Limbah Jadi Berkah: Program Gayatri Dorong Ekonomi Sirkular Peternakan Ayam Petelur di Desa Turi

SuaraBojonegoro.com – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) IPB University kembali menghadirkan inovasi berbasis potensi lokal melalui Program Gayatri, sebuah inisiatif pengelolaan peternakan ayam petelur yang terintegrasi dengan konsep ekonomi sirkular di Desa Turi, Kecamatan Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro.

Program ini berangkat dari realitas lapangan bahwa aktivitas peternakan ayam petelur di desa tersebut menghasilkan limbah organik berupa kotoran ayam dalam jumlah signifikan setiap harinya. Salah satu lokasi yang menjadi titik awal implementasi adalah kandang ayam milik Kumaidi, seorang peternak lokal yang selama ini menghadapi persoalan klasik peternakan, yakni penumpukan limbah kotoran ayam yang menimbulkan bau serta berpotensi mencemari lingkungan sekitar.

Sebelum Program Gayatri hadir, limbah kotoran ayam di kandang tersebut umumnya hanya dikumpulkan tanpa pengolahan lanjutan. Padahal, dengan jumlah ayam petelur yang dipelihara setiap hari, produksi limbah berlangsung secara terus-menerus dan belum memberikan nilai tambah ekonomi bagi peternak. Kondisi inilah yang kemudian mendorong mahasiswa KKNT IPB merancang solusi berbasis ekonomi sirkular yang sederhana namun aplikatif.

Limbah Peternakan sebagai Sumber Daya Baru

Melalui Program Gayatri, mahasiswa berupaya mengubah paradigma masyarakat bahwa limbah bukanlah akhir dari proses produksi. Kotoran ayam justru dimanfaatkan sebagai media budidaya larva Black Soldier Fly (BSF) atau maggot, organisme pengurai yang mampu mengolah bahan organik secara cepat dan efisien.

Tempat budidaya maggot dibangun menggunakan teknologi tepat guna dengan bahan yang mudah diperoleh masyarakat. Struktur utama dibuat dari kerangka bambu, dilengkapi dinding triplek, serta alas dari banner bekas yang dimanfaatkan kembali agar tahan terhadap kelembapan sekaligus mudah dibersihkan. Desain sederhana ini sengaja dipilih agar peternak dapat mereplikasi sistem secara mandiri tanpa biaya besar.

Budidaya ditempatkan langsung di bawah kandang ayam sehingga kotoran yang jatuh dapat langsung dimanfaatkan sebagai pakan larva. Tidak hanya itu, masyarakat juga diajak menambahkan sampah organik rumah tangga seperti sisa sayuran dan buah-buahan. Selain meningkatkan kandungan nutrisi maggot sehingga lebih kaya protein, langkah ini sekaligus membantu mengurangi volume sampah organik desa agar tidak seluruhnya berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).

Perubahan Nyata di Tingkat Peternak

Seiring berjalannya program, perubahan mulai dirasakan secara langsung. Limbah kandang tidak lagi menumpuk dalam waktu lama sehingga kondisi lingkungan menjadi lebih bersih dan nyaman.

Dalam kurun waktu sekitar 14–21 hari, maggot sudah dapat dipanen dan dimanfaatkan sebagai pakan tambahan ayam petelur. Meski tidak menggantikan pakan utama, keberadaan maggot membantu memberikan variasi nutrisi bagi ayam sekaligus menekan ketergantungan terhadap pakan komersial yang selama ini menjadi komponen biaya terbesar.

Peternak merasakan ayam menjadi lebih aktif dan kondisi produksi telur cenderung lebih stabil dibandingkan sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan limbah yang baik tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga mendukung efisiensi usaha peternakan

Dari Kandang ke Lahan: Siklus Ekonomi Sirkular Desa

Program Gayatri tidak berhenti pada produksi maggot. Residu hasil budidaya larva BSF atau kasgot dimanfaatkan sebagai pupuk organik yang kemudian diaplikasikan pada lahan pertanian jagung di Desa Turi. Pemanfaatan ini membantu meningkatkan kesuburan tanah sekaligus mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.

Siklus tersebut membentuk sistem produksi tertutup (closed-loop system), di mana limbah peternakan menjadi input sektor pertanian. Sebaliknya, limbah pertanian seperti tongkol jagung turut dimanfaatkan dalam program lain melalui produksi biochar dan briket. Integrasi ini mencerminkan penerapan ekonomi sirkular berbasis zero waste di tingkat desa.

Melalui pendekatan ini, kandang ayam tidak lagi sekadar tempat produksi telur, melainkan menjadi bagian dari ekosistem ekonomi desa yang saling terhubung antara peternakan, pertanian, dan pengelolaan sampah.

Teknologi Sederhana, Dampak Nyata bagi Masyarakat

Keunggulan Program Gayatri terletak pada penggunaan teknologi sederhana yang mudah diadopsi masyarakat. Mahasiswa KKNT IPB tidak hanya membangun sistem, tetapi juga melakukan pendampingan melalui diskusi dan praktik langsung agar masyarakat memahami manfaat jangka panjang pengelolaan limbah terpadu.

Respons masyarakat pun tergolong positif. Program ini dinilai mampu memberikan solusi praktis terhadap persoalan limbah sekaligus membuka peluang efisiensi biaya produksi peternakan.

Menuju Kemandirian dan Keberlanjutan Desa

Melalui pelaksanaan Program Gayatri, mahasiswa KKNT IPB berharap masyarakat Desa Turi dapat membangun sistem peternakan yang lebih mandiri, efisien, dan ramah lingkungan. Pengelolaan limbah berbasis ekonomi sirkular tidak hanya memperbaiki kualitas lingkungan, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat desa.

Ke depan, Program Gayatri diharapkan dapat terus dikembangkan dan direplikasi di wilayah agraris lainnya. Dengan memanfaatkan potensi lokal dan mengintegrasikan pengelolaan limbah dengan produksi pangan, limbah bukan lagi menjadi masalah, melainkan awal dari terciptanya nilai tambah dan keberlanjutan desa. (**)

 

 

Penulis : 

– Dafih Galih Anindya

– Nisrina Hanania Mumtaz

– Tim KKNT IPB University BOJONEGOROKAB02B