Oleh: Dr. Mukhamad Roni, S.E., M.E.
SuaraBojonegoro.com – Setiap tahun, umat Islam di seluruh penjuru dunia memperingati Idul Adha dengan penuh suka cita. Tidak terlebih di Negara Tercinta Indonesia.Hari raya ini identik dengan ibadah kurban menyembelih hewan ternak sebagai simbol ketaatan kepada Allah SWT sekaligus bentuk solidaritas sosial kepada sesama manusia. Namun, jika dimaknai lebih mendalam, Idul Adha bukan hanya tentang ritual penyembelihan. Lebih dari itu, Idul Adha adalah momentum spiritual yang mengajarkan nilai fundamental: pengorbanan demi kemanusiaan.
Dalam dunia yang kian egoistik dan kompetitif, semangat pengorbanan menjadi barang langka. Masyarakat modern kerap terjebak dalam budaya individualisme yang menomorsatukan kepentingan pribadi, kelompok, atau golongan, bahkan dengan mengorbankan kepentingan publik. Di sinilah urgensi pesan Idul Adha menjadi sangat relevan. Ia hadir sebagai oase moral yang mengingatkan manusia untuk meletakkan nilai-nilai kemanusiaan di atas ego dan nafsu.
Kisah Ibrahim dan Ismail: Teladan Ketundukan dan Cinta
Kisah Nabiyullah Ibrahim Alaihi Salam dan Nabiyullah Ismail Alaihi Salam adalah poros utama dari peringatan Idul Adha. Ketika Nabi Ibrahim mendapat perintah untuk menyembelih putranya sendiri, ia tidak ragu atau menawar. Begitu pula Nabi Ismail, sang anak, tidak menolak atau melawan. Keduanya justru menampilkan puncak kepasrahan dan keikhlasan yang luar biasa. Namun yang menarik, pada akhirnya Allah menggantikan Ismail dengan seekor domba sebagai bentuk kasih sayang dan rahmat-Nya.
Kisah ini bukan tentang kekerasan atau pengorbanan membabi buta, melainkan tentang ketulusan dan ketaatan yang dilandasi cinta. Nabi Ibrahim Alaihi Salam rela mengorbankan yang paling ia cintai demi ketaatan kepada Tuhan. Ismail pun siap mengorbankan dirinya demi ridha-Nya. Di balik kisah itu, ada pesan universal: pengorbanan sejati lahir dari cinta, dan cinta sejati pasti menuntut pengorbanan.
Pengorbanan sebagai Instrumen Sosial
Jika kita tarik nilai pengorbanan ini ke dalam konteks sosial, maka kita akan melihat betapa pentingnya pengorbanan dalam membangun peradaban. Seorang guru yang mengajar di pedalaman dengan bayaran minim, seorang relawan yang membantu korban bencana, seorang ibu yang rela tidak makan agar anaknya bisa kenyang semua itu adalah potret pengorbanan yang nyata dalam kehidupan kita sehari-hari.
Dalam sistem ekonomi yang sering kali hanya menguntungkan segelintir orang, dibutuhkan keberanian untuk “berkorban” demi keadilan distribusi. Dalam dunia politik yang kerap penuh kepalsuan, dibutuhkan pemimpin yang rela mengorbankan popularitas demi kebenaran. Dalam masyarakat yang rentan konflik, dibutuhkan orang-orang yang mau mengorbankan egonya demi persatuan. Inilah bentuk nyata pengorbanan untuk kemanusiaan.
Kurban: Ritual dan Makna Sosialnya
Ibadah kurban sendiri memiliki makna sosial yang sangat dalam. Rasulullah SAW bersabda bahwa hewan kurban yang disembelih akan menjadi kendaraan bagi pemiliknya di akhirat. Namun yang tak kalah penting adalah makna horizontalnya: daging kurban dibagikan kepada tetangga, fakir miskin, dan masyarakat sekitar. Ini bukan hanya soal memberi, tetapi tentang membangun solidaritas.
Dengan berbagi daging kurban, tembok pemisah antara si kaya dan si miskin menjadi luluh. Idul Adha menciptakan ruang keadilan sosial, meski sesaat, di mana semua orang merasa dihargai dan diperhatikan. Dalam momen ini, kita diajarkan bahwa rezeki bukan untuk ditumpuk, tetapi untuk dibagi; bukan untuk dibanggakan, tetapi untuk dimanfaatkan demi kemaslahatan bersama.
Pengorbanan dalam Skala Nasional
Nilai pengorbanan juga relevan dalam pembangunan bangsa. Indonesia tidak lahir tanpa pengorbanan. Para pahlawan kita rela kehilangan harta, jabatan, bahkan nyawa demi kemerdekaan. Hari ini, tantangan bangsa berbeda, namun semangat pengorbanan tetap dibutuhkan. Kita membutuhkan aparatur negara yang rela melayani tanpa korupsi. Kita butuh pebisnis yang tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga menciptakan lapangan kerja. Kita butuh tokoh masyarakat yang bersuara untuk kebenaran, meski harus berhadapan dengan risiko.
Pengorbanan bukan soal kehilangan, tetapi investasi untuk masa depan bersama. Sebab, negara yang besar bukan hanya karena sumber dayanya melimpah, tetapi karena rakyatnya memiliki semangat untuk berkorban demi kebaikan yang lebih luas.
Idul Adha dalam Dunia yang Luka
Dunia hari ini sedang tidak baik-baik saja. Saudara kita di Palestina menghadapi peperang, kelaparan, ketimpangan sosial, krisis lingkungan semua ini menunjukkan betapa rendahnya nilai pengorbanan dalam kehidupan global. Jika setiap negara, korporasi, dan individu bersedia sedikit mengalah dan berbagi, niscaya banyak penderitaan bisa ditekan.
Sebagai contoh, bayangkan jika negara-negara kaya bersedia mengorbankan sebagian anggaran militernya untuk membantu pendidikan dan kesehatan negara miskin. Bayangkan jika perusahaan multinasional bersedia mengurangi margin keuntungannya demi upah buruh yang layak. Bayangkan jika setiap individu bersedia menyisihkan sebagian waktunya untuk kegiatan sosial. Maka dunia ini akan menjadi tempat yang lebih damai dan manusiawi.
Penutup: Menghidupkan Semangat Kurban Sepanjang Tahun
Idul Adha sejatinya bukan hanya satu hari perayaan, melainkan ajakan sepanjang tahun untuk menghidupkan nilai pengorbanan dalam berbagai aspek kehidupan. Mari kita jadikan semangat kurban sebagai sumber inspirasi untuk membangun keluarga yang saling peduli, masyarakat yang inklusif, serta bangsa yang berkeadilan sosial.
Saat kita mengorbankan ego, keserakahan, dan ketidakpedulian, saat itulah kita meneladani semangat Ibrahim dalam kehidupan nyata. Pengorbanan tidak selalu harus besar dan dramatis. Ia bisa dimulai dari hal sederhana: memberi waktu untuk mendengar, menyisihkan sebagian penghasilan untuk yang membutuhkan, atau memilih kejujuran meski terasa berat. Inilah kurban yang sesungguhnya kurban yang membentuk manusia baru: manusia yang tidak hanya bertakwa kepada Tuhan, tetapi juga peka terhadap sesama.
*Penulis adalah Dosen, Praktisi Indonesia Belajar & Mengajar, Peneliti Ekonomi dan Keuangan Syariah.








