Lawan Banjir dengan Iman: MI Muhammadiyah 21 Kapas Hidupkan Ekoteologi Kemenag

SuaraBojonegoro.com – Madrasah Ibtidaiyah (MI) Muhammadiyah 21 Kapas tidak ingin nilai-nilai agama hanya berhenti di atas sajadah. Melalui gerakan Jumat Sehat dan Bersih yang digelar pada Jumat (13/2), sekolah ini membuktikan bahwa merawat bumi adalah manifestasi nyata dari ketakwaan.

Kegiatan ini merupakan respons cepat terhadap gagasan Ekoteologi yang diusung Menteri Agama RI. Sebuah konsep yang mengawinkan nilai religiusitas dengan aksi nyata pelestarian lingkungan di lingkungan pendidikan keagamaan.

 

Pagi itu diawali dengan syahdu. Lantunan ayat suci dalam sesi murajaah dan shalat dhuha berjamaah memenuhi masjid sekolah. Namun, ibadah tidak berhenti di sana. Usai mengasah rohani dan fisik melalui senam kesegaran jasmani, para siswa langsung “turun gunung” melakukan aksi fisik: membersihkan saluran air.

Bagi siswa MI Muhammadiyah 21 Kapas, membersihkan got bukan sekadar tugas sekolah. Trauma banjir yang sempat menggenangi sekolah akibat sumbatan sampah beberapa waktu lalu menjadi pemacu semangat yang luar biasa.

Baca Juga:  Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Sosialisasikan Keamanan Pangan di SMKN 5 Bojonegoro

“Anak-anak sangat bersemangat. Mereka merasakan sendiri dampaknya saat sekolah banjir. Hari ini, mereka belajar bahwa satu sampah yang dipungut adalah satu langkah menjauhkan bencana,” ujar salah satu guru pendamping.

 

Tak hanya membersihkan, para siswa juga sibuk menghijaukan Kampus 2. Berbagai bibit pohon produktif seperti kelengkeng, alpukat, dan jambu air ditanam di halaman sekolah. Di sudut lain, sayuran hijau mulai menempati bedeng-bedeng mini per kelas.

Kepala MI Muhammadiyah 21 Kapas, Muhammad Yusron, M.Pd, menegaskan bahwa ini adalah upaya membentuk karakter “generasi hijau”.

“Kami mengimplementasikan inisiatif Pak Menteri Agama. Kami ingin siswa sadar bahwa menjaga alam adalah bagian dari iman. Ini bukan sekadar bersih-bersih rutin, tapi integrasi nilai spiritual ke dalam perilaku sehari-hari,” tegas Yusron.

 

Sisi humanis muncul dari seorang siswa bernama Bagas. Sambil menepuk tanah di sekitar bibit pohon yang baru ditanamnya, ia berujar pelan namun penuh makna.

Baca Juga:  Tekankan Etika Digital, Polres Bojonegoro Kenalkan AI kepada Ratusan Pelajar

“Mungkin saat pohon ini berbuah nanti, kami sudah lulus. Tapi tidak apa-apa, ini untuk adik-adik kelas kami kelak,” ucapnya polos.

 

Ke depan, program ini tidak akan menjadi aksi sekali jalan. Pihak sekolah berencana menjadikan gerakan ini sebagai agenda bulanan. Bahkan, Muhammad Yusron membocorkan rencana besar untuk menggelar Perkemahan Madrasah (Permaidha) melalui ekstrakurikuler Hizbul Wathan dengan konsep ekoteologi.

“Bukan tidak mungkin kita berkemah sambil bersahabat dengan alam—menambah paru-paru dunia dengan pohon rindang dan membuat kebun produktif,” pungkasnya.

Melalui langkah kecil di hari Jumat ini, MI Muhammadiyah 21 Kapas sedang menyemai pesan besar: bahwa sekolah bukan hanya tempat membaca buku, tapi tempat belajar mencintai bumi ciptaan Tuhan. (Red/Lis)