SuaraBojonegoro.com – Musim panen raya tembakau mulai berlangsung di sejumlah desa di Kecamatan Sumberrejo, Kabupaten Bojonegoro. Meski hasil panen menjadi berkah bagi para petani, mereka mengaku belum sepenuhnya bisa menikmati keuntungan lantaran harga jual tembakau rajangan masih tergolong rendah.
Salah seorang petani tembakau asal Desa Sambongrejo, Kecamatan Sumberrejo, Satrio, mengatakan harga tembakau rajangan dari petikan daun pertama saat ini hanya berkisar antara Rp35 ribu hingga Rp38 ribu per kilogram.
“Untuk tembakau rajangan dari petik daun pertama harganya masih sekitar Rp35 ribu sampai Rp38 ribu per kilogram,” ujar Satrio, Jumat (7/8/2026).
Menurutnya, selain dipengaruhi harga jual yang belum memuaskan, kualitas pertumbuhan tanaman tembakau tahun ini juga tidak sebaik musim sebelumnya akibat faktor cuaca. Kondisi tersebut membuat sebagian petani memilih menunda panen awal sambil berharap harga membaik. Namun, tidak sedikit pula yang tetap menjual hasil panennya karena membutuhkan dana untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari maupun biaya produksi.
Di wilayah Sumberrejo, mayoritas petani memilih mengolah daun tembakau menjadi rajangan terlebih dahulu sebelum dijual. Setelah dipetik, daun dibawa pulang, dirajang, kemudian dijemur hingga kering agar memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan menjual dalam bentuk daun basah.
“Kami memilih menjual hasil rajangan karena harganya lebih tinggi dan hasilnya lebih maksimal,” tambahnya.
Meski demikian, petani berharap harga tembakau akan meningkat seiring memasuki puncak panen raya. Kenaikan harga dinilai sangat penting agar biaya produksi yang telah dikeluarkan selama masa tanam dapat kembali, sekaligus memberikan keuntungan yang layak bagi petani.
Selama ini, hasil tembakau rajangan dari petani di Kecamatan Sumberrejo umumnya dibeli oleh para tengkulak. Selanjutnya, tembakau tersebut disalurkan ke berbagai perusahaan pengolahan tembakau sebagai bahan baku industri.
Dengan panen raya yang mulai berlangsung, para petani berharap stabilitas harga tetap terjaga, bahkan meningkat, sehingga musim tanam tahun ini benar-benar menjadi berkah dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang menggantungkan hidup dari komoditas tembakau. (Sas*)








