat tidak lahir dari kekayaan sumber daya alam semata, tetapi dari kualitas sumber daya manusia. Dan kualitas manusia sangat ditentukan oleh sejauh mana ia berpikir, memahami, dan mencipta yang semuanya berawal dari membaca.

Dalam konteks ini, umat Islam perlu kembali kepada spirit wahyu pertama. Menjadikan Iqra sebagai gerakan peradaban. Membaca bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk kemajuan umat.

Renungan Untuk Kita

Wahyu pertama yang diturunkan kepada Rasulullah SAW adalah pesan yang melampaui ruang dan waktu. Ia bukan hanya relevan pada masa lalu, tetapi juga sangat kontekstual hari ini. Dalam dunia yang penuh dengan arus informasi, membaca menjadi kunci untuk tetap waras, kritis, dan beriman. Membaca adalah ibadah intelektual sebuah amal yang menghubungkan akal dan hati, ilmu dan iman. Ia adalah cermin dari kualitas keimanan seseorang. Semakin tinggi literasinya, semakin dalam pemahamannya, dan semakin bijak sikapnya.

Sudah saatnya kita tidak hanya mengagungkan Iqra sebagai simbol, tetapi menghidupkannya sebagai praktik. Sebab, dari membaca, lahir peradaban. Dan dari peradaban, terwujud kemuliaan umat. Jika tidak sekarang, kapan lagi? Jika bukan kita, siapa lagi?***

*) Penulis Adalah Dosen dan Praktisi Ekonomi dan Keuangan Syariah, Mentor AMEN (Asean Menthorshsip Enterpreneur Network)